Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi 2026, Fenomena Laut Ekstrem Berpotensi Ancam Pelayaran dan Wilayah Pesisir

Novica Satya Nadianti • Kamis, 12 Februari 2026 | 19:40 WIB

BMKG peringatkan potensi gelombang tinggi 2026 di perairan Indonesia yang berisiko terhadap pelayaran dan aktivitas masyarakat pesisir.
BMKG peringatkan potensi gelombang tinggi 2026 di perairan Indonesia yang berisiko terhadap pelayaran dan aktivitas masyarakat pesisir.

JAKARTA - BMKG mengeluarkan peringatan terkait potensi gelombang tinggi 2026 di sejumlah perairan Indonesia. Meski bibit siklon tropis dilaporkan mulai melemah, BMKG menegaskan bahwa ancaman gelombang tinggi 2026 masih perlu diwaspadai, terutama bagi aktivitas pelayaran dan masyarakat pesisir.

Peringatan mengenai gelombang tinggi 2026 muncul setelah adanya temuan ilmuwan terkait fenomena laut ekstrem yang berpotensi terjadi kembali di berbagai wilayah dunia. BMKG bersama para peneliti meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, angin kencang, serta gelombang laut yang bisa membahayakan keselamatan di perairan.

Fenomena ini berkaitan dengan hasil pengamatan satelit orbit bumi yang pernah mendeteksi gelombang laut setinggi 30 meter di Samudra Pasifik pada Desember 2024. Para ilmuwan menyebut fenomena tersebut berpotensi kembali terjadi dan menimbulkan dampak luas, termasuk kemungkinan memengaruhi kondisi laut di wilayah Indonesia.

Fenomena Laut Ekstrem Jadi Perhatian Ilmuwan

Berdasarkan analisis ilmiah, gelombang raksasa tersebut terbentuk akibat kombinasi badai besar, angin kencang, serta akumulasi energi di permukaan laut. Fenomena itu berkaitan dengan badai kuat yang dikenal sebagai Storm ED.

Pengamatan fenomena tersebut dilakukan menggunakan teknologi satelit melalui misi Surface Water and Ocean Topography (SWOT). Teknologi ini memungkinkan para peneliti memantau kondisi permukaan laut secara detail, termasuk pembentukan gelombang ekstrem.

Para peneliti mengingatkan bahwa gelombang laut ekstrem dapat terulang di masa mendatang dan berpotensi terjadi di berbagai belahan dunia. Meski pusat fenomena berada jauh dari Indonesia, dampaknya tetap dapat dirasakan, terutama pada aktivitas pelayaran jarak jauh, operasi lepas pantai, hingga infrastruktur kelautan.

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Laut

Menanggapi potensi fenomena tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan dini kondisi gelombang laut di wilayah perairan Indonesia pada periode 9 hingga 12 Februari 2026. BMKG juga mencatat adanya aktivitas gelombang Kelvin di wilayah Kalimantan Tengah yang turut memengaruhi dinamika cuaca laut.

Prakirawan BMKG, Gatot Devriantoro, menjelaskan pola angin di wilayah Indonesia bagian utara bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan 5 hingga 25 knot. Sementara di wilayah Indonesia bagian selatan, angin bergerak dari barat hingga barat laut dengan kecepatan 6 hingga 30 knot.

Menurut Gatot, kecepatan angin tertinggi terpantau terjadi di Laut Banda bagian selatan serta Laut Arafuru bagian tengah dan timur. Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan tinggi gelombang di sejumlah wilayah perairan Indonesia.

Daerah Berpotensi Mengalami Gelombang Tinggi

BMKG mencatat sejumlah wilayah berpotensi mengalami gelombang laut dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter. Wilayah tersebut meliputi Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, perairan Lampung, selatan Jawa Barat, hingga selatan Nusa Tenggara Timur.

Potensi gelombang serupa juga diperkirakan terjadi di barat Kepulauan Nias, perairan barat Bengkulu, Samudra Pasifik utara Maluku, Laut Arafuru bagian tengah, serta Selat Malaka bagian utara.

Selain itu, gelombang laut dengan ketinggian lebih tinggi, yakni 2,5 hingga 4 meter, berpeluang terjadi di Laut Natuna Utara. Kondisi ini dinilai berisiko terhadap keselamatan pelayaran, terutama bagi kapal berukuran kecil hingga sedang.

Wilayah lain yang berpotensi mengalami gelombang tinggi meliputi Samudra Hindia selatan Banten, selatan Jawa Timur, Selat Makassar bagian selatan, Samudra Pasifik utara Papua, serta perairan timur Laut Arafuru.

BMKG Imbau Masyarakat dan Pelaku Pelayaran Waspada

BMKG mengingatkan masyarakat, khususnya yang beraktivitas di sektor kelautan, untuk meningkatkan kewaspadaan. Peringatan ini ditujukan kepada operator kapal tongkang, kapal feri, kapal nelayan, hingga kapal kargo dan kapal pesiar.

Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir juga diminta memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan kondisi gelombang laut sebelum beraktivitas. Langkah mitigasi dianggap penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan laut maupun dampak bencana hidrometeorologi.

BMKG menegaskan bahwa meskipun fenomena gelombang ekstrem tidak selalu berdampak langsung ke seluruh wilayah Indonesia, dinamika atmosfer dan kelautan global tetap dapat memicu peningkatan gelombang di perairan nasional. Oleh karena itu, masyarakat diimbau terus memantau informasi resmi sebagai langkah antisipasi dini.

Editor : Novica Satya Nadianti
#bmkg #cuaca ekstrem laut