JAKARTA - GTSI kuasai logistik migas LNG dengan strategi ekspansi agresif yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan persaingan regional yang kian ketat, langkah GTS Internasional ini menjadi sorotan pelaku industri energi nasional hingga Asia Tenggara.
Perusahaan transportasi LNG yang berada di bawah kendali konglomerat Tommy Soeharto tersebut menyiapkan investasi fantastis sebesar USD 508 juta atau setara Rp7,5 triliun hingga 2026. Dana jumbo ini diarahkan untuk memperluas armada kapal LNG sekaligus membangun infrastruktur pendukung, termasuk fasilitas regasifikasi strategis.
Ekspansi ini menegaskan ambisi besar GTSI untuk tidak sekadar menjadi pemain domestik. Targetnya jelas: menguasai logistik migas LNG dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok energi bersih di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: LPDP Pangkas Penerima Beasiswa 2025–2026 Meski Pelamar Tembus 78.000, Ini Alasan Resmi Pembatasannya
Ekspansi Armada LNG Jadi Fokus Utama
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penambahan armada kapal LNG berkapasitas besar. Pada akhir bulan ini, GTSI dijadwalkan menerima satu kapal LNG baru yang sebelumnya dimiliki oleh GasLog Partners. Kapal yang semula bernama Methane Jane Elizabeth itu dikenal sebagai salah satu kapal LNG berkapasitas besar di pasar global.
Nilai transaksi pembelian kapal tersebut diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun. Namun bagi manajemen, harga itu sepadan dengan manfaat jangka panjang, terutama untuk menjawab lonjakan permintaan jasa transportasi LNG di dalam dan luar negeri.
Saat ini, GTSI telah mengoperasikan sejumlah kapal, termasuk Eka Putra 1 yang memegang rekor sebagai kapal dengan kapasitas tangki LNG terbesar di Indonesia. Ke depan, perusahaan menargetkan penambahan satu kapal lagi pada 2025 dan dua kapal tambahan pada 2026.
Proyek Regasifikasi Jadi Game Changer
Tak hanya menambah armada, GTSI juga menggarap proyek regasifikasi senilai USD 175 juta yang ditargetkan mulai beroperasi pada Juni 2026. Fasilitas ini akan berfungsi sebagai penghubung strategis antara pemasok LNG dan pengguna akhir.
Keberadaan fasilitas regasifikasi tersebut diyakini mampu meningkatkan efisiensi distribusi gas, menekan biaya logistik, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Dalam konteks regional, proyek ini membuka peluang bagi GTSI untuk menjadi hub logistik gas di Asia Tenggara.
Didukung Fundamental Keuangan yang Solid
Direktur Utama GTSI Ari Ashara menegaskan bahwa ekspansi agresif ini bukan keputusan spekulatif. Seluruh rencana didukung oleh kinerja operasional dan keuangan yang terus menunjukkan tren positif.
“Ini bukan sekadar menambah kapal, tetapi langkah strategis untuk menangkap peluang bisnis LNG domestik dan regional,” ujar Ari. Menurutnya, permintaan energi bersih terus meningkat seiring pergeseran bauran energi menuju emisi rendah.
Ia juga mengungkapkan bahwa GTSI mencatat pertumbuhan laba dua digit serta kenaikan harga saham yang signifikan sejak awal 2025. Kondisi fundamental yang sehat menjadi modal utama perusahaan untuk menghadapi fluktuasi harga energi global dan persaingan industri.
LNG sebagai Energi Transisi Masa Depan
Di banyak wilayah, LNG dipandang sebagai solusi energi transisi. Selain digunakan sebagai sumber utama pembangkit listrik, LNG juga berfungsi sebagai cadangan energi puncak dan bahan bakar industri.
Dibandingkan pipa gas konvensional, LNG menawarkan fleksibilitas pasokan yang lebih tinggi. Hal inilah yang membuat kebutuhan armada LNG dan infrastruktur regasifikasi diprediksi terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan kombinasi armada jumbo dan proyek regasifikasi yang siap beroperasi pada 2026, GTSI bertekad menjadi pemain kunci dalam logistik migas LNG nasional sekaligus regional. Ambisi ini, jika terealisasi, berpotensi membawa Indonesia ke posisi strategis dalam peta energi bersih Asia Tenggara.
Editor : Natasha Eka Safrina