RADAR TULUNGAGUNG - Target defisit 3 persen PDB kembali ditegaskan Presiden dalam pidato terbarunya.
Ia menyatakan bertekad menekan defisit hingga di bawah 3 persen PDB sebagai bentuk disiplin fiskal dan komitmen menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga membeberkan capaian Program MBG yang kini telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Presiden menilai target defisit 3 persen PDB bukan sekadar angka, melainkan simbol keberanian bangsa dalam mengelola keuangan negara secara sehat.
Menurutnya, bangsa Indonesia tidak boleh menyerah sebelum berjuang.
Ia mengakui pengendalian defisit bukan perkara mudah, namun harus tetap menjadi cita-cita besar yang dikejar bersama.
“Walaupun target itu sulit dicapai, kita harus berani. Kita harus menjadi bangsa yang berani, bukan bangsa yang menyerah,” tegasnya.
Komitmen Kurangi Kebocoran dan Tertibkan Birokrasi
Presiden mengungkapkan, setelah menjabat dirinya menemukan masih banyak kebocoran dan penghamburan anggaran negara.
Karena itu, ia berkomitmen menertibkan birokrasi dan menyelamatkan aset-aset negara.
Langkah pengetatan fiskal tersebut diyakini menjadi kunci untuk menekan defisit anggaran agar tetap berada di kisaran 3 persen PDB atau bahkan lebih rendah.
Ia menekankan, setiap rupiah uang negara harus benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat.
Upaya penyelamatan kekayaan negara dan reformasi birokrasi menjadi fondasi penting dalam menjaga kredibilitas fiskal Indonesia di mata global.
Presiden memastikan pemerintah akan terus bekerja keras memperbaiki tata kelola keuangan negara.
Program MBG Capai 60 Juta Penerima Manfaat
Selain bicara soal defisit 3 persen PDB, Presiden juga menyoroti capaian signifikan Program MBG.
Berdasarkan laporan Kepala BGN, program tersebut telah menjangkau 60 juta 200 ribu penerima manfaat.
Program MBG kini didukung 22.275 SPPG yang telah berkembang menjadi sekitar 23 ribu dapur layanan.
SPPG tersebut tersebar di 38 provinsi di seluruh Indonesia.
Presiden menggambarkan skala program tersebut setara dengan memberi makan seluruh penduduk Afrika Selatan setiap hari.
Bahkan, menurutnya, jumlah itu setara 10 kali populasi Singapura atau dua kali populasi Malaysia setiap hari.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Jangan Kebanyakan Protes MBG, Ekonomi Membaik dan Stabilitas Sosial Terjaga
Capaian ini disebut sebagai bukti bahwa program tersebut berjalan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Ia mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk peran Kepolisian Republik Indonesia dalam mendukung distribusi dan pengamanan program.
Tepis Keraguan dan Kritik
Dalam pidatonya, Presiden juga menyinggung kritik dan keraguan yang sempat muncul di awal pelaksanaan MBG.
Ia mengaku program tersebut sempat diramalkan gagal dan bahkan disebut sebagai bentuk penghinaan terhadap bangsa.
Namun, ia menegaskan bahwa tujuan utama MBG adalah menyelamatkan generasi muda dan memperkuat ketahanan sosial.
Menurutnya, tidak mungkin dirinya yang telah lama mengabdi kepada negara justru berniat merendahkan bangsa sendiri.
Presiden menyatakan siap membuktikan bahwa program tersebut mampu berkembang lebih besar lagi.
Ia optimistis jumlah penerima manfaat akan terus bertambah hingga menembus angka 80 juta.
“Sisa hidup saya untuk menyelamatkan dan membangun Republik Indonesia,” ujarnya.
Optimisme Menuju Stabilitas Fiskal dan Kesejahteraan
Penekanan pada target defisit 3 persen PDB dan keberhasilan MBG menunjukkan dua fokus utama pemerintah saat ini.
Pertama, menjaga disiplin fiskal melalui pengurangan kebocoran dan penertiban birokrasi.
Kedua, memastikan program sosial berjalan efektif dan menjangkau masyarakat luas.
Kombinasi keduanya dinilai penting untuk menciptakan stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat perlindungan sosial.
Di tengah tantangan global, langkah tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kehati-hatian fiskal dan keberpihakan pada rakyat.
Presiden pun menutup pernyataannya dengan ajakan untuk terus bekerja dan tidak gentar menghadapi kritik.
Baginya, keberanian menetapkan target, termasuk defisit 3 persen PDB, adalah wujud tekad untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan mandiri.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina