Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Riset Terbaru Monash University: Terungkap Alasan Megathrust Sumatera-Andaman Lebih Berbahaya dari Jawa, Ternyata Ini Penyebabnya!

Natasha Eka Safrina • Jumat, 13 Februari 2026 | 19:10 WIB

Riset terbaru Monash University mengungkap alasan zona Megathrust Sumatera-Andaman lebih rawan gempa dahsyat dibanding Jawa. Cek fakta ilmiahnya!
Riset terbaru Monash University mengungkap alasan zona Megathrust Sumatera-Andaman lebih rawan gempa dahsyat dibanding Jawa. Cek fakta ilmiahnya!

JAKARTA - Selama puluhan tahun, para ahli geologi dunia bertanya-tanya mengapa zona Megathrust di wilayah Sumatera hingga Andaman jauh lebih sering memicu gempa kolosal dibandingkan wilayah selatan Jawa. Teka-teki besar tersebut akhirnya terjawab melalui studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi, Nature Communication, pada 28 November 2025.

Penelitian bertajuk "Bridging the Gap Between Subduction Dynamics and the Long Term Strength of the Sunda Megathrust" ini dipimpin oleh Prof. Fabio A. Capitanio dan Dr. Thyagarajulu Gollapalli dari Monash University, Australia. Hasil riset ini mengungkap mekanisme tersembunyi yang menempatkan wilayah Sumatera hingga Andaman dalam risiko bencana Megathrust yang jauh lebih besar di masa mendatang.

Menggunakan teknologi simulasi superkomputer tiga dimensi berperforma tinggi, tim ilmuwan memodelkan dinamika zona subduksi Sunda secara menyeluruh, mulai dari Kepulauan Andaman, Aceh, Sumatera Barat, Selat Sunda, hingga Bali. Model ini mengintegrasikan data pergerakan lempeng tektonik, kondisi geologi terkini, hingga deformasi kerak bumi yang terukur secara presisi.

Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas Gugat Status Tersangka Kasus Kuota Haji, Ajukan Praperadilan Lawan KPK di PN Jakarta Selatan

Peran Lempeng Jawa sebagai 'Jangkar' Tektonik

Hasil simulasi tersebut menunjukkan temuan yang mengejutkan. Ternyata, tarikan lempeng bumi yang menunjam jauh di bawah Pulau Jawa menjadi pengendali utama sistem tektonik di seluruh kawasan tersebut. Fenomena ini bekerja layaknya sebuah jangkar masif.

Gaya tarik dari lempeng di bawah Jawa mendorong tekanan tektonik kuat ke arah utara, yang kemudian menjangkau wilayah Sumatera hingga kawasan Andaman. Dampaknya, terjadi peningkatan tekanan oblique convergence dan penguatan kopling tektonik di sepanjang segmen tersebut. Hal inilah yang menjelaskan mengapa wilayah Sumatera dan Andaman berpotensi mengalami gempa Megathrust terkuat di dunia, melampaui prediksi teoritis sebelumnya.

Secara historis, teori lama menyatakan bahwa lempeng di Sumatera-Andaman termasuk kategori "muda" yang secara teknis seharusnya tidak memicu gempa sedahsyat peristiwa Tsunami 2004 silam. Namun, riset Monash University membuktikan bahwa beban besar di wilayah utara tersebut tidak hanya berasal dari faktor lokal, melainkan akibat distribusi energi dari aktivitas lempeng di bawah Jawa.

Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas Ajukan Praperadilan, KPK Tegaskan Penetapan Tersangka Sudah Sesuai Prosedur dan Alat Bukti Cukup

Selatan Jawa Sebagai 'Peredam' Gempa

Uniknya, riset ini juga menemukan sisi positif bagi wilayah selatan Jawa. Meskipun berada dalam jalur Megathrust, wilayah ini cenderung berfungsi sebagai "peredam" gempa besar. Gaya tekan yang amat kuat di selatan Jawa mengakibatkan bidang lempeng saling menghimpit sangat rapat.

Kerapatan ini justru membuat risiko munculnya patahan raksasa yang memicu gempa megah menjadi lebih rendah dibandingkan di bagian Sumatera-Andaman. Hal ini memberikan penjelasan ilmiah mengapa frekuensi gempa kolosal di selatan Jawa tidak sepadat di pesisir barat Sumatera.

Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa istilah "peredam" bukan berarti wilayah Jawa sepenuhnya aman. Tekanan tetap ada, namun karakteristik pelepasan energinya berbeda dengan wilayah Sumatera yang lebih rentan mengalami patahan besar secara berkala.

Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas Gugat Status Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji 2023-2024, Ajukan Praperadilan ke PN Jakarta Selatan

Langkah Penting untuk Mitigasi Bencana

Penemuan titik kritis pada kedalaman tertentu yang bertepatan dengan pusat gempa-gempa besar di masa lampau memberikan dasar fisik yang kuat bagi para ahli untuk memetakan risiko di masa depan. Temuan ini dianggap sebagai langkah krusial dalam upaya mitigasi bencana di Asia Tenggara, khususnya Indonesia yang dihuni oleh ratusan juta penduduk di sepanjang jalur Megathrust Sunda.

BMKG dan instansi terkait diharapkan dapat menggunakan basis data dari Monash University ini untuk memperbarui peta kerawanan bencana dan memperkuat sistem peringatan dini. Dengan memahami mekanisme perpindahan tekanan dari Jawa ke Sumatera, kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan dapat ditingkatkan secara lebih spesifik dan berbasis sains.

Para peneliti menegaskan bahwa meskipun teknologi belum bisa memprediksi waktu tepat terjadinya gempa, pemahaman mendalam tentang dinamika lempeng ini adalah kunci untuk menyelamatkan nyawa di masa depan. Edukasi mengenai bangunan tahan gempa dan jalur evakuasi harus terus digalakkan, terutama di wilayah-wilayah yang teridentifikasi memiliki tekanan tektonik paling besar menurut model simulasi terbaru ini.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG 12 Februari 2026: Hujan Lebat dan Angin Kencang Intai Banyak Wilayah, Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem

Editor : Natasha Eka Safrina
#Megathrust Sumatera #mitigasi bencana #monash university #gempa bumi