TULUNGAGUNG - Program Internet Rakyat akhirnya resmi memasuki tahap komersial. Pada 19 Februari 2026, PT Solusi Sinergi Digital Tbk melalui anak usahanya PT Telemedia Komunikasi Pratama mengumumkan peluncuran komersial Internet Rakyat berbasis 5G Fixed Wireless Access (FWA) 1,4 GHz.
Peluncuran Internet Rakyat ini menjadi tonggak penting setelah proyek digarap selama dua tahun terakhir. Internet Rakyat diposisikan sebagai solusi internet rumah murah dengan kecepatan tinggi, menyasar masyarakat luas yang selama ini mengeluhkan mahalnya tarif dan lambatnya koneksi.
Kehadiran Internet Rakyat juga disebut sebagai jawaban atas ironi konektivitas digital di Indonesia. Di tengah penetrasi internet yang terus meningkat, tarif internet dinilai masih relatif mahal dibanding negara ASEAN lain, sementara kecepatan rata-rata kerap berada di peringkat bawah kawasan.
Menang Lelang Frekuensi 1,4 GHz
Langkah besar dimulai saat PT Solusi Sinergi Digital memenangkan lelang pita frekuensi 1,4 GHz untuk wilayah Jawa, Maluku, dan Papua. Kemenangan ini menjadi fondasi utama pengembangan layanan broadband berbasis 5G.
Spektrum 1,4 GHz dinilai memiliki keunggulan penetrasi indoor yang lebih baik dibanding spektrum lain. Artinya, sinyal lebih stabil saat digunakan di dalam rumah. Hal ini menjadi nilai tambah bagi pelanggan rumah tangga, khususnya di kawasan urban dan semi-urban.
Teknologi yang digunakan adalah 5G Fixed Wireless Access (FWA). Berbeda dengan fiber optik yang membutuhkan penarikan kabel ke setiap rumah, sistem ini memanfaatkan jaringan nirkabel dari BTS ke modem pelanggan. Meski berbasis wireless, jaringan tetap ditopang backbone fiber nasional untuk menjaga stabilitas dan skalabilitas.
Perusahaan bahkan mengklaim Internet Rakyat sebagai layanan 5G FWA 1,4 GHz pertama di dunia.
Antusiasme Tembus 1 Juta Pendaftar
Respon publik terhadap Internet Rakyat terbilang tinggi. Dalam waktu kurang dari dua bulan, lebih dari satu juta calon pelanggan tercatat melakukan praregistrasi.
Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa pasar membutuhkan alternatif internet murah, cepat, dan inklusif. Terutama bagi segmen masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses broadband dengan harga terjangkau.
Setelah tahap praregistrasi, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menerbitkan izin penggunaan pita frekuensi radio. Dengan terbitnya izin tersebut, jalur regulasi dinyatakan terbuka.
Namun perusahaan tidak langsung melakukan komersialisasi. Mereka terlebih dahulu menjalani serangkaian uji teknis dan uji laik operasi (ULO).
Lulus Uji Laik Operasi
Pengujian dilakukan di sejumlah lokasi strategis seperti Stasiun Duri, Stasiun Brebes, Stasiun Kiara Condong, dan Stasiun Sidoarjo. Pengujian mencakup kecepatan akses, latensi, kestabilan jaringan, hingga pengalaman pengguna.
Hasilnya, jaringan dinyatakan lulus uji laik operasi. Sertifikat resmi diterbitkan regulator, menandakan Internet Rakyat sah secara teknis dan hukum untuk digunakan publik.
Dengan keluarnya sertifikat tersebut, perusahaan menetapkan 19 Februari 2026 sebagai tanggal peluncuran komersial resmi.
Tarif Rp100 Ribu Unlimited 100 Mbps
Dari sisi harga, Internet Rakyat menawarkan paket utama Rp100 ribu per bulan dengan kecepatan hingga 100 Mbps tanpa batas kuota (unlimited). Paket ini sudah termasuk gratis instalasi dan gratis sewa modem.
Skema harga tersebut disebut telah disesuaikan dengan regulasi Komdigi dan menyasar pasar mass market. Strateginya jelas: memperluas penetrasi internet rumah dengan tarif yang lebih terjangkau.
Pendaftaran dapat dilakukan melalui aplikasi IRA, situs resmi, maupun melalui sales di area layanan.
Perusahaan menargetkan lebih dari 5 juta pelanggan di wilayah Jawa, Maluku, dan Papua pada 2026. Untuk mendukung ambisi tersebut, sekitar 5.500 site jaringan aktif direncanakan dibangun tahun ini.
Menuju Pemerataan Akses Digital
Secara strategis, Internet Rakyat diproyeksikan sebagai platform fixed broadband nasional yang terjangkau. Tujuannya mempercepat pemerataan akses digital sekaligus mendorong transformasi ekonomi berbasis internet.
Jika sebelumnya internet cepat dianggap sebagai layanan premium, kini konsep yang diusung adalah konektivitas sebagai kebutuhan dasar. Dengan dukungan 5G FWA dan fondasi fiber, layanan ini diharapkan mampu menghadirkan kualitas stabil dengan harga kompetitif.
Peluncuran komersial ini sekaligus menandai fase eksekusi penuh setelah proyek dikembangkan selama dua tahun. Internet Rakyat bukan lagi sekadar wacana, melainkan layanan berlisensi yang siap digunakan masyarakat secara massal.
Kini publik tinggal menanti bagaimana implementasinya di lapangan. Apakah Internet Rakyat benar-benar mampu menjadi solusi internet murah dan cepat bagi jutaan rumah tangga Indonesia? Waktu yang akan menjawab.
Editor : Axsha Zazhika