RADAR TULUNGAGUNG - Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menegaskan ambisinya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus level 6,7 persen hingga 7 persen. Target ini lebih tinggi dari capaian rata-rata yang selama ini masih tertahan di kisaran 5 persen.
Dalam pernyataannya di program Abar Indonesia Pagi, Purbaya mengungkapkan bahwa berbagai lembaga internasional sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya di angka 4,9 persen. Bahkan, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) serta JP Morgan sempat berada pada kisaran prediksi yang sama.
Namun, perubahan mulai terlihat setelah data ekonomi pada triwulan keempat menunjukkan perbaikan signifikan. Angka pertumbuhan melonjak dari kisaran lima persen menjadi 5,39 persen atau dibulatkan 5,4 persen. Lonjakan ini dinilai sebagai titik balik penting yang memengaruhi persepsi para analis global.
“Begitu kita bisa menunjukkan arah perbaikan di triwulan keempat, dari 5 poin sekian jadi 5,39 atau 5,4 persen, itu kan ada break dari struktur turun tiba-tiba naik. Semua melihat itu dan merubah prediksi ekonomi,” ujar Purbaya.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Direvisi Naik
Setelah data terbaru dirilis, IMF dan JP Morgan pun merevisi proyeksi mereka. Keduanya kini memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 5,2 persen untuk tahun berjalan. Purbaya bahkan optimistis bahwa revisi lanjutan akan terjadi pada pertengahan tahun, seiring dorongan pemerintah mempercepat laju ekonomi nasional.
Ia memperkirakan pertumbuhan bisa bergerak ke kisaran 5,6 hingga 6 persen dalam waktu dekat. Meski demikian, target jangka menengah tetap diarahkan ke level 6,7 hingga 7 persen agar Indonesia mampu keluar dari jebakan pertumbuhan stagnan di angka lima persen.
Menurutnya, pola kerja para analis ekonomi global cenderung mengikuti data terakhir yang dirilis. Jika angka menunjukkan tren kenaikan, maka proyeksi pun ikut terkerek naik. Karena itu, pemerintah fokus memastikan data fundamental ekonomi menunjukkan tren positif secara konsisten.
Kunci di Ekonomi Domestik, Bukan Global
Purbaya menekankan bahwa tantangan utama bukanlah kondisi global, melainkan bagaimana mengelola ekonomi domestik dengan baik. Ia menyebut sekitar 90 persen kekuatan pertumbuhan ekonomi Indonesia berasal dari dalam negeri, sementara hanya 10 persen dipengaruhi faktor global.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan strategi pemerintah untuk memperkuat permintaan domestik (domestic demand), menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan pasar dalam negeri tetap kondusif bagi pelaku usaha nasional.
“Kita tidak bisa mengontrol ekonomi global. Kita tidak bisa mengatur kebijakan negara besar. Tapi kita bisa memastikan ekonomi dalam negeri berjalan optimal,” tegasnya.
Dalam konteks ini, stabilitas konsumsi rumah tangga, investasi domestik, serta belanja pemerintah menjadi mesin utama pertumbuhan. Jika ketiga komponen tersebut berjalan seimbang, guncangan global diyakini tidak akan terlalu berdampak signifikan terhadap ekonomi nasional.
Strategi Dongkrak Pertumbuhan ke Level 7 Persen
Untuk mencapai target 7 persen, pemerintah perlu memastikan reformasi struktural berjalan konsisten. Perbaikan iklim investasi, kemudahan perizinan, serta penguatan sektor riil menjadi faktor krusial.
Selain itu, penguatan sektor UMKM dan industri manufaktur juga dinilai mampu menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan basis pasar domestik yang besar, Indonesia memiliki keunggulan dibanding banyak negara lain yang sangat bergantung pada ekspor.
Optimisme Purbaya juga didukung oleh tren perbaikan data ekonomi terbaru yang menunjukkan adanya momentum positif. Jika tren ini terjaga hingga semester kedua, bukan tidak mungkin proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali direvisi naik oleh lembaga-lembaga internasional.
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah memilih fokus pada kekuatan internal. Strategi ini dinilai realistis mengingat struktur ekonomi Indonesia yang memang didominasi oleh konsumsi dan aktivitas domestik.
Dengan dorongan kebijakan yang tepat serta konsistensi menjaga stabilitas makroekonomi, target pertumbuhan 6,7 hingga 7 persen bukan sekadar wacana. Pemerintah kini berpacu dengan waktu untuk memastikan mesin ekonomi nasional benar-benar bekerja maksimal.
Editor : Lucky Naiha Syafira