Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Melemah, Top 5 IDX Channel Bongkar Sentimen MSCI, Saham Emas hingga Polemik Dirut GTSI

Natasha Eka Safrina • Minggu, 22 Februari 2026 | 14:40 WIB

IHSG melemah, Top 5 IDX Channel kupas sentimen MSCI, koreksi saham emas, perombakan indeks BEI, hingga polemik Dirut GTSI.
IHSG melemah, Top 5 IDX Channel kupas sentimen MSCI, koreksi saham emas, perombakan indeks BEI, hingga polemik Dirut GTSI.

JAKARTA - IHSG melemah sepanjang perdagangan Selasa (27/1/2026) dan memicu lonjakan minat pelaku pasar untuk mencari penjelasan faktual di balik tekanan indeks. Kondisi ini tercermin dari tingginya jumlah pembaca pada artikel-artikel analisis pasar yang disajikan IDX Channel, terutama yang mengulas sentimen global, aksi profit taking, hingga kebijakan bursa terbaru.

Dalam program Top 5 IDX Channel, redaksi merangkum lima berita terpopuler yang dinilai paling relevan menjelaskan dinamika pasar saham domestik saat IHSG melemah. Mulai dari rencana perubahan metodologi indeks MSCI, koreksi saham emas, hingga sorotan terhadap emiten yang tengah jadi perhatian otoritas bursa.

MSCI Disebut Jadi Sentimen Tekanan Saham Taipan

Berita terpopuler pertama mengulas narasi MSCI di balik melemahnya saham-saham milik konglomerat nasional. Pasar mencermati rencana MSCI yang akan mengubah metodologi perhitungan free float pada indeks acuannya.

Baca Juga: LPDP Pangkas Penerima Beasiswa 2025–2026 Meski Pelamar Tembus 78.000, Ini Alasan Resmi Pembatasannya

Wacana ini dikaitkan dengan anjloknya saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya digadang-gadang berpeluang masuk indeks MSCI Standard. Saham Bumi Resources dan Petrosea tercatat melemah hingga puluhan persen pada perdagangan Selasa.

Tekanan juga merembet ke saham-saham kelompok konglomerasi lain, mulai dari Grup Bakrie, Salim, hingga Barito Grup milik Prajogo Pangestu. Pasar khawatir, pemberlakuan corporate ownership sebagai non-free float pada 30 Januari mendatang akan mempersempit peluang saham-saham tersebut masuk indeks global, sekaligus menggerus daya tariknya bagi investor institusi.

Profit Taking Tekan Saham Emas

Berita kedua menyoroti aksi ambil untung pada saham-saham emiten tambang emas. Sejumlah saham emas kompak terkoreksi setelah reli signifikan dalam beberapa waktu terakhir, seiring melonjaknya harga emas dunia.

Saham Aneka Tambang, Amman Mineral Internasional, hingga Merdeka Gold Copper tercatat melemah di kisaran 2–3 persen. Koreksi ini dinilai wajar karena saham-saham tersebut telah memasuki area jenuh beli (overbought).

Baca Juga: LPDP Angkat Bicara Soal Viral Alumni Pamer Paspor Anak WNA, Suami Terancam Sanksi dan Pengembalian Dana Beasiswa

Menariknya, di saat saham emas terkoreksi, harga emas global masih bertahan di level tinggi meski sedikit turun dari rekor tertingginya. Kondisi ini mengindikasikan koreksi lebih dipicu faktor teknikal ketimbang perubahan fundamental.

BEI Rombak IDX30, LQ45, dan IDX80

Berita ketiga datang dari kebijakan Bursa Efek Indonesia yang merombak komposisi sejumlah indeks acuan. Evaluasi mayor ini berlaku efektif mulai 2 Februari hingga 30 April 2026.

Pada indeks IDX30, saham BUMI dan Elang Mahkota Teknologi resmi masuk, menggantikan Indo Tambang Raya Megah dan Semen Indonesia. Sementara di indeks LQ45, Barito Renewable Energy masuk menggantikan Aspirasi Hidup Indonesia.

Perombakan ini dinilai berpotensi memicu rebalancing portofolio investor institusi dalam jangka pendek.

Baca Juga: Viral Alumni LPDP Bangga Anak Jadi WNA Inggris, Ucapan “Cukup Aku Saja WNI” Picu Polemik dan Klarifikasi Terbuka

Erwin Ciputra Borong Saham PTRO

Berita keempat menyoroti aksi korporasi Komisaris PT Petrosea, Erwin Ciputra, yang memborong saham PTRO saat harganya tertekan. Pada 26 Januari 2026, Erwin membeli 400 ribu saham PTRO dengan nilai transaksi sekitar Rp3,65 miliar.

Aksi ini menambah kepemilikannya menjadi 11,05 juta saham atau setara 0,11 persen. Langkah tersebut dibaca pasar sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang emiten, meski harga sahamnya telah terkoreksi lebih dari 30 persen dari level tertinggi.

BEI Cermati Penunjukan Dirut GTSI

Berita kelima sekaligus penutup adalah sorotan terhadap GTS Internasional. BEI memanggil manajemen GTSI untuk meminta klarifikasi atas penunjukan Ari Askara sebagai direktur utama.

Pemanggilan ini tak lepas dari rekam jejak Ari Askara saat menjabat Dirut Garuda Indonesia pada 2019. GTSI menegaskan bahwa penunjukan tersebut telah sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan, khususnya POJK Nomor 33 Tahun 2014.

Baca Juga: BCA Expo 2026 Resmi Digelar! Jemput Jodoh Impian Kendaraan dan Properti dengan Promo Bunga Spesial

Editor : Natasha Eka Safrina
#MSCI #saham EMAS #ihsg melemah