JAKARTA - Tokoh masyarakat sekaligus pengusaha Yusuf Hamka yang akrab disapa Babah Alun menanggapi polemik yang menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai haram. Ia menilai narasi tersebut terlalu serampangan dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Babah Alun mengajak publik untuk tidak berprasangka buruk atau suuzon terhadap program yang digagas pemerintah tersebut. Menurutnya, MBG bertujuan membantu pemenuhan gizi anak-anak, khususnya dari keluarga kurang mampu.
“Kalau kita suuzon semuanya enggak ketemu. Coba deh siapa yang mau kasih makan anak-anak kita,” ujarnya.
Jangan Mudah Menghakimi Halal-Haram
Babah Alun menilai narasi yang menggiring opini bahwa MBG haram atau tidak halal justru berbahaya. Ia khawatir tudingan tersebut dapat membuat masyarakat berpandangan negatif terhadap ajaran Islam.
Menurutnya, jika ada pihak yang menyebut program tersebut haram, seharusnya juga mampu memberikan solusi nyata. Ia menyoroti bahwa program MBG menjangkau jutaan anak setiap hari.
“Kalau kita ngomong haram, apakah yang ngomong haram bisa memberi makan yang halal? Belum tentu. Satu dua mangkok saja belum bisa kasih. Ini jutaan mangkok setiap hari negeri memberi,” katanya.
Ia menekankan yang terpenting adalah memastikan makanan yang diberikan halal. Soal proses dan teknis pelaksanaan, menurutnya tidak perlu langsung dihakimi tanpa kajian mendalam.
Percayakan pada Ulama dan MUI
Babah Alun menyarankan agar polemik halal-haram diserahkan kepada otoritas yang berwenang, yakni para ulama. Ia secara khusus menyebut peran Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam mengeluarkan fatwa keagamaan.
“Biarkan ulama, terutama Majelis Ulama Indonesia yang mengeluarkan fatwa,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika ulama dan umaro telah sepakat bahwa program tersebut baik untuk masa depan generasi muda, maka masyarakat sebaiknya memberi kesempatan kepada pemerintah untuk bekerja.
Islam Rahmatan Lil Alamin
Babah Alun juga mengingatkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, yakni rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi umat Muslim semata.
Menurutnya, semangat tersebut harus tercermin dalam sikap masyarakat yang tidak mudah berburuk sangka. Ia menilai bantuan negara untuk pemenuhan gizi anak-anak patut disyukuri, terutama bagi keluarga yang kurang mampu.
“Nah, setelah itu kita lihat kalau ada yang tidak pas, kita bicarakan dengan ulama,” tambahnya.
Ia pun menegaskan bahwa fokus utama seharusnya adalah kebutuhan gizi anak-anak. Di tengah persaingan global, generasi muda Indonesia harus dipersiapkan dengan baik agar mampu bersaing dengan negara lain.
Dengan pernyataannya tersebut, Babah Alun berharap polemik soal kehalalan MBG tidak berkembang menjadi narasi yang memecah belah. Ia mengajak masyarakat untuk bersikap bijak, tidak mudah terprovokasi, dan tetap mengedepankan dialog melalui jalur yang tepat.
Editor : Divka Vance Yandriana