JAKARTA - Viral alumni LPDP kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang memperlihatkan kebahagiaan seorang ibu atas kewarganegaraan asing anaknya memicu polemik luas.
Sosok tersebut diketahui merupakan mantan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Kasus viral alumni LPDP ini mencuat setelah ia mengunggah momen saat menerima surat resmi dari Home Office Inggris. Dalam video itu, ia tampak terharu sembari menyebut amplop tersebut sebagai “paket bukan sembarang paket” karena berisi dokumen penting yang disebutnya dapat mengubah masa depan anak-anaknya.
Sorotan publik semakin tajam karena dalam video tersebut ia menyampaikan pernyataan, “cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan.” Ucapan itu langsung memicu perdebatan, terutama setelah diketahui bahwa ia merupakan alumni program beasiswa negara yang dibiayai pajak rakyat.
Momen Paspor Inggris Jadi Pemicu Perdebatan
Dalam rekaman yang beredar luas di media sosial, perempuan tersebut menunjukkan surat dari otoritas Inggris yang menyatakan anak keduanya resmi diterima sebagai warga negara Inggris dan memperoleh paspor asing.
Ia menyebut telah menunggu proses tersebut selama empat bulan. Dengan penuh emosi, ia mengatakan dokumen itu akan mengubah nasib dan masa depan anaknya.
Bahkan ia menegaskan ingin mengusahakan agar anak-anaknya memiliki “paspor kuat” sebagai warga negara asing.
Pernyataan itu memancing reaksi keras warganet. Banyak yang mempertanyakan sikapnya sebagai alumni LPDP yang seharusnya memiliki komitmen pengabdian terhadap Indonesia setelah menyelesaikan studi.
Sejumlah netizen bahkan menelusuri riwayat pendidikan dan status kewajiban pengabdiannya.
Kritik bermunculan karena dianggap tidak menunjukkan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia, padahal pernah menerima fasilitas pendidikan dari negara.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Menanggapi gelombang kritik, pemilik akun media sosial tersebut memberikan klarifikasi terbuka.
Ia menjelaskan telah lulus dari program LPDP pada 2017 dan kembali ke Indonesia selama lima tahun untuk memenuhi kewajiban kontribusi.
Ia menegaskan kepindahannya ke Inggris bukan untuk melanjutkan studi, melainkan menjalankan kewajiban sebagai istri.
Ia juga menyatakan masih membayar pajak dan tetap memiliki kontribusi terhadap Indonesia hingga saat ini.
Terkait pernyataan “cukup aku saja yang WNI, anak-anak jangan”, ia mengakui itu merupakan luapan kekecewaan, kelelahan, dan frustrasi terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
Namun ia menyadari ucapan tersebut tidak tepat dan telah menyakiti perasaan banyak orang.
Melalui unggahan di Instagram, ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kegaduhan yang terjadi. Ia juga membantah berbagai asumsi dan tuduhan yang beredar di media sosial.
Sorotan pada Komitmen Alumni Beasiswa Negara
Kasus viral alumni LPDP ini kembali memunculkan diskusi publik mengenai tanggung jawab moral penerima beasiswa negara. Selain kewajiban administratif berupa masa pengabdian, alumni juga dinilai memiliki tanggung jawab etis dalam menjaga sikap di ruang publik.
LPDP sebagai program strategis pemerintah bertujuan mencetak sumber daya manusia unggul yang berkontribusi bagi pembangunan Indonesia. Karena itu, setiap kontroversi yang melibatkan alumninya kerap menjadi perhatian luas.
Di sisi lain, isu kewarganegaraan anak di era globalisasi memang menjadi pilihan personal setiap keluarga. Namun ketika pilihan tersebut dikaitkan dengan pernyataan bernuansa emosional dan latar belakang sebagai penerima dana publik, reaksi masyarakat menjadi tidak terhindarkan.
Deretan Peristiwa Kriminal Turut Jadi Sorotan
Selain polemik alumni LPDP, sejumlah peristiwa kriminal juga terjadi di berbagai daerah.
Di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, sekelompok remaja masjid diserang pemuda bersenjata tajam di depan Masjid Al-Amin.
Warga meminta kepolisian meningkatkan patroli karena insiden serupa pernah menimbulkan korban jiwa.
Di Makassar, Sulawesi Selatan, polisi menangkap pelaku begal motor yang telah beraksi di 10 lokasi.
Pelaku terpaksa ditembak di bagian kaki karena melawan saat pengembangan kasus.
Polisi menyita barang bukti berupa sepeda motor, ponsel, dan senjata tajam jenis parang.
Sementara di Depok, Jawa Barat, dua pemuda ditangkap setelah memeras juru parkir dengan menyamar sebagai polisi.
Bermodal kaos bertuliskan polisi dan pistol mainan, keduanya telah tiga kali melakukan aksi serupa.
Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan dinamika sosial yang kompleks di tengah masyarakat.
Namun polemik viral alumni LPDP tetap menjadi perhatian utama karena menyentuh isu nasionalisme, tanggung jawab publik, dan etika penerima beasiswa negara.
Editor : Davina Ar Raafika