JAKARTA - Proyek gentengisasi nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto mulai memasuki tahap persiapan teknis. Koperasi Desa Merah Putih disiapkan menjadi ujung tombak produksi genteng di berbagai daerah sebagai tindak lanjut arahan langsung dari kepala negara.
Menteri Koperasi Feri Juliantoro menyatakan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih siap menjalankan arahan tersebut. Menurutnya, proyek gentengisasi nasional bukan hanya program perbaikan hunian, tetapi juga peluang besar untuk menggerakkan ekonomi desa.
Proyek gentengisasi nasional ini muncul dari keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk mengganti atap seng yang masih banyak digunakan masyarakat dengan genteng yang dinilai lebih nyaman dan sehat. Arahan tersebut sekaligus membuka peran baru bagi koperasi desa dalam sektor produksi bahan bangunan.
Arahan Presiden: Ganti Atap Seng dengan Genteng
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menilai penggunaan atap seng masih dominan di berbagai kota dan desa. Padahal, atap seng dinilai kurang nyaman karena mudah menyerap panas, sehingga membuat suhu rumah menjadi lebih tinggi.
Selain faktor kenyamanan, seng juga disebut berisiko dari sisi kesehatan karena dapat berkarat. Karat pada atap seng berpotensi membahayakan dalam jangka panjang, terutama jika kualitas materialnya rendah.
Melalui proyek gentengisasi nasional, pemerintah ingin menciptakan lingkungan permukiman yang lebih nyaman, sehat, dan memiliki estetika lebih baik. Program ini bahkan disebut sebagai proyek gentengisasi Indonesia yang skalanya dirancang nasional.
Prabowo juga menegaskan bahwa proyek ini tidak membutuhkan anggaran besar, karena dapat digerakkan melalui skema pemberdayaan dan produksi berbasis koperasi.
Koperasi Desa Merah Putih Dapat Tugas Tambahan
Feri Juliantoro menjelaskan bahwa produksi genteng akan menjadi tugas tambahan bagi Koperasi Desa Merah Putih. Selama ini koperasi tersebut difokuskan pada penguatan ekonomi lokal dan distribusi kebutuhan pokok.
Kini, perannya diperluas ke sektor produksi bahan bangunan, khususnya genteng. Kementerian Koperasi mulai mendorong kesiapan koperasi di berbagai daerah agar mampu memproduksi genteng sesuai standar yang ditetapkan.
“Koperasi didorong mengembangkan genteng dengan campuran bahan tertentu agar bobotnya lebih ringan,” ujar Feri.
Inovasi tersebut diharapkan menghasilkan genteng yang tidak hanya kuat dan tahan lama, tetapi juga lebih ringan sehingga memudahkan proses pemasangan dan distribusi.
Dorong Ekonomi Lokal dan Serap Tenaga Kerja
Keterlibatan Koperasi Desa Merah Putih dalam proyek gentengisasi nasional diyakini mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian desa. Produksi genteng secara lokal akan membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan anggota koperasi.
Dengan skema ini, proyek nasional tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik rumah, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Koperasi akan dilengkapi fasilitas produksi genteng agar mampu memenuhi kebutuhan di wilayah masing-masing.
Langkah tersebut sejalan dengan semangat penguatan ekonomi kerakyatan yang selama ini digaungkan pemerintah. Koperasi menjadi instrumen untuk memastikan manfaat proyek dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat bawah.
Menuju Lingkungan Lebih Nyaman dan Estetis
Prabowo menilai proyek gentengisasi nasional juga bertujuan memperbaiki tampilan lingkungan permukiman. Atap genteng dianggap lebih serasi dan mendukung tata kota yang rapi dibandingkan seng.
Selain itu, penggunaan genteng dinilai lebih ramah dalam jangka panjang karena lebih tahan terhadap cuaca ekstrem. Dengan perencanaan matang, proyek ini diharapkan dapat berjalan bertahap di seluruh Indonesia.
Kementerian Koperasi kini mulai memetakan daerah-daerah yang siap memproduksi genteng melalui koperasi desa. Dukungan fasilitas dan pendampingan teknis akan menjadi kunci keberhasilan implementasi program ini.
Jika berjalan sesuai rencana, proyek gentengisasi nasional bukan hanya mengubah wajah perumahan rakyat, tetapi juga memperkuat peran Koperasi Desa Merah Putih sebagai motor penggerak ekonomi lokal berbasis produksi.
Editor : Divka Vance Yandriana