TEGAL – Potret memilukan terlihat jelas di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Bencana tanah bergerak di Tegal yang terjadi sejak awal Februari 2026 kini telah mengubah permukiman warga menjadi zona mati yang mencekam. Pantauan langsung di lokasi menunjukkan kerusakan bangunan yang sangat ekstrem, di mana lantai rumah warga amblas ke dalam tanah akibat struktur bumi yang terus bergeser secara dinamis.
Laporan terkini mencatat bahwa pergerakan tanah di wilayah ini masih berlangsung sangat aktif. Bahkan, getaran dan retakan dilaporkan terjadi hampir setiap menit, membuat kondisi bangunan yang masih berdiri menjadi sangat labil dan rawan roboh seketika. Hal ini memaksa tim jurnalis dan relawan untuk ekstra waspada saat mendekati area terdampak, mengingat risiko bangunan ambruk bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan.
Di salah satu rumah warga yang sempat dipantau, bagian tengah ruangan terlihat ambruk sepenuhnya ke bawah fondasi semula. Pintu-pintu rumah tidak lagi bisa ditutup karena kusen yang miring, sementara atap bangunan mulai copot satu per satu. Kondisi interior yang porak-poranda dan lantai yang pecah menjadi bukti nyata betapa kuatnya tekanan fenomena creeping atau rayapan tanah yang melanda kawasan Padasari.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Turun Signifikan, Terendah dalam Seminggu! Apa Penyebabnya?
Ribuan Jiwa Menanti Kepastian Hunian Sementara
Berdasarkan data terbaru dari pemerintah setempat, terdapat sekitar 550 Kartu Keluarga (KK) yang terdampak langsung oleh bencana tanah bergerak di Tegal ini. Angka tersebut mencakup ribuan jiwa yang kini harus menggantungkan hidup di posko-posko pengungsian. Rumah-rumah mereka telah dinyatakan tidak layak huni dan sangat berbahaya jika tetap dipaksakan untuk ditempati.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Tegal saat ini tengah bekerja cepat untuk mencarikan lokasi lahan yang stabil guna membangun Hunian Sementara (Huntara). Namun, proses ini memerlukan ketelitian tinggi agar lokasi baru nantinya tidak memiliki risiko geologi yang sama. "Setiap menit tanah masih bergerak. Fokus utama adalah menyelamatkan nyawa dan memastikan warga tidak kembali ke zona merah," ungkap otoritas setempat.
Kebutuhan Mendesak: Perlengkapan Bayi dan MCK
Meskipun pasokan logistik bahan pangan dilaporkan masih mencukupi berkat dukungan Dinas Sosial dan relawan, terdapat kebutuhan khusus yang mulai menipis di pengungsian. Warga sangat membutuhkan bantuan berupa popok bayi, susu formula, serta perlengkapan khusus untuk ibu menyusui dan lansia.
Selain itu, keterbatasan fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di titik-titik pengungsian mulai menjadi keluhan warga. Sanitasi yang kurang memadai dikhawatirkan dapat memicu masalah kesehatan baru bagi ribuan pengungsi. Hingga siang ini, warga masih terlihat berupaya menyelamatkan sisa-sisa harta benda mereka, seperti perabotan dan alat elektronik, di tengah ancaman tanah yang terus amblas.
Bencana tanah bergerak di Tegal ini menjadi duka mendalam bagi warga pesisir utara dan pedalaman Jawa Tengah. Harapan besar tertuju pada pemerintah agar pembangunan Huntara dapat segera direalisasikan. Warga membutuhkan kepastian tempat tinggal yang aman agar anak-anak mereka dapat kembali bersekolah dengan tenang dan para orang tua bisa kembali beraktivitas tanpa bayang-bayang rumah yang ambruk ditelan bumi.
Masyarakat luas diimbau untuk terus menyalurkan bantuan, terutama barang-barang kebutuhan khusus dan medis, melalui posko resmi yang telah ditunjuk. Kewaspadaan kolektif tetap menjadi kunci dalam menghadapi masa tanggap darurat yang masih berlangsung hingga pertengahan Februari 2026 ini.
Editor : Natasha Eka Safrina