TEGAL – Bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, masih terus terjadi dan berdampak luas terhadap permukiman warga. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 863 rumah rusak akibat tanah bergerak di Tegal, sementara ribuan warga terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Berdasarkan laporan dari lokasi di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, tanah bergerak di Tegal telah merusak ratusan rumah sejak Senin lalu. Warga bersama relawan masih melakukan evakuasi barang-barang yang masih dapat diselamatkan ke tempat yang lebih aman.
Selain rumah warga, bencana ini juga merusak sejumlah fasilitas sosial. Sedikitnya 21 fasilitas umum terdampak, termasuk tujuh musala dan masjid yang mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah.
Evakuasi Warga Masih Berlangsung
Hingga sore hari, proses evakuasi masih dilakukan secara intensif. Sejumlah relawan membantu warga menggunakan kendaraan khusus, termasuk mobil penggerak empat roda, untuk memindahkan barang dan membantu proses pengungsian.
Kerusakan parah terlihat di sejumlah rumah warga. Banyak bangunan mengalami keruntuhan mulai dari atap, dinding, hingga lantai. Bahkan, beberapa rumah dilaporkan roboh total akibat tekanan pergerakan tanah.
Kondisi di lapangan juga masih mengkhawatirkan. Pergerakan tanah dilaporkan belum sepenuhnya berhenti. Warga dan relawan masih mendengar suara retakan dari bangunan maupun tanah di sekitar permukiman.
Meski curah hujan di wilayah tersebut mulai menurun, pergerakan tanah masih terus terjadi. Hal ini membuat warga memilih bertahan di pengungsian karena khawatir terjadi longsor susulan.
Ribuan Warga Mengungsi di Delapan Titik
Data sementara menunjukkan sebanyak 2.461 warga terdampak bencana tanah bergerak di Tegal. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 warga saat ini masih bertahan di delapan titik pengungsian yang telah disiapkan pemerintah dan relawan.
Pengungsian tersebar di sejumlah lokasi yang dinilai aman dari potensi pergerakan tanah. Namun, kondisi di pengungsian mulai memunculkan berbagai persoalan kesehatan.
Pengungsi Mulai Terserang Penyakit
Seiring lamanya masa pengungsian, sejumlah warga mulai mengalami gangguan kesehatan. Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi keluhan paling banyak dialami pengungsi, terutama balita, anak-anak, hingga lansia.
Selain ISPA, beberapa warga juga dilaporkan mengalami penyakit kulit dan diare. Kondisi ini dipicu oleh lingkungan tenda pengungsian yang dinilai kurang ideal. Pada siang hari, suhu di dalam tenda terasa panas dan pengap, sementara pada malam hari suhu menjadi dingin.
Situasi tersebut membuat daya tahan tubuh warga menurun, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan orang lanjut usia.
Pos Kesehatan Disiagakan
Untuk mengatasi masalah kesehatan pengungsi, sejumlah pos kesehatan telah didirikan. Posko kesehatan tersebut melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, rumah sakit setempat, serta relawan tenaga medis.
Petugas medis memberikan pemeriksaan kesehatan rutin bagi pengungsi serta menyediakan obat-obatan dasar. Sementara itu, warga yang mengalami gangguan kesehatan serius akan dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Warga Diminta Tetap Waspada
Petugas dan relawan mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi pergerakan tanah susulan. Hingga saat ini, kondisi tanah di sejumlah titik masih labil dan berpotensi memicu kerusakan tambahan.
Pemerintah daerah bersama tim gabungan terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Proses pendataan kerusakan serta kebutuhan bantuan bagi korban bencana juga masih dilakukan.
Bencana tanah bergerak di Tegal menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana di wilayah rawan longsor. Selain penanganan darurat, pemerintah diharapkan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang serta kondisi lingkungan untuk mencegah bencana serupa terulang di masa mendatang.
Editor : Novica Satya Nadianti