Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bencana Tanah Bergerak Tegal Semakin Parah, 1.686 Warga Mengungsi dan 464 Rumah Rusak, Relokasi Besar-Besaran Dipercepat

Novica Satya Nadianti • Kamis, 12 Februari 2026 | 20:05 WIB

Bencana tanah bergerak Tegal merusak 464 rumah dan memaksa 1.686 warga mengungsi. Pemerintah percepat relokasi ke lokasi aman.
Bencana tanah bergerak Tegal merusak 464 rumah dan memaksa 1.686 warga mengungsi. Pemerintah percepat relokasi ke lokasi aman.

JAKARTA - Bencana tanah bergerak Tegal masih mengancam keselamatan warga di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Pemerintah daerah bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini mempercepat relokasi ribuan warga yang terdampak demi mencegah jatuhnya korban jiwa akibat pergerakan tanah yang masih berlangsung.

Dampak bencana tanah bergerak Tegal memaksa ratusan keluarga meninggalkan rumah mereka. Warga Desa Padasari terlihat mengungsi sambil membawa barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Kondisi tanah yang terus bergerak membuat rumah warga mengalami kerusakan serius dan tidak lagi aman untuk ditempati.

Data terbaru menunjukkan bencana tanah bergerak Tegal telah merusak sebanyak 464 rumah warga. Selain itu, jumlah pengungsi tercatat mencapai 1.686 jiwa. Pemerintah menilai kondisi tersebut sangat berbahaya, terutama jika pergerakan tanah terus terjadi dan memicu longsor susulan.

Ribuan Warga Terpaksa Mengungsi

Situasi darurat membuat warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka dalam waktu singkat. Banyak warga hanya sempat menyelamatkan barang berharga dan kebutuhan pokok. Mereka kini mengandalkan tempat pengungsian sementara sambil menunggu kepastian relokasi permanen.

Pergerakan tanah yang terjadi di wilayah tersebut menyebabkan retakan besar pada permukaan tanah dan bangunan rumah. Beberapa rumah bahkan mengalami kerusakan total akibat struktur tanah yang tidak stabil. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tinggi di kalangan warga, terutama saat musim hujan masih berlangsung.

Pemerintah daerah menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, proses relokasi dipercepat agar masyarakat tidak kembali ke kawasan yang berpotensi mengalami bencana lanjutan.

Pemerintah Siapkan Tiga Lokasi Relokasi

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan tiga lokasi relokasi untuk warga terdampak. Lokasi tersebut berada di Desa Padasari, Desa Lebak Wangi, dan Desa Capar. Ketiga lokasi tersebut dipilih sebagai calon tempat hunian tetap bagi warga yang rumahnya sudah tidak bisa ditempati kembali.

Total lahan yang disiapkan untuk relokasi mencapai hampir 20 hektar. Pemerintah berharap lokasi baru tersebut memiliki kondisi tanah yang stabil serta aman dari ancaman bencana tanah bergerak di masa mendatang.

Namun, sebelum relokasi dilakukan secara penuh, tim teknis dari pemerintah provinsi masih melakukan kajian menyeluruh. Penelitian tersebut bertujuan memastikan kelayakan lahan, termasuk stabilitas tanah, sistem drainase, serta potensi risiko bencana lainnya.

Kajian Teknis Pastikan Hunian Aman

Kajian kelayakan lahan menjadi langkah penting agar relokasi tidak menimbulkan masalah baru. Pemerintah ingin memastikan lokasi hunian tetap benar-benar aman dan layak huni bagi warga terdampak.

Proses kajian melibatkan berbagai pihak, termasuk tim geologi dan perencanaan tata ruang. Pemeriksaan difokuskan pada potensi pergerakan tanah, daya dukung tanah terhadap bangunan, serta risiko bencana hidrometeorologi seperti longsor dan banjir.

Relokasi diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar warga dapat kembali menjalani kehidupan normal tanpa dihantui ancaman bencana. Pemerintah juga berkomitmen menyiapkan fasilitas pendukung seperti infrastruktur dasar, akses jalan, serta layanan publik di lokasi relokasi.

Ancaman Tanah Bergerak Masih Berlangsung

Bencana tanah bergerak sendiri merupakan fenomena geologi yang dipicu oleh kondisi tanah labil, curah hujan tinggi, serta perubahan struktur tanah akibat aktivitas manusia. Pergerakan tanah dapat berlangsung secara perlahan maupun tiba-tiba, sehingga sulit diprediksi dan berpotensi menimbulkan kerusakan besar.

Di wilayah Kabupaten Tegal, pergerakan tanah masih terpantau hingga saat ini. Hal tersebut menjadi alasan utama pemerintah mempercepat langkah mitigasi dan relokasi warga dari zona rawan bencana.

Selain relokasi, pemerintah juga terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras berlangsung dalam waktu lama. Warga diminta segera melapor jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah seperti retakan pada tanah, dinding rumah, atau jalan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Penataan ruang, pemetaan daerah rawan bencana, serta edukasi masyarakat dinilai penting guna meminimalkan dampak bencana di masa mendatang.

 

Editor : Novica Satya Nadianti
#bencana jawa tengah