Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Podcast The Cuan: Dampak MSCI Bikin IHSG Anjlok, Benix Sebut Ini Momentum Emas Beli Saham Diskon

Natasha Eka Safrina • Minggu, 22 Februari 2026 | 15:45 WIB

IHSG Anjlok dan Reformasi Bursa jadi sorotan! OJK & BEI siapkan 8 aksi usai pasar guncang akibat status MSCI. Simak rencana transparansi barunya!
IHSG Anjlok dan Reformasi Bursa jadi sorotan! OJK & BEI siapkan 8 aksi usai pasar guncang akibat status MSCI. Simak rencana transparansi barunya!

JAKARTA – Isu dampak MSCI kembali menjadi sorotan utama pasar modal Indonesia. Setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menembus level 9.000 sepanjang 2025 dan mencetak rekor tertinggi (all time high/ATH) berulang kali, awal 2026 justru dibuka dengan tekanan tajam. IHSG bahkan sempat terkena trading halt dua hari beruntun usai koreksi hingga 8 persen dalam sehari.

Dalam Podcast The Cuan yang tayang di IDX Channel, investor sekaligus influencer saham Benny Batara alias Benix mengupas tuntas dampak MSCI terhadap pasar saham nasional. Menurutnya, gejolak akibat keputusan MSCI bukan sesuatu yang tiba-tiba.

“Sudah kelihatan dari tahun lalu. Bahkan kami sudah prediksi market crash di kuartal I (Q1) 2026. Jadi ini bukan kejutan,” ujar Benix dalam perbincangan bersama host Fajar.

Sepanjang 2025, IHSG memang tampil impresif. Namun memasuki akhir Januari 2026, sentimen negatif mencuat setelah MSCI mengumumkan sejumlah kebijakan, termasuk pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan evaluasi akses pasar Indonesia. Dampak MSCI pun langsung terasa di lantai bursa.

Baca Juga: THR dan Rapel Pensiunan 2026: Alokasi Rp55 Triliun, Mekanisme Bertahap, dan Tips Aman Menerimanya

IHSG Anjlok dan Isu Reformasi Bursa

Benix menilai, jika dilihat secara mikro, pasar memang bereaksi terhadap keputusan MSCI. Namun secara makro, ia menilai ada dinamika geopolitik dan kepentingan global yang lebih luas di balik kebijakan tersebut.

Meski demikian, ia justru melihat tekanan ini sebagai momentum positif untuk pembenahan internal. “Saya sangat happy dengan sentilan MSCI ini. Ini momen reformasi besar-besaran di bursa dan regulator,” tegasnya.

Ia menyoroti pentingnya transparansi, peningkatan free float, serta perbaikan tata kelola perusahaan tercatat. Menurutnya, selama ini masih ada saham dengan free float rendah yang berpotensi mudah dimanipulasi. Dengan aturan free float minimal 15 persen yang diperketat, struktur pasar dinilai bisa menjadi lebih sehat.

Baca Juga: Tren K-Pop di Kalangan Gen Z Tulungagung, Musik dan Visual Idol Jadi Daya Tarik Utama

Ancaman Outflow dan Skenario Mei 2026

Benix juga memaparkan potensi arus dana asing keluar (outflow) akibat dampak MSCI. Ia memperkirakan tahap pertama outflow bisa mencapai Rp39 triliun. Jika hingga evaluasi Mei 2026 Indonesia belum memenuhi ekspektasi MSCI, potensi tambahan outflow bahkan bisa menembus Rp131 triliun.

Namun hingga awal Februari, realisasi dana asing keluar disebutnya masih di bawah Rp10 triliun. “Artinya, masih ada fase yang berjalan sesuai skenario. Ini belum selesai,” katanya.

Meski ada ancaman penurunan status dari emerging market menjadi frontier market, ia tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang pasar modal Indonesia, terutama jika reformasi benar-benar dijalankan.

Momentum Emas Investor Jangka Panjang

Di tengah kepanikan sebagian investor muda akibat trading halt dan koreksi tajam, Benix justru menegaskan bahwa kondisi seperti ini adalah peluang.

“Investor itu beli di harga rendah, jual di harga tinggi. Bukan sebaliknya. Kalau market crash, itu justru momen penciptaan kekayaan,” ujarnya.

Ia mengutip prinsip klasik investasi: buy when there is blood in the street. Menurutnya, investasi saham idealnya berorientasi minimal dua hingga tiga tahun, bukan sekadar mencari keuntungan harian.

Benix bahkan memproyeksikan IHSG berpotensi kembali ke level 9.000 hingga 10.000 dalam jangka menengah, dengan catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mendekati 8 persen dan reformasi pasar berjalan konsisten.

Baca Juga: Tual Heboh: Pelajar MTs Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob Usai Balap Liar, Keluarga & Warga Geruduk Markas, Polri Janji Proses Hukum Transparan

Peran Dana Pensiun dan Investor Baru

Selain investor ritel, kebijakan yang memungkinkan dana pensiun dan asuransi meningkatkan porsi investasi saham hingga 20 persen dinilai sebagai katalis positif. Selama ini, dana tersebut banyak ditempatkan di Surat Berharga Negara (SBN).

Dengan peningkatan alokasi ke saham, likuiditas pasar berpotensi meningkat signifikan. Benix juga menilai jumlah investor domestik yang masih di bawah 20 juta sangat kecil dibandingkan potensi 100 juta investor.

“Kalau investor naik lima kali lipat, market cap pasti ikut naik. Ini momentum jangka panjang,” ujarnya.

Menutup diskusi, Benix memberikan pesan sederhana bagi generasi muda: spend wisely, invest bravely. Ia menekankan pentingnya menyisihkan pendapatan untuk investasi lebih dulu sebelum konsumsi.

Di tengah dampak MSCI yang mengguncang IHSG, optimisme jangka panjang tetap digaungkan. Bagi sebagian investor, koreksi tajam bukan ancaman, melainkan peluang emas yang jarang datang dua kali.

Editor : Natasha Eka Safrina
#MSCI #trading halt #ihsg anjlok