JAKARTA – Nama Pramono Anung mulai disebut-sebut sebagai salah satu figur yang berpotensi meramaikan Pilpres 2029. Di tengah kuatnya elektabilitas Presiden Prabowo Subianto, kemunculan Pramono dinilai bisa menjadi penantang alternatif, meski peluang menang disebut tidak mudah.
Founder lembaga survei KedaiKOPI, Henri Satrio, menilai saat ini relatif sulit mencari figur yang benar-benar siap menumbangkan Prabowo pada 2029. Apalagi, sejumlah program pemerintah seperti makan bergizi gratis (MBG), Sekolah Rakyat, hingga Koperasi Merah Putih dinilai langsung menyentuh masyarakat dan mendongkrak tingkat kesukaan publik terhadap presiden.
“Biasanya tingkat kesukaan kepada presiden itu tinggi. Sejak era Susilo Bambang Yudhoyono belum pernah ada incumbent gagal dua periode,” ujar Henri dalam sebuah diskusi politik.
Baca Juga: BSU Kemenag 2025 Cair Rp600.000 per 2 Bulan, Begini Cara Cek Penerima dan Syarat Pencairannya
Maju untuk Menang atau Menabung Elektabilitas?
Henri menduga, jika ada tokoh yang maju melawan Prabowo pada 2029, besar kemungkinan tujuannya bukan semata menang, melainkan menabung elektabilitas dan popularitas untuk 2034.
Menurutnya, kontestasi Pilpres menjadi panggung nasional yang efektif untuk meningkatkan pengenalan publik. “Masuk kertas suara itu tidak gampang. Negara menyediakan panggung besar dan itu bisa jadi modal untuk pemilu berikutnya,” katanya.
Dalam konteks itu, nama Pramono Anung dinilai memiliki kalkulasi politik yang menarik. Sebagai kader senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan saat ini menjabat Gubernur DKI Jakarta, Pramono memiliki panggung jabatan yang bisa menopang popularitasnya.
Henri bahkan menyebut langkah maju pada 2029 bisa menjadi “transit” menuju target utama 2034. Artinya, sekalipun kalah, Pramono tetap memperoleh keuntungan politik jangka panjang.
Gaya Kalem Bisa Jadi Modal?
Berbeda dengan Prabowo yang dikenal orator berapi-api, Pramono dikenal bergaya teknokrat dan cenderung kalem. Ia bahkan pernah menyatakan hanya ingin menjabat satu periode lalu pensiun dari jabatan publik.
Namun Henri menilai pernyataan tersebut dalam politik selalu memiliki “koma”. “Politisi bilang mau pensiun, biasanya ada komanya. Kecuali rakyat meminta,” ujarnya.
Ia mencontohkan gaya kepemimpinan SBY yang tidak agresif di panggung, tetapi tetap mampu memikat pemilih. Menurutnya, karakter kalem tidak otomatis menjadi kelemahan.
“Orang Indonesia memilih bukan hanya karena suka, tapi bisa jadi karena tidak suka pada lawannya,” katanya.
Faktor Partai Jadi Pembeda
Jika dibandingkan dengan Anies Baswedan yang tidak memiliki partai sendiri, Pramono dinilai lebih diuntungkan karena berada di bawah naungan PDIP. Dukungan partai menjadi faktor penting dalam memastikan tiket pencalonan.
Henri menilai PDIP memiliki kultur penugasan yang kuat. Jika Ketua Umum Megawati Soekarnoputri memberi mandat, kader akan maju tanpa banyak resistensi.
Namun dinamika internal tetap menjadi variabel penting. Selain Pramono, ada nama seperti Puan Maharani dan Ganjar Pranowo yang juga memiliki basis dukungan kuat di internal partai.
Henri bahkan membuka kemungkinan Megawati sendiri kembali maju pada 2029. Jika itu terjadi, efek ekor jas (coattail effect) bagi PDIP dinilai sangat besar.
Skenario Koalisi dan Wapres Non-Partai
Dalam analisisnya, Henri juga menyoroti kemungkinan strategi Prabowo di periode kedua. Ia menilai Prabowo berpotensi memilih calon wakil presiden dari kalangan non-partai untuk menghindari penguatan partai lain menjelang 2034.
Ia mencontohkan praktik sebelumnya, seperti duet SBY dengan Boediono maupun Presiden Joko Widodo dengan Ma’ruf Amin yang bukan ketua umum partai.
Menurutnya, jika Prabowo menggandeng tokoh ketua umum partai, maka partai tersebut bisa mendapat keuntungan besar dan menjadi pesaing serius Gerindra di pemilu legislatif berikutnya.
Peta Masih Cair
Meski nama Pramono Anung mulai mengemuka, peta Pilpres 2029 masih sangat cair. Elektabilitas Prabowo yang tinggi membuat penantang harus berhitung matang.
Namun dalam politik, momentum bisa berubah cepat. Faktor ekonomi, stabilitas nasional, hingga dinamika internal partai akan menentukan arah kontestasi.
Apakah Pramono Anung benar-benar akan maju menantang Prabowo pada 2029, atau hanya menyiapkan langkah strategis menuju 2034? Jawabannya masih menunggu waktu.
Editor : Divka Vance Yandriana