Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Irwan Dermawan Bakrie dan Antoni Salim Terungkap sebagai Penerima Manfaat Akhir Saham BUMI, Sinyal Kuat Kebangkitan Bumi Resources?

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Senin, 16 Februari 2026 | 14:30 WIB
Irwan Dermawan Bakrie dan Antoni Salim resmi jadi penerima manfaat akhir saham BUMI. Tekanan jual asing mereda, prospek saham makin cerah. Pinterest
Irwan Dermawan Bakrie dan Antoni Salim resmi jadi penerima manfaat akhir saham BUMI. Tekanan jual asing mereda, prospek saham makin cerah. Pinterest

Radar Tulungagung - Saham BUMI Resources kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah identitas penerima manfaat akhir saham BUMI akhirnya terungkap secara resmi. Dua nama besar, Irwan Dermawan Bakrie dan Antoni Salim, kini tercatat sebagai ultimate beneficial owner saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Fakta ini dinilai menjadi sinyal penting terkait arah perbaikan tata kelola dan prospek saham BUMI ke depan.

Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang saham per 31 Januari 2026, struktur kepemilikan saham BUMI mengalami perubahan signifikan. Salah satu yang paling mencolok adalah penurunan porsi kepemilikan Treasure Global dari 8,08 persen menjadi hanya 3,18 persen. Artinya, terdapat pelepasan saham sekitar 4,9 persen atau senilai kurang lebih Rp6,9 triliun melalui transaksi crossing di pasar negosiasi.

Transaksi tersebut teridentifikasi menggunakan broker RB, sekuritas yang dikenal terafiliasi dengan kelompok usaha Salim. Kondisi ini memunculkan spekulasi kuat bahwa saham yang dilepas Treasure Global diserap oleh pihak yang masih berada dalam lingkaran konglomerasi besar nasional, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan Antoni Salim.

Tekanan Jual Asing Mulai Mereda

Selain Treasure Global, perhatian investor juga tertuju pada pergerakan HSBC Fund yang selama ini dikenal agresif melepas saham BUMI. Data menunjukkan kepemilikan HSBC turun drastis dari 5,76 persen pada akhir Desember menjadi 2,81 persen per akhir Januari 2026. Dalam sebulan, asing telah melepas hampir 3 persen saham BUMI.

Dengan sisa kepemilikan yang relatif kecil, pasar menilai tekanan jual asing berpotensi habis pada akhir Februari atau paling lambat Maret 2026. Jika skenario ini terjadi, maka tekanan jual yang selama ini menahan pergerakan saham BUMI akan berkurang signifikan, membuka ruang kenaikan harga yang lebih sehat.

Kondisi ini tercermin dari pergerakan harga saham BUMI yang mulai rebound tajam. Dari level terendah 200 pasca isu MSCI, harga saham melonjak ke kisaran 292, atau naik lebih dari 29 persen hanya dalam satu pekan perdagangan.

Identitas Penerima Manfaat Akhir Terbuka

Salah satu poin krusial yang sebelumnya menjadi catatan MSCI akhirnya terjawab. Dalam laporan terbaru, nama penerima manfaat akhir tidak lagi hanya ditulis sebagai kelompok usaha, melainkan mencantumkan nama pribadi. Selain Antoni Salim, muncul pula nama Irwan Dermawan Bakrie sebagai penerima manfaat akhir saham BUMI.

Keterbukaan ini dinilai sebagai langkah maju dalam transparansi kepemilikan dan tata kelola perusahaan. Pasar menilai kejelasan struktur kepemilikan akan menjadi modal penting bagi BUMI untuk kembali masuk dalam radar investor institusi global.

Agresif Akuisisi dan Obligasi Berkelanjutan

Dari sisi fundamental, BUMI juga menunjukkan langkah agresif melalui penerbitan Obligasi Berkelanjutan I tahap IV tahun 2026 senilai Rp600 miliar. Secara total, perusahaan menargetkan penghimpunan dana hingga Rp5 triliun. Hingga tahap keempat ini, dana yang telah dihimpun diperkirakan mencapai Rp2,7 triliun.

Dana obligasi tersebut digunakan untuk mengakuisisi sejumlah aset tambang strategis, antara lain Wolfram Limited di Australia, Jubilee Metals, serta Laman Mining. Aset-aset ini belum sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan, sehingga pasar menantikan lonjakan aset pada laporan kuartal I atau kuartal II 2026.

Rencana Kuasi Reorganisasi dan Dividen

Sentimen positif lain datang dari rencana kuasi reorganisasi. BUMI telah memperoleh persetujuan RUPSLB pada Juni 2025 untuk melakukan kuasi reorganisasi guna menghapus defisit ekuitas. Langkah ini diharapkan memperbaiki struktur keuangan dan membuka peluang pembagian dividen di masa mendatang.

Bagi saham yang selama hampir satu dekade tidur dan terakhir membagikan dividen pada 2012, potensi dividen tentu menjadi daya tarik besar. Sejak masuknya Antoni Salim, saham BUMI mulai menunjukkan perubahan signifikan, baik dari sisi harga maupun narasi perbaikan manajemen.

Dengan tekanan jual yang mereda, transparansi kepemilikan yang meningkat, serta strategi ekspansi agresif, pasar menilai saham BUMI tengah memasuki fase kebangkitan baru pada 2026.

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#saham BUMI #obligasi bumi #penerima manfaat akhir #Antoni Salim