Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Kesultanan Samudra Pasai: Awal Penyebaran Islam dan Pusat Perdagangan di Nusantara

Davina Ar Raafika • Minggu, 15 Februari 2026 | 18:55 WIB
Sejarah Kesultanan Samudra Pasai, pusat perdagangan dan dakwah Islam di Nusantara, dari masa kejayaan hingga keruntuhannya.
Sejarah Kesultanan Samudra Pasai, pusat perdagangan dan dakwah Islam di Nusantara, dari masa kejayaan hingga keruntuhannya.

 

ACEH – Sejarah Kesultanan Samudra Pasai menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Kerajaan yang terletak di pesisir timur Aceh ini dikenal sebagai pusat perdagangan sekaligus pusat dakwah yang berpengaruh besar pada abad ke-13 hingga ke-15.

Banyak buku pelajaran menyebut Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Namun sejumlah sumber sejarah, termasuk hikayat Melayu, menjelaskan bahwa sebelum berdirinya Samudra Pasai telah ada kerajaan Islam lain di wilayah Aceh, yaitu Kesultanan Perlak. Kerajaan inilah yang kemudian memiliki hubungan erat dengan berdirinya Samudra Pasai.

Masuknya Islam ke Perlak terjadi melalui jalur perdagangan. Para saudagar Muslim dari Arab, Persia, dan India singgah di pelabuhan-pelabuhan Aceh untuk mencari komoditas seperti kayu perlak yang terkenal berkualitas tinggi. Interaksi antara pedagang dan masyarakat setempat membuka jalan bagi penyebaran ajaran Islam secara damai.

Berdirinya Samudra dan Peran Sultan Malik al-Saleh

Tokoh penting dalam sejarah Samudra Pasai adalah Sultan Malik al-Saleh, yang sebelumnya dikenal sebagai Merah Silu. Ia memeluk Islam setelah bertemu ulama dan kemudian mendirikan kerajaan Islam baru di wilayah Samudra sekitar tahun 1267 Masehi.

Sebagai raja pertama, Sultan Malik al-Saleh mengembangkan pelabuhan dan menjadikan wilayahnya pusat perdagangan. Letaknya yang strategis di jalur Selat Malaka membuat kapal dagang dari berbagai negara sering singgah. Aktivitas perdagangan yang ramai mempercepat penyebaran Islam karena para pedagang dan ulama turut berdakwah kepada masyarakat setempat.

Setelah wafatnya Sultan Malik al-Saleh pada 1297, kekuasaan dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Malik az-Zahir I. Pada masa pemerintahannya, wilayah Samudra diperluas hingga Pasai dan akhirnya digabungkan dengan Perlak serta beberapa kerajaan kecil di sekitarnya. Sejak saat itu, kerajaan tersebut dikenal sebagai Kesultanan Samudra Pasai.

Pusat Perdagangan dan Dakwah Islam

Kesultanan Samudra Pasai berkembang pesat berkat perdagangan internasional. Komoditas utama yang diperdagangkan antara lain lada, emas, kapur barus, dan sutra. Bahkan kerajaan ini telah mencetak mata uang emas sendiri untuk mempermudah transaksi.

Kemajuan ekonomi tersebut turut mendorong perkembangan pendidikan dan dakwah Islam. Samudra Pasai menjadi tempat berkumpulnya ulama dan pusat pengajaran agama, sehingga pengaruh Islam semakin meluas ke berbagai wilayah Nusantara.

Bukti kejayaan Samudra Pasai juga tercatat dalam catatan perjalanan Ibnu Battuta, seorang penjelajah asal Maroko yang berkunjung pada abad ke-14. Ia menggambarkan kerajaan tersebut sebagai pusat perdagangan yang ramai serta masyarakat yang kuat memegang ajaran Islam.

Masa Kejayaan dan Kepemimpinan Ratu

Seiring berjalannya waktu, Samudra Pasai dipimpin oleh sejumlah sultan yang membawa kerajaan mencapai puncak kejayaan. Salah satu tokoh menarik dalam sejarahnya adalah Ratu Nahrasiyah, yang dikenal sebagai pemimpin perempuan pertama di kerajaan tersebut.

Dalam masa pemerintahannya, stabilitas politik dan ekonomi tetap terjaga, sementara pembangunan masjid dan pusat pendidikan Islam terus berkembang. Peran perempuan dalam kegiatan dakwah juga semakin terlihat pada masa ini.

Kemunduran dan Akhir Kekuasaan

Memasuki abad ke-15, kondisi Samudra Pasai mulai melemah. Salah satu penyebabnya adalah perubahan jalur perdagangan yang beralih ke Kesultanan Malaka. Pelabuhan Samudra Pasai yang mulai dangkal membuat kapal-kapal besar lebih memilih berlabuh di Malaka.

Kemunduran ekonomi berpengaruh pada stabilitas politik kerajaan. Situasi semakin sulit ketika kekuatan Eropa mulai memasuki kawasan Asia Tenggara. Pada 1511, Malaka jatuh ke tangan Portugis di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque, yang kemudian memperluas pengaruhnya ke wilayah sekitar, termasuk Samudra Pasai.

Pada awal abad ke-16, kekuasaan Samudra Pasai akhirnya berakhir setelah wilayahnya dikuasai oleh Kesultanan Aceh Darussalam yang berhasil mengusir Portugis dan mengambil alih wilayah tersebut pada 1524.

Warisan Sejarah

Meski kekuasaannya berakhir, pengaruh Samudra Pasai tetap terasa. Kerajaan ini meninggalkan warisan penting berupa perkembangan perdagangan, pendidikan Islam, serta jaringan ulama yang menyebarkan dakwah ke berbagai daerah, termasuk ke Pulau Jawa.

Para sejarawan menilai bahwa peran Samudra Pasai sebagai pusat perdagangan dan dakwah menjadikannya salah satu kerajaan paling berpengaruh dalam sejarah awal Islam di Indonesia.

Editor : Davina Ar Raafika
#Kesultanan Aceh #Sultan Malik al Saleh #Sejarah Peradaban Islam #samudra pasai #Kerajaan Islam Indonesia