Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Saham BUMI Jadi Sorotan, Kepemilikan Cengdong Tinggal 2,8%: Bakal Melesat atau Justru Ambles Lagi?

Natasha Eka Safrina • Minggu, 22 Februari 2026 | 14:45 WIB

Saham BUMI jadi sorotan usai kepemilikan Cengdong tinggal 2,8%. Bakal melesat atau malah terkoreksi lagi?
Saham BUMI jadi sorotan usai kepemilikan Cengdong tinggal 2,8%. Bakal melesat atau malah terkoreksi lagi?

JAKARTA - Saham BUMI kembali jadi perbincangan hangat di kalangan trader setelah kabar kepemilikan Cengdong di saham BUMI tersisa 2,8 persen. Isu ini memicu spekulasi, apakah setelah Cengdong benar-benar keluar 100 persen, harga saham BUMI akan lebih ringan naik atau justru kehilangan likuiditas dan makin sepi peminat.

Di tengah kabar tersebut, IHSG hari ini melemah 0,4 persen dan ditutup di level 8.274,08. Pelemahan IHSG ini menjadi latar penting karena pergerakan saham BUMI tak bisa dilepaskan dari sentimen indeks secara keseluruhan. Jika IHSG gagal bertahan dan justru turun di bawah 8.171, peluang koreksi lebih dalam bahkan ke bawah 8.000 terbuka lebar.

Namun perhatian utama tetap tertuju pada saham BUMI. Penjualan saham yang konsisten dilakukan Cengdong dalam beberapa waktu terakhir diduga menjadi salah satu faktor yang menahan laju kenaikan harga.

Baca Juga: LPDP Pangkas Penerima Beasiswa 2025–2026 Meski Pelamar Tembus 78.000, Ini Alasan Resmi Pembatasannya

Tekanan Jual dan Struktur Teknikal Saham BUMI

Mengutip laporan dari CNBC Indonesia, kepemilikan Cengdong memang terus menyusut. Jika laju penjualan tetap seperti sekarang, dalam 1–2 bulan ke depan bukan tidak mungkin kepemilikannya benar-benar habis.

Secara teknikal, saham Bumi Resources masih berada dalam struktur uptrend jangka panjang dengan high di area 484. Namun sejak turun di bawah 354 pada Januari lalu, uptrend minor dinyatakan selesai dan fase retracement dimulai.

Pada awal Februari, BUMI sempat menyentuh level terendah 198 sebelum rebound. Meski begitu, momentum kenaikannya dinilai tidak terlalu kuat. Harga memang sempat menyentuh 306 dan kini bertengger di kisaran 300, tetapi belum menunjukkan akselerasi signifikan.

Secara teknikal, area 328 menjadi target penutupan gap terdekat. Namun jika terjadi koreksi, area menarik justru berada di kisaran 250 hingga 230. Di level tersebut, rasio risk-reward dinilai lebih ideal dengan stop loss di bawah 198.

Bagi investor yang sudah memegang saham BUMI, level 284 menjadi batas penting. Jika harga turun dan ditutup di bawah level tersebut, potensi swing ke bawah kembali terbuka, bahkan bisa menguji area 260 atau lebih rendah.

Baca Juga: LPDP Angkat Bicara Soal Viral Alumni Pamer Paspor Anak WNA, Suami Terancam Sanksi dan Pengembalian Dana Beasiswa

IHSG Melemah, Strategi Trading Tetap Disiplin

Di luar saham BUMI, kondisi IHSG juga perlu diantisipasi. Indeks sempat naik di awal sesi, tetapi gagal bertahan di atas 8.300. Target optimistis masih berada di area 8.400 hingga 8.500 menjelang periode Ramadan dan Lebaran.

Namun disiplin tetap menjadi kunci. Strategi trailing stop, stop loss, dan take profit perlu diterapkan terutama bagi trader jangka pendek agar tidak terlambat keluar saat volatilitas meningkat.

Saham Lain yang Jadi Perhatian

Selain saham BUMI, beberapa saham lain juga masuk radar trader. MDKA dan ADMR sempat memberikan peluang fast trade dengan kenaikan intraday yang cukup menarik.

Sementara itu, saham GTS Internasional atau GTSI juga menjadi perhatian. Secara struktur, saham ini sempat menyelesaikan downtrend minor setelah menembus area 266 dan membuka peluang menuju gap di sekitar 322.

Baca Juga: Viral Alumni LPDP Bangga Anak Jadi WNA Inggris, Ucapan “Cukup Aku Saja WNI” Picu Polemik dan Klarifikasi Terbuka

Namun jika kembali turun dan ditutup di bawah 220, potensi koreksi lebih dalam bisa terjadi. Area beli yang dinilai menarik berada di kisaran 242 dengan target awal di area 280 sebelum menguji 322.

Saham lain seperti INDF, emas, hingga TOBA juga masuk watchlist dengan strategi buy on weakness dan disiplin stop loss ketat.

Setelah Cengdong Habis, Apa yang Terjadi?

Pertanyaan besar tetap sama: apakah setelah Cengdong benar-benar keluar, saham BUMI akan lebih enteng naik?

Secara teori, hilangnya tekanan jual rutin bisa menjadi katalis positif. Namun pasar juga akan menilai ulang sentimen fundamental dan kekuatan demand riil di saham tersebut. Jika tidak diimbangi minat beli baru, harga bisa saja tetap bergerak terbatas.

Dalam jangka pendek, pergerakan saham BUMI masih sangat bergantung pada respons teknikal di area support dan resistance kunci. Trader disarankan fokus pada manajemen risiko dibanding berspekulasi semata pada sentimen kepemilikan.

Pasar saham selalu soal probabilitas, bukan kepastian. Dan dalam kondisi IHSG melemah seperti saat ini, kehati-hatian tetap menjadi strategi terbaik.

Baca Juga: BCA Expo 2026 Resmi Digelar! Jemput Jodoh Impian Kendaraan dan Properti dengan Promo Bunga Spesial

Editor : Natasha Eka Safrina
#saham BUMI #ihsg melemah