RADAR TULUNGAGUNG - IHSG jatuh tajam usai kabar dari MSCI yang menyoroti isu transparansi pasar modal Indonesia dan besaran saham beredar (free float). Namun pemerintah menilai penurunan IHSG akibat MSCI tersebut hanya reaksi berlebihan dan bersifat sementara.
Isu yang mencuat adalah penilaian MSCI terhadap pasar saham Indonesia yang dianggap kurang transparan serta masih maraknya praktik “goreng saham”. Selain itu, perhatian juga tertuju pada persentase free float sejumlah emiten yang dinilai belum ideal sehingga rentan dimainkan.
Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah memastikan bahwa persoalan yang disorot MSCI akan segera dibereskan sebelum batas evaluasi berikutnya pada Mei mendatang. Dengan begitu, dampak IHSG jatuh akibat MSCI diyakini tidak akan berlangsung lama.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia memastikan seluruh catatan yang disebutkan MSCI akan ditindaklanjuti sebelum tenggat waktu evaluasi.
“Ini baru laporan pertama, masih ada waktu sampai Mei. Semua akan diberikan dan diperbaiki sebelumnya,” ujarnya.
Isu Transparansi dan Free Float
Dalam laporan terbarunya, MSCI menyoroti aspek transparansi, tata kelola, serta besaran saham beredar di publik. Free float yang rendah dinilai berpotensi membuat harga saham lebih mudah dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu.
Kondisi ini memicu kekhawatiran investor global, terutama yang mengacu pada indeks MSCI sebagai acuan investasi. Jika sebuah saham atau negara mendapat catatan negatif, arus dana asing berpotensi tertahan bahkan keluar dari pasar.
Namun pemerintah menilai kekhawatiran tersebut terlalu dini. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan justru sedang dalam fase perbaikan serius, baik dari sisi moneter, fiskal, maupun investasi.
Koordinasi OJK dan BEI
Terkait praktik “goreng saham” yang disebut-sebut masih terjadi, pemerintah telah meminta OJK untuk berkoordinasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) serta otoritas terkait lainnya.
Langkah pengawasan pasar modal akan diperketat. Jika hingga akhir Maret tidak ada perkembangan signifikan, pemerintah bahkan membuka kemungkinan turun tangan langsung melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Upaya pembenahan tidak hanya difokuskan pada pasar saham, tetapi juga pada sektor fiskal dan kepabeanan. Pemerintah mengumumkan akan melakukan rotasi besar-besaran terhadap ratusan pejabat Bea Cukai untuk meningkatkan kinerja dan integritas.
Fundamental Ekonomi Diklaim Solid
Di tengah tekanan pasar, pemerintah menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap dalam jalur positif. Sinkronisasi kebijakan moneter dan fiskal disebut semakin solid.
Pertumbuhan basis moneter (M0) diklaim bergerak sesuai harapan. Dari sisi fiskal, pemerintah berkomitmen mengoptimalkan penerimaan pajak dan cukai tanpa menaikkan tarif. Strateginya adalah memperbaiki sistem pemungutan dan menekan kebocoran.
Belanja kementerian dan lembaga juga akan didorong agar lebih tepat waktu dan tepat sasaran untuk menjaga daya dorong ekonomi. Selain itu, pemerintah berjanji memperbaiki iklim investasi melalui percepatan penanganan kasus-kasus strategis yang berdampak pada kepercayaan investor.
Target pertumbuhan ekonomi 6 persen tahun ini tetap dipertahankan. Bahkan, jika sinergi kebijakan berjalan optimal, peluang pertumbuhan lebih tinggi dinilai terbuka.
“Good Time to Buy”?
Menariknya, di tengah tekanan akibat isu MSCI, pemerintah justru melihat situasi ini sebagai peluang. Penurunan IHSG akibat MSCI dinilai lebih dipicu sentimen negatif ketimbang pelemahan fundamental.
“Kalau kita tahu ini akan diperbaiki sebelum Mei, harusnya ini good time to buy,” ujar pejabat tersebut.
Pernyataan ini memberi sinyal optimisme bahwa pasar saham Indonesia akan kembali menguat dalam waktu dekat. Bahkan diprediksi, dalam beberapa pekan ke depan IHSG berpotensi rebound seiring kejelasan langkah regulator.
Meski demikian, investor tetap diimbau mencermati perkembangan kebijakan dan aksi nyata regulator dalam menjawab catatan MSCI. Kepercayaan pasar global sangat bergantung pada konsistensi reformasi dan transparansi yang dijanjikan.
Penurunan IHSG akibat MSCI menjadi alarm penting bagi pasar modal nasional. Namun jika pembenahan berjalan sesuai rencana dan fundamental ekonomi tetap terjaga, tekanan ini bisa berubah menjadi momentum penguatan baru bagi pasar saham Indonesia.
Editor : Lucky Naiha Syafira