Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Eks Siklon Luana Melemah dan Bergerak Menjauh, BMKG Ingatkan Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Gelombang Tinggi Masih Berpotensi Terjadi

Novica Satya Nadianti • Kamis, 12 Februari 2026 | 19:50 WIB

BMKG ungkap dampak eks Siklon Luana, cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dan musim hujan diprediksi berlangsung hingga April 2026.
BMKG ungkap dampak eks Siklon Luana, cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dan musim hujan diprediksi berlangsung hingga April 2026.

JAKARTA - BMKG mengungkap perkembangan terbaru terkait eks Siklon Luana yang sebelumnya memicu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia. Meski eks Siklon Luana dilaporkan telah melemah dan menjauh dari wilayah Indonesia, BMKG menegaskan potensi cuaca ekstrem masih perlu diwaspadai masyarakat.

Prakirawan BMKG, Wahyu Argo, menjelaskan bahwa eks Siklon Luana sebelumnya terpantau berada di sebelah barat Australia. Sistem cuaca tersebut sempat memiliki tekanan udara sekitar 990 hektopascal dengan kecepatan angin mencapai 55 kilometer per jam di sekitar pusat siklon.

Namun, berdasarkan analisis terbaru, kondisi eks Siklon Luana saat ini sudah melemah menjadi sistem tekanan rendah. Selain itu, pergerakannya juga semakin menjauh ke arah tenggara sehingga dampaknya terhadap wilayah Indonesia mulai berkurang.

Siklon Tropis dan Dampaknya terhadap Indonesia

Wahyu menjelaskan siklon tropis merupakan sistem cuaca berskala besar yang terbentuk di perairan tropis hangat. Fenomena ini ditandai dengan tekanan udara rendah di pusat sistem, angin kencang yang bisa mencapai lebih dari 63 kilometer per jam, serta terbentuknya pusaran awan konvektif intens.

Menurutnya, siklon tropis yang terbentuk di sekitar Samudra Hindia maupun Samudra Pasifik bagian barat dapat memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap wilayah Indonesia.

Dampak tersebut meliputi peningkatan curah hujan, penguatan angin permukaan, serta peningkatan tinggi gelombang laut. Fenomena ini kerap memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga kecelakaan laut.

Potensi Cuaca Ekstrem Masih Terjadi

BMKG menyebut meskipun eks Siklon Luana telah melemah, potensi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi tersebut meliputi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir, angin kencang, serta gelombang tinggi di wilayah pesisir.

Dalam sepekan ke depan, BMKG memprediksi cuaca Indonesia secara umum didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah perlu mewaspadai potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada periode 27 hingga 28 Januari 2026.

Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua Pegunungan.

BMKG juga mencatat wilayah Jabodetabek secara umum masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang. Namun, terdapat kemungkinan hujan lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah pada 27 hingga 29 Januari 2026.

Gelombang Laut Masih Tinggi di Sejumlah Perairan

Selain potensi hujan ekstrem, BMKG mengingatkan adanya peningkatan tinggi gelombang laut di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Gelombang tinggi terpantau terjadi di Samudra Hindia mulai dari barat Lampung, selatan Pulau Jawa, hingga wilayah Nusa Tenggara Timur.

Ketinggian gelombang diperkirakan dapat mencapai 2,5 meter akibat pengaruh tekanan rendah dari sisa sistem eks Siklon Luana. Kondisi ini berisiko terhadap aktivitas pelayaran, khususnya bagi nelayan dan pekerja sektor kelautan.

Perubahan Iklim Berpengaruh terhadap Cuaca Ekstrem

BMKG juga menilai perubahan iklim berkontribusi terhadap meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem. Namun, Wahyu menegaskan perubahan iklim dan cuaca ekstrem merupakan dua fenomena berbeda dari sisi skala waktu.

Perubahan iklim terjadi dalam jangka waktu panjang, sedangkan cuaca ekstrem berlangsung dalam periode relatif singkat. Meski demikian, perubahan iklim dinilai turut memengaruhi kecenderungan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.

Musim Hujan Diprediksi Berlangsung hingga April

BMKG memprediksi musim hujan di Indonesia masih akan berlangsung hingga setidaknya April 2026. Curah hujan diperkirakan masih cukup tinggi di berbagai wilayah dalam beberapa bulan mendatang.

Seiring dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat melakukan langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana. Masyarakat diminta memastikan saluran air tidak tersumbat guna mencegah banjir serta mengamankan barang berharga ke tempat lebih tinggi.

Selain itu, masyarakat diimbau memperkuat bagian rumah yang rentan terhadap angin kencang, menghindari berteduh di bawah pohon atau papan reklame saat cuaca buruk, serta rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG.

BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya di wilayah rawan bencana. Pemerintah daerah diminta memastikan sistem drainase dan infrastruktur berfungsi optimal serta memperkuat koordinasi lintas instansi dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem.

Editor : Novica Satya Nadianti
#bmkg #prakiraan cuaca indonesia #cuaca ekstrem Indonesia #musim hujan 2026