JAKARTA - Fenomena tanah bergerak Tegal 2026 memicu kerusakan besar dan memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka. Peristiwa yang terjadi pada 2 hingga 7 Februari 2026 tersebut tidak hanya merusak ratusan bangunan, tetapi juga mengungkap ancaman geologi serius yang berpotensi terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Dampak fenomena tanah bergerak Tegal 2026 terbilang masif. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, tercatat sebanyak 596 rumah terdampak, dengan 464 rumah di antaranya dikategorikan tidak layak huni. Akibatnya, lebih dari 2.400 warga terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Pemerintah daerah pun langsung menetapkan status tanggap darurat sejak hari pertama kejadian fenomena tanah bergerak Tegal 2026. Langkah tersebut diambil guna mempercepat penanganan bencana sekaligus memastikan kebutuhan pengungsi terpenuhi.
Kerusakan Meluas dan Ribuan Warga Mengungsi
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah, Bergas Catur Sasi, mengungkapkan dampak kerusakan akibat pergerakan tanah di Kabupaten Tegal cukup luas. Selain merusak ratusan rumah, bencana tersebut juga mengganggu aktivitas warga karena banyak bangunan mengalami retakan hingga ambruk.
Menurut Bergas, relokasi menjadi solusi paling memungkinkan untuk warga yang rumahnya sudah tidak bisa ditempati kembali. Saat ini, pemerintah daerah bersama Pemerintah Kabupaten Tegal tengah mengidentifikasi lokasi relokasi yang aman dan layak huni.
Upaya relokasi dinilai penting mengingat potensi pergerakan tanah masih berlanjut. Tanah yang terus bergeser dapat memperparah kerusakan bangunan dan meningkatkan risiko keselamatan warga.
Berbeda dengan Longsor, Fenomena Ini Disebut Rayapan Tanah
Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Digo Rita Karnawati, menjelaskan bahwa peristiwa fenomena tanah bergerak Tegal 2026 berbeda dengan longsor pada umumnya. Pergerakan tanah di wilayah tersebut termasuk kategori rayapan tanah atau soil creep.
Rayapan tanah biasanya terjadi di lereng landai dengan kemiringan sekitar 10 derajat atau hampir datar. Berbeda dengan longsor yang bergerak cepat dan mematikan, rayapan tanah berlangsung perlahan. Namun, pergerakan lambat tersebut tetap berbahaya karena dapat merusak struktur bangunan secara bertahap.
Tanda awal rayapan tanah sering kali sulit dikenali. Biasanya ditandai dengan retakan kecil pada jalan, lantai rumah, atau dinding bangunan. Jika curah hujan meningkat, pergerakan tanah dapat berlangsung lebih cepat dan menyebabkan bangunan roboh.
Menurut Digo, meski rayapan tanah tidak langsung mematikan, kerusakan bangunan yang ditimbulkan tetap berisiko menimbulkan korban jiwa apabila bangunan runtuh dan menimpa penghuni.
Faktor Geologi Jadi Pemicu Utama
Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa fenomena tanah bergerak Tegal 2026 dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi dan kondisi geologi wilayah setempat. Wilayah terdampak diketahui memiliki lapisan lempung abu-abu kebiruan yang mengandung mineral monmorilonit.
Jenis tanah tersebut memiliki sifat mudah mengembang saat jenuh air, sehingga berperilaku menyerupai pasta gigi. Ketika lapisan tanah menjadi jenuh air akibat hujan, tanah akan mengalami deformasi dan memicu pergeseran permukaan.
Kondisi ini menyebabkan bangunan yang berdiri di atasnya menjadi tidak stabil. Lantai rumah dapat mengalami penurunan tidak merata, memicu retakan hingga keruntuhan bangunan.
Ahli geologi juga mengungkap bahwa tanah dengan kandungan monmorilonit tidak hanya ditemukan di Tegal. Jenis tanah serupa banyak ditemukan di berbagai wilayah Jawa seperti Karanganyar, Banjarnegara, Purworejo, Kebumen, hingga beberapa wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Relokasi Jadi Solusi Jangka Panjang
Upaya mitigasi seperti perbaikan drainase atau rekayasa teknik dinilai kurang efektif untuk jangka panjang pada wilayah dengan kandungan monmorilonit tinggi. Pergerakan tanah mungkin dapat dihentikan sementara, tetapi berpotensi kembali terjadi di masa mendatang.
Karena itu, relokasi menjadi pilihan utama pemerintah untuk melindungi warga dari ancaman bencana berulang. Saat ini proses identifikasi lahan relokasi masih berlangsung untuk memastikan lokasi baru memiliki kondisi tanah stabil dan aman.
Pemerintah berharap langkah relokasi dapat memberikan solusi permanen bagi warga terdampak sekaligus meminimalkan risiko korban jiwa akibat bencana serupa di masa mendatang. Fenomena tanah bergerak di Tegal juga menjadi peringatan penting bagi daerah lain agar lebih waspada terhadap potensi bencana geologi yang kerap luput dari perhatian.
Editor : Novica Satya Nadianti