JAKARTA - Longsor Cisarua Bandung Barat menelan korban jiwa dalam jumlah besar dan memicu kekhawatiran akan potensi bencana susulan. Hingga Selasa, 27 Januari, tim gabungan mencatat sebanyak 38 jenazah berhasil ditemukan di lokasi longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Sementara itu, puluhan korban lainnya masih dilaporkan hilang dan pencarian terus dilakukan.
Peristiwa longsor Cisarua Bandung Barat terjadi pada Sabtu dini hari ketika warga di Desa Pasir Langung, Pasir Kuning, dan Kampung Pasir Kuda tengah tertidur. Tiba-tiba suara gemuruh keras terdengar, disusul runtuhan tebing dari Gunung Burangrang. Dalam hitungan detik, puluhan rumah tertimbun material tanah dan batu, menyebabkan kerusakan parah di kawasan tersebut.
Kesaksian warga yang selamat menggambarkan situasi mencekam saat longsor terjadi. Salah seorang warga mengaku terbangun setelah mendengar benturan keras dua kali. Saat keluar rumah, material tanah sudah menutup akses di depan rumahnya. Ia kemudian berusaha menyelamatkan keluarga dengan berlari menuju lokasi lebih tinggi. Tak lama setelah evakuasi mandiri dilakukan, longsoran susulan kembali terjadi dan menghancurkan rumahnya.
Proses Evakuasi dan Kerusakan Meluas
Hingga beberapa hari setelah kejadian, proses pencarian korban longsor masih berlangsung intensif. Tim penyelamat menghadapi tantangan berat karena ketebalan material longsoran yang menutup tiga desa dengan luasan lebih dari 20 hektare. Kondisi tersebut membuat proses evakuasi memerlukan alat berat dan waktu yang tidak singkat.
Dampak dahsyat longsor Cisarua Bandung Barat juga terlihat dari citra satelit sebelum dan sesudah kejadian. Gambar tersebut menunjukkan perubahan kontur tanah secara signifikan, sekaligus memperlihatkan sejumlah permukiman di kaki Gunung Burangrang berada dalam kondisi rawan longsor susulan.
Ketakutan akan longsor susulan kini dirasakan warga yang masih tinggal di sekitar lokasi bencana, termasuk warga Kampung Cibud. Beberapa warga mengaku telah diminta aparat setempat untuk sementara mengungsi ke lokasi lebih aman, mengingat hujan masih terus mengguyur wilayah tersebut. Bahkan, sebelum longsor terjadi, warga sudah melihat tanda-tanda alam seperti robohnya tiang listrik dan tertimbunnya satu rumah akibat pergerakan tanah.
Badan Geologi Teliti Potensi Longsor Susulan
Merespons potensi bahaya lanjutan, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral segera melakukan penelitian lapangan. Tim peneliti memanfaatkan drone untuk memantau kondisi lereng Gunung Burangrang dan mengidentifikasi material tanah yang masih menggantung.
Penelitian tersebut bertujuan memastikan apakah masih terdapat endapan tanah yang berpotensi bergerak kembali dan memicu longsor susulan. Jika ditemukan potensi bahaya, pemerintah berencana melakukan relokasi warga dari zona rawan bencana. Sebaliknya, jika kondisi lereng dinyatakan stabil, pemerintah akan menetapkan batas wilayah ancaman longsor sebagai dasar penataan ruang.
Indonesia Rentan Bencana Hidrometeorologi
Ahli meteorologi Brain Ardi Arbain menilai peristiwa longsor Cisarua Bandung Barat menjadi sinyal peringatan bagi daerah lain di Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki curah hujan tinggi sehingga sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi, termasuk banjir dan tanah longsor.
Ia menegaskan bahwa persoalan bencana bukan hanya dipicu faktor cuaca, melainkan juga tata kelola ruang dan pembangunan infrastruktur. Kajian mengenai daerah rawan bencana sebenarnya telah lama tersedia, namun implementasi di lapangan dinilai masih lemah.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat peringatan tersebut. Sepanjang 2024, tercatat 218 kejadian tanah longsor di Indonesia dengan jumlah korban tewas mencapai 213 orang. Angka tersebut menjadikan longsor sebagai salah satu bencana paling mematikan, melampaui korban tewas akibat banjir yang mencapai 208 orang.
Tragedi longsor di Cisarua diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, khususnya di wilayah rawan longsor. Upaya mitigasi, penataan ruang, serta edukasi kebencanaan dinilai penting guna mencegah jatuhnya korban jiwa lebih besar di masa mendatang.
Editor : Novica Satya Nadianti