JAKARTA - Program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) diproyeksikan menjadi motor baru penggerak ekonomi pedesaan. Pemerintah menargetkan pembentukan Kopdes Merah Putih di 70.000 hingga 80.000 desa di seluruh Indonesia, dengan potensi menyerap sekitar 1,6 juta tenaga kerja langsung.
Jika rata-rata satu koperasi menyerap 20 tenaga kerja, maka ketika 80.000 Kopdes Merah Putih terbangun, dampaknya bisa sangat signifikan bagi penciptaan lapangan kerja. Program ini menjadi bagian dari kebijakan strategis yang diputuskan dalam rapat terbatas Kabinet Merah Putih yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
Kopdes Merah Putih dirancang bukan sekadar lembaga simpan pinjam, melainkan pusat kegiatan ekonomi desa yang memangkas rantai pasok dan meningkatkan kesejahteraan petani serta pelaku usaha kecil.
Pangkas Rantai Pasok, Petani Lebih Untung
Salah satu tujuan utama pembentukan Kopdes Merah Putih adalah memotong rantai distribusi yang selama ini terlalu panjang. Selama ini, produk pertanian dari desa harus melewati produsen, distributor, agen, hingga pengecer sebelum sampai ke konsumen.
Akibatnya, petani menerima harga rendah, sementara konsumen membeli dengan harga tinggi. Dengan koperasi sebagai pusat distribusi dan gudang desa, hasil pertanian bisa langsung ditampung dan disalurkan lebih efisien.
Konsep ini diibaratkan seperti lilin-lilin kecil di desa yang menyala bersama. Jika selama ini pembangunan terpusat di kota besar, maka melalui Kopdes Merah Putih, cahaya ekonomi diharapkan menyebar merata hingga pelosok desa.
Setiap koperasi nantinya akan dilengkapi gudang dan enam gerai untuk menunjang aktivitas perdagangan dan distribusi pangan. Desa pun memiliki pusat ekonomi sendiri yang terintegrasi.
Didanai Dana Desa dan Himbara
Pemerintah memastikan pendanaan Kopdes Merah Putih akan mengoptimalkan dana desa yang sudah ada. Selain itu, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) akan berperan melalui skema pembiayaan cicilan selama tiga hingga lima tahun.
Skema ini dirancang agar koperasi bisa langsung beroperasi secara optimal sejak awal berdiri. Dengan dukungan pembiayaan tersebut, pembangunan infrastruktur koperasi di desa diharapkan berjalan cepat dan merata.
Program ini juga dikawal agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pedesaan, terutama dalam memperkuat distribusi pangan dan stabilitas harga.
Disebut Revolusioner di Dunia Koperasi
Ketua Umum Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (Inkowapi), Sarmila Yahya, menyebut rencana pembangunan 70.000 koperasi desa sebagai langkah revolusioner.
Menurutnya, belum pernah ada program pembentukan koperasi dalam skala sebesar ini, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Ia bahkan menyebut program tersebut berpotensi mencetak rekor nasional.
Sarmila menilai pemisahan Kementerian Koperasi dan UKM di era pemerintahan Presiden Prabowo menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan koperasi sebagai sokoguru ekonomi rakyat.
Inkowapi sendiri mengaku terlibat aktif dalam sejumlah program pemerintah, termasuk mendukung pelaku usaha daerah yang bermitra dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Harga Pangan Naik Jelang Ramadan
Sementara itu, Sekjen DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, melaporkan sejumlah harga bahan pokok mengalami kenaikan menjelang Ramadan.
Minyak goreng curah disebut telah mencapai Rp19.000 per liter. Gula pasir menembus Rp18.300 hingga Rp18.400 per kilogram. Bawang merah dan bawang putih berada di kisaran Rp50.000 per kilogram.
Cabe rawit merah bahkan menyentuh Rp120.000 per kilogram, hampir setara harga daging. Cabe merah keriting berada di kisaran Rp78.000 hingga Rp80.000 per kilogram, sementara daging sapi bertahan di kisaran Rp110.000 per kilogram.
Menurut Reynaldi, kenaikan harga ini dipicu hukum supply and demand yang kerap terjadi menjelang Ramadan. Permintaan meningkat, sementara pasokan belum sepenuhnya stabil.
Ia berharap jika suplai tetap terjaga, harga akan mulai melandai pada pekan kedua hingga ketiga Ramadan.
Dengan hadirnya Kopdes Merah Putih di ribuan desa, pemerintah berharap distribusi pangan menjadi lebih efisien. Jika rantai pasok berhasil dipangkas, stabilitas harga dan kesejahteraan petani serta pedagang kecil diyakini akan lebih terjaga.
Program Kopdes Merah Putih pun diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi desa yang berkelanjutan dan inklusif.
Editor : Divka Vance Yandriana