RADAR TULUNGAGUNG - Peringatan serius terkait potensi siklon tropis April 2026 disampaikan Guru Besar Kebijakan Kehutanan IPB University, Dodik Ridho Nurrochmad. Ia memperkirakan kekuatan siklon yang berpotensi muncul tersebut bisa menyamai dahsyatnya Siklon Seroja yang pernah memicu bencana besar di Indonesia.
Dalam rapat bersama Komisi IV DPR RI pada 27 Januari, Dodik menegaskan bahwa prediksi siklon tropis April 2026 bukan sekadar ramalan tanpa dasar. Fenomena tersebut dinilai sebagai bagian dari pola cuaca ekstrem yang berpeluang berulang, sehingga pemerintah diminta segera memperkuat langkah mitigasi.
Menurutnya, kesiapan sebelum bencana terjadi menjadi kunci utama untuk menekan dampak kerusakan maupun korban jiwa. “Ini bukan sekadar prediksi, tetapi pola yang bisa saja berulang,” tegasnya.
Belajar dari Siklon Seroja
Siklon Seroja yang terjadi beberapa tahun lalu menjadi salah satu contoh nyata betapa dahsyatnya dampak badai tropis terhadap wilayah Indonesia. Bencana tersebut menyebabkan banjir bandang, longsor, serta kerusakan infrastruktur di sejumlah daerah.
Dodik mengingatkan bahwa potensi siklon tropis April 2026 harus dijadikan alarm dini agar pemerintah tidak terlambat mengambil langkah antisipasi.
Ia menilai, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa respons yang lambat sering kali memperbesar risiko bencana. Karena itu, strategi mitigasi harus dilakukan jauh sebelum musim cuaca ekstrem tiba.
Banjir Bandang Bisa Dipetakan Sejak Dini
Sebagai contoh, Dodik menyoroti peristiwa banjir bandang di Aceh Tamiang yang sebenarnya telah dipetakan melalui riset IPB sejak 2020. Penelitian tersebut sudah mengidentifikasi wilayah rawan serta potensi dampak yang mungkin terjadi.
Fakta bahwa bencana tetap terjadi menunjukkan pentingnya menjadikan hasil riset sebagai dasar kebijakan pembangunan dan tata ruang.
“Jika peta risiko sudah tersedia, maka langkah pencegahan seharusnya bisa dilakukan lebih awal,” ujarnya.
Penyebab Bencana Tak Hanya Alih Fungsi Lahan
Dalam penjelasannya, Dodik menekankan bahwa banjir bandang bukan hanya dipicu oleh alih fungsi lahan. Banyak faktor lain yang saling berkaitan dan memperbesar potensi bencana.
Beberapa di antaranya adalah tingkat kelerengan wilayah, jenis tanah, kondisi geologi, hingga curah hujan ekstrem. Kombinasi faktor tersebut dapat mempercepat aliran air dan memicu banjir secara tiba-tiba.
Ketika hujan berintensitas tinggi turun di daerah dengan lereng curam dan daya serap tanah rendah, air akan langsung mengalir ke permukaan tanpa sempat terserap. Situasi inilah yang kerap berujung pada banjir bandang.
Mitigasi Harus Jadi Prioritas Nasional
Menghadapi potensi siklon tropis April 2026, Dodik meminta pemerintah memastikan sistem mitigasi berjalan optimal. Hal ini mencakup penataan kawasan hulu, perlindungan hutan, serta pengendalian pembangunan di wilayah rawan bencana.
Selain itu, koordinasi lintas sektor juga dinilai penting agar penanganan bencana tidak berjalan parsial.
Para ahli menilai perubahan iklim turut meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem. Akibatnya, badai tropis berpotensi membawa curah hujan lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut dapat memperbesar risiko banjir dan longsor di berbagai daerah Indonesia.
Kesiapsiagaan Jadi Penentu
Dodik menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. Edukasi kebencanaan perlu diperkuat agar warga memahami langkah yang harus dilakukan saat peringatan dini dikeluarkan.
Mulai dari mengenali zona rawan, menyiapkan jalur evakuasi, hingga menjaga kelestarian lingkungan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko.
Ia juga mengingatkan bahwa bencana sering kali bukan semata-mata akibat faktor alam, tetapi juga karena kurangnya kesiapan manusia dalam menghadapinya.
Dengan prediksi siklon tropis April 2026 yang berpotensi seganas Seroja, momentum ini diharapkan menjadi pengingat bagi semua pihak untuk tidak menunda langkah pencegahan.
Kewaspadaan sejak dini diyakini dapat menyelamatkan banyak nyawa serta meminimalkan kerugian ekonomi ketika cuaca ekstrem benar-benar terjadi.
Editor : Rosana Mar'atu Solikah