Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pesan Strategis SBY untuk Prabowo Hadapi Dunia Multipolar: Ekonomi 8 Persen, Hybrid Warfare, dan Ancaman Global Jadi Sorotan

Krisna Pambudi • Rabu, 25 Februari 2026 | 11:13 WIB

Pesan strategis SBY untuk Prabowo di Lemhannas. (Sumber: Antara News)
Pesan strategis SBY untuk Prabowo di Lemhannas. (Sumber: Antara News)

RADAR TULUNGAGUNG - Pesan strategis Susilo Bambang Yudhoyono untuk Prabowo menjadi sorotan setelah mantan Presiden RI itu memaparkan pandangannya terkait arah kebijakan Indonesia menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.

Dalam sebuah forum diskusi, Susilo Bambang Yudhoyono menekankan pentingnya kesiapan nasional, mulai dari ekonomi, pertahanan, hingga diplomasi internasional agar Indonesia tidak terlambat mengantisipasi krisis dunia.

Menurut Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah harus fokus memperkuat ketahanan dalam negeri tanpa bersikap naif terhadap perubahan geopolitik global yang berlangsung cepat.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh terlalu percaya diri atau bersikap apatis terhadap konflik internasional.

Dunia yang saling terhubung membuat setiap krisis global berpotensi berdampak langsung terhadap stabilitas nasional.

“Fokus dalam negeri itu penting, meningkatkan daya tangkal, memperkuat pertahanan, ketahanan energi, dan ekonomi. Tapi jangan berpikir Indonesia tidak akan tersentuh,” ujarnya.

Navigasi Dunia Multipolar Jadi Kunci

SBY menjelaskan bahwa dunia saat ini tidak lagi berada dalam satu kutub kekuatan.

Setelah era Perang Dingin dan dominasi Amerika Serikat, kini muncul tatanan multipolar yang melibatkan berbagai kekuatan besar.

Ia bahkan mengaku sempat berdiskusi langsung dengan pemikir politik global Francis Fukuyama, yang sebelumnya dikenal lewat teori kemenangan liberalisme pasca runtuhnya komunisme.

Menurutnya, realitas global membuktikan prediksi tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Baca Juga: Sanksi Blacklist, Belanja APBN, dan Bea Cukai: Menyikapi Kebijakan Ekonomi Pemerintah di Tengah Isu Kontroversial

Kini Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa hingga negara-negara BRICS menjadi pusat kekuatan baru.

Dalam kondisi itu, Indonesia harus mampu menavigasi kepentingan nasional secara cermat.

“Yang utama adalah memahami posisi kita, mengetahui sumber daya yang dimiliki, serta batas kemampuan nasional,” jelasnya.

Ia menilai diplomasi bebas aktif tetap relevan, namun tidak boleh disalahartikan sebagai sikap pasif atau menjauh dari dinamika dunia.

Target Ekonomi 8 Persen Dinilai Realistis

Pesan strategis SBY untuk Prabowo juga menyinggung target pertumbuhan ekonomi tinggi yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

SBY menilai target pertumbuhan ekonomi 7 hingga 8 persen bukan hal yang keliru selama disertai kerja keras dan kebijakan tepat sasaran.

Ia mengungkapkan pengalaman pemerintahannya yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga sekitar enam persen, sekaligus menurunkan kemiskinan dan pengangguran.

“Kalau ekonomi tumbuh tinggi, maka lapangan kerja tercipta, kemiskinan turun, dan pendapatan per kapita meningkat. Itu hukum ekonomi,” katanya.

Ia juga menyinggung capaian pendapatan per kapita Indonesia yang meningkat signifikan pada masa pemerintahannya, dari sekitar 1.100 dolar AS pada 2004 menjadi lebih dari 3.700 dolar AS pada 2014.

Data tersebut, lanjutnya, bersumber dari lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank.

SBY berharap grafik pertumbuhan tersebut dapat kembali dijaga agar Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

Ia juga menyinggung masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang menurutnya menghadapi tantangan berat akibat pandemi Covid-19 sehingga momentum ekonomi sempat terganggu.

Hybrid Warfare dan Ancaman Modern

Selain ekonomi, perhatian besar diberikan pada sektor pertahanan. SBY menilai ancaman modern tidak lagi hanya berbentuk perang konvensional.

Hybrid warfare, kecerdasan buatan (AI), serangan siber hingga teknologi udara menjadi tantangan nyata yang harus diantisipasi sejak dini.

Ia mencontohkan bagaimana serangan udara modern mampu melumpuhkan kota-kota strategis dalam waktu singkat.

Karena itu, kekuatan TNI dan institusi keamanan nasional harus siap menghadapi ancaman tradisional maupun nontradisional secara bersamaan.

“Tidak boleh ada single approach. Semua kemungkinan ancaman harus diantisipasi,” tegasnya.

Diplomasi Zero Enemy dan Seribu Teman

Dalam kebijakan luar negeri, SBY kembali menekankan konsep zero enemy thousand friends.

Menurutnya, diplomasi bebas aktif berarti Indonesia bebas menentukan sikap sekaligus aktif menjalin kerja sama.

Ia menilai kerja sama internasional tetap penting, termasuk dalam forum global seperti G20, karena keputusan negara besar dapat berdampak pada negara lain meski tidak terlibat langsung dalam konflik.

Di tengah era kecerdasan buatan dan teknologi maju, ia juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, riset, serta inovasi teknologi.

Baginya, kepemimpinan nasional, akademisi, hingga masyarakat sipil harus bersatu menghadapi masa krusial menuju Indonesia Emas 2045.

“Dalam masa krisis, yang paling penting adalah persatuan pikiran dan langkah,” pungkasnya.

Editor : Krisna Pambudi
#pertumbuhan ekonomi indonesia #hybrid warfare indonesia #middle income trap #pesan strategis SBY untuk Prabowo #diplomasi bebas aktif