Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Disorot Soal Kontribusi LPDP, Tasya Kamila Pamer 7 Program Usai Lulus dari Columbia University, Netizen: Tak Seimbang dengan Beasiswa Negara?

Manda Dwi Agustin • Kamis, 26 Februari 2026 | 13:25 WIB

Kontribusi LPDP Tasya Kamila dipertanyakan netizen usai ia pamer 7 program masa bakti, dinilai tak sebanding beasiswa negara.
Kontribusi LPDP Tasya Kamila dipertanyakan netizen usai ia pamer 7 program masa bakti, dinilai tak sebanding beasiswa negara.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Nama Tasya Kamila tengah ramai diperbincangkan setelah mengunggah rincian kontribusi masa baktinya sebagai penerima beasiswa LPDP.

Unggahan tersebut justru memicu kritik tajam dari sejumlah netizen yang menilai kontribusi LPDP versi Tasya belum sebanding dengan besarnya dana pendidikan yang dibiayai negara.

Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Tasya memaparkan tujuh poin kontribusi LPDP yang telah ia jalankan sejak lulus dari Columbia University pada 2018.

Mantan penyanyi cilik itu diketahui meraih gelar Master of Public Administration dan menyelesaikan masa studi di Amerika Serikat sebelum kembali ke Indonesia.

Baca Juga: Menteri Purbaya Geram! Kontroversi LPDP Berujung Blacklist, Dana Harus Kembali Plus Bunga

Sorotan terhadap kontribusi LPDP Tasya mencuat setelah warganet membandingkan program-program yang ia jalankan dengan ekspektasi publik terhadap alumni beasiswa negara.

Tak sedikit yang mempertanyakan dampak nyata dan skala kontribusinya bagi pembangunan nasional.

Komitmen Pulang dan Masa Bakti 2018–2023

Dalam klarifikasinya, Tasya menyebut kontribusi pertama adalah komitmennya untuk kembali ke Indonesia setelah lulus dan menjalani masa bakti sejak 2018 hingga 2023. Ia menegaskan tidak menetap di luar negeri dan memilih pulang untuk mengabdi.

Kedua, Tasya menyatakan berperan sebagai jembatan antara pemerintah dan publik. Dengan statusnya sebagai figur publik, ia mengaku aktif menyuarakan berbagai isu kebijakan agar lebih mudah dipahami masyarakat.

Ketiga, ia menjalankan gerakan akar rumput untuk keberlanjutan lingkungan melalui Yayasan Green Movement Indonesia. Program ini disebutnya fokus pada edukasi dan kampanye gaya hidup ramah lingkungan.

Keempat, Tasya aktif memberdayakan pemuda melalui talk show, seminar, dan workshop yang membahas pendidikan, kesehatan, hingga isu lingkungan hidup. Ia juga mengisi berbagai forum diskusi untuk generasi muda di sejumlah kota.

Baca Juga: Dwi Sasetyaningtyas dan Suami Siap Kembalikan Beasiswa LPDP Rp2 Miliar, Mertua Syukur Iwantoro Turun Tangan

Kelima, Tasya menjadi pengajar di platform pendidikan online dengan mengampu mata pelajaran geografi dan bahasa Inggris. Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk kontribusi langsung di bidang pendidikan.

Keenam, ia berperan aktif dalam industri kreatif nasional sekaligus melestarikan lagu “Anak Indonesia” yang pernah melekat dengan citranya sebagai penyanyi cilik.

Ketujuh, Tasya memanfaatkan media sosial untuk membagikan informasi parenting, tumbuh kembang anak, serta edukasi kesehatan guna mendukung visi Generasi Emas Indonesia.

Kritik Netizen: Disebut Mirip Program KKN

Namun, rincian kontribusi LPDP tersebut tidak sepenuhnya mendapat respons positif. Sejumlah netizen menilai program-program yang dipaparkan Tasya tidak jauh berbeda dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa.

Salah satu kritik datang dari akun TikTok @geof Metamia yang menyebut kontribusi tersebut setara dengan kegiatan ibu-ibu PKK atau program CSR perusahaan. Ia bahkan menyindir bahwa banyak kegiatan serupa dapat dilakukan tanpa harus menempuh pendidikan di universitas kelas dunia.

“Semua orang bisa mengerjakan hal seperti ini tanpa perlu Columbia University,” ujar akun tersebut dalam videonya yang kemudian viral dan menuai beragam tanggapan.

Baca Juga: Viral Bangga Anak Jadi WN Inggris, LPDP Panggil Suami Alumni Diduga Belum Tuntaskan Pengabdian, Terancam Kembalikan Dana Beasiswa?

Kritik lain menyoroti harapan publik agar penerima LPDP berkontribusi dalam bidang-bidang strategis seperti riset, ekonomi, teknik, atau kebijakan publik dengan dampak terukur secara nasional. Warganet menilai negara membutuhkan peneliti, ekonom, dan insinyur yang mampu menghadirkan inovasi nyata.

Perdebatan Soal Standar Kontribusi LPDP

Perdebatan ini kembali membuka diskusi tentang standar kontribusi penerima LPDP. Beasiswa yang bersumber dari dana abadi pendidikan tersebut memang mengharuskan penerimanya kembali ke Indonesia dan berkontribusi sesuai bidang keahlian.

Namun, bentuk kontribusi kerap diartikan beragam. Ada yang memilih jalur akademik dan riset, ada pula yang bergerak di sektor sosial, industri kreatif, hingga advokasi publik.

Kasus Tasya menunjukkan adanya perbedaan ekspektasi antara publik dan penerima beasiswa. Di satu sisi, Tasya merasa telah memenuhi kewajiban masa bakti dengan berbagai aktivitas sosial dan edukatif. Di sisi lain, sebagian masyarakat menuntut dampak yang lebih konkret dan terukur, mengingat besarnya dana pendidikan yang digelontorkan negara.

Hingga kini, polemik kontribusi LPDP Tasya Kabil masih menjadi perbincangan hangat di media sosial. Perdebatan tersebut sekaligus menjadi refleksi tentang bagaimana publik memaknai pengabdian dan kontribusi alumni beasiswa negara bagi Indonesia.


 

Editor : Manda Dwi Agustin
#beasiswa lpdp #tasya kamila #lpdp