Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bursa Capres 2029 Muncul Terlalu Dini, Pengamat Ingatkan Prabowo Dua Periode Jangan Sampai Ganggu Kinerja

Divka Vance Yandriana • Minggu, 15 Februari 2026 | 16:15 WIB
Bursa Capres 2029 ramai dibahas, isu Prabowo dua periode mencuat. Pengamat ingatkan jangan ganggu fokus pemerintahan.
Bursa Capres 2029 ramai dibahas, isu Prabowo dua periode mencuat. Pengamat ingatkan jangan ganggu fokus pemerintahan.

JAKARTA – Bursa Capres 2029 mulai ramai diperbincangkan meski masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto baru berjalan sekitar 14 bulan. Isu Prabowo dua periode pun mencuat seiring tingkat kepuasan publik yang disebut-sebut menyentuh angka 80 persen.

Kemunculan bursa Capres 2029 ini memantik perdebatan. Apakah dinamika tersebut menjadi tanda demokrasi yang sehat, atau justru berpotensi mengganggu fokus pemerintahan dalam menuntaskan agenda nasional lima tahun ke depan?

Pengamat politik sekaligus Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, menilai pembahasan Prabowo dua periode terlalu dini untuk dibesar-besarkan. Menurutnya, Presiden masih memiliki waktu hampir empat tahun untuk membuktikan kinerja periode pertamanya.

“Berikan dulu waktu kepada Presiden untuk bekerja. Jangan diganggu ambisi-ambisi politik yang terlalu cepat mendorong dua periode,” ujarnya dalam diskusi politik yang disiarkan kanal YouTube Tribun News.

Baca Juga: BSU Kemenag Cair Rp270 Miliar untuk Guru Non Sertifikasi, Begini Cara Cek Status dan Mekanisme Pencairannya

Isu Dua Periode Berawal dari Internal Partai

Fernando menjelaskan, wacana Prabowo dua periode bermula dari kader internal Partai Gerindra tak lama setelah pelantikan presiden. Sejumlah partai lain seperti Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa kemudian ikut menyuarakan dukungan serupa.

Namun ia mengingatkan, dukungan politik seharusnya dibarengi dengan pembuktian kinerja nyata. Tingginya angka kepuasan publik, kata dia, tidak boleh membuat pemerintah terlena.

“Kalau saat ini kepuasan publik 80 persen, jangan langsung berpuas diri. Masih ada hampir empat tahun masa jabatan yang harus dibuktikan,” tegasnya.

Baca Juga: 11 Juta PBI Dinonaktifkan, Data PKH dan BPNT Dimutakhirkan! Ini Penjelasan Lengkap Soal Nasib Penerima Bansos

Kepuasan Publik dan Elektabilitas

Fernando mengakui, dalam banyak kasus, tingkat kepuasan publik memang cenderung berbanding lurus dengan elektabilitas. Artinya, jika kinerja presiden dinilai baik, peluang menang di Pilpres 2029 juga terbuka lebar.

Namun, ia mengingatkan bahwa tren survei bersifat dinamis. Program-program unggulan seperti makan bergizi gratis (MBG), bantuan sosial, hingga kebijakan penertiban kawasan hutan harus dievaluasi secara konsisten agar tidak menjadi bumerang politik.

Menurutnya, kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat—seperti polemik subsidi LPG 3 kilogram atau isu pertanahan—bisa menggerus tingkat kepuasan dan berdampak langsung pada elektabilitas Prabowo di masa depan.

“Kerja-kerja yang dianggap menyengsarakan rakyat akan menjadi bomerang. Evaluasi harus rutin dilakukan,” katanya.

Baca Juga: PKH BPNT Tahap 1 Cair Hari Ini! Daftar Daerah dan Bank Penyalur, Ada yang Terima Rp600 Ribu

Nama-Nama Baru di Bursa Capres 2029

Selain nama Prabowo, sejumlah tokoh mulai masuk dalam radar bursa Capres 2029. Di antaranya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, mantan gubernur Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, hingga Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Nama Menteri Pertahanan Syafri Syamsuddin juga disebut mulai diperhitungkan dalam sejumlah survei. Fernando menilai kemunculan menteri aktif dalam bursa capres perlu disikapi hati-hati.

Ia menyinggung pengalaman politik masa lalu ketika figur dari dalam kabinet justru menjadi rival dalam kontestasi pemilu. Karena itu, konsolidasi politik internal dinilai penting agar tidak muncul potensi friksi di kemudian hari.

Faktor Penentu Kenaikan Elektabilitas

Menurut Fernando, faktor utama yang menentukan naik turunnya elektabilitas adalah konsistensi kinerja dan keberpihakan kepada rakyat. Popularitas semata tidak cukup jika tidak dibarengi hasil nyata di lapangan.

Ia juga menekankan pentingnya mendengar aspirasi publik secara langsung, termasuk melalui media sosial, agar pemerintah tidak hanya bergantung pada laporan internal yang belum tentu mencerminkan kondisi riil.

“Presiden harus memastikan program benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat, bukan sekadar hasil rumusan elite,” katanya.

Jangan Ganggu Fokus Pemerintahan

Terkait kekhawatiran bahwa bursa Capres 2029 bisa mengganggu konsentrasi pemerintah, Fernando berharap hal tersebut tidak terjadi. Ia menilai dinamika politik adalah hal wajar dalam demokrasi, tetapi jangan sampai membuat pemerintah kehilangan fokus.

Menurutnya, justru hasil survei kepuasan yang tinggi seharusnya menjadi pemacu untuk bekerja lebih baik, bukan alasan untuk merasa aman. Targetnya, tingkat kepuasan publik harus terus meningkat, bahkan mendekati 90 persen.

“Kalau masyarakat puas, mereka sendiri yang akan meminta dua periode. Bukan partai yang sibuk mendorong sejak awal,” ujarnya.

Dengan waktu yang masih panjang menuju Pilpres 2029, peta politik dinilai masih sangat cair. Bursa Capres 2029 bisa saja berubah drastis tergantung pada dinamika ekonomi, stabilitas politik, serta konsistensi kinerja pemerintah dalam menjawab kebutuhan rakyat.

Editor : Divka Vance Yandriana
#elektabilitas prabowo #Prabowo dua periode #Pilpres 2029