RADAR TULUNGAGUNG - Isu air strike menghancurkan Jakarta menjadi sorotan dalam diskusi tentang arah doktrin pertahanan Indonesia menghadapi ancaman perang modern.
Dalam pemaparannya, narasumber menegaskan bahwa perubahan lanskap konflik global memaksa Indonesia untuk memperkuat strategi air power sekaligus menafsirkan ulang politik luar negeri bebas aktif agar tetap relevan.
Menurutnya, skenario serangan udara ke ibu kota bukan lagi hal mustahil di era modern warfare.
Jika terjadi air strike menghancurkan Jakarta, maka pusat pemerintahan bisa saja dipindahkan ke Bandung, Surabaya, atau kota besar lain.
Namun pertanyaannya, apakah sistem pertahanan nasional sudah benar-benar siap menghadapi situasi tersebut ?
Bebas Aktif Bukan Berarti Pasif
Ia menekankan pentingnya memahami konsep politik luar negeri Indonesia secara tepat.
Politik bebas aktif, katanya, bukan berarti Indonesia tidak ikut dalam dinamika global atau bersikap netral tanpa sikap.
“Bebas itu menentukan posisi kita sendiri. Aktif itu berdiplomasi,” tegasnya.
Konsep tersebut bahkan dilengkapi dengan pendekatan all direction foreign policy: zero enemy and thousand friends.
Artinya, Indonesia harus membangun sebanyak mungkin mitra strategis tanpa menciptakan musuh.
Dalam konteks ancaman air strike menghancurkan Jakarta, strategi diplomasi pertahanan menjadi krusial untuk mencegah eskalasi konflik.
Evolusi Perang Modern dan Tantangan Baru
Perang telah berevolusi sejak abad ke-18 hingga kini memasuki era revolusi militer berbasis teknologi.
Dari perang konvensional, konflik kini merambah ke bentuk hybrid warfare, ancaman non-tradisional, hingga serangan berbasis kecerdasan buatan (AI based warfare).
Ancaman tidak lagi sekadar invasi darat atau perang terbuka. Kini, serangan bisa berbentuk cyber attack, disinformasi, sabotase sistem vital, hingga serangan nuklir maupun non-nuklir.
“Anything can happen,” ujarnya, menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terpaku pada satu pendekatan saja.
Karena itu, kekuatan TNI, kepolisian, dan seluruh elemen pertahanan harus siap menghadapi berbagai skenario, termasuk jika benar terjadi air strike menghancurkan Jakarta.
Pendekatan single strategy dinilai tidak lagi memadai dalam menghadapi kompleksitas ancaman modern.
Air Power Jadi Pilar Strategis
Dalam doktrin lama, Indonesia menganut strategi pertahanan berlapis: menghadang musuh di perbatasan, mempertahankan pantai dan pulau besar, hingga menerapkan perang gerilya jika diperlukan.
Namun dalam konteks modern warfare, serangan udara jarak jauh mampu menembus pertahanan konvensional dalam hitungan menit.
Karena itu, penguatan air power dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Superioritas udara memungkinkan Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki daya tangkal (deterrence) yang kuat.
“Kalau dulu kita hadang di perjalanan, sekarang begitu ada air strike menghancurkan Jakarta, apa yang kita lakukan?” katanya retoris.
Pertanyaan itu menjadi refleksi penting bahwa modern doctrine dan modern technology harus diadopsi secara serius.
Investasi pada radar canggih, sistem pertahanan udara berlapis, drone tempur, hingga integrasi teknologi AI dalam sistem komando menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Siap di Era Teknologi dan Robotik
Selain kekuatan militer konvensional, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi kunci.
Dunia kini bergerak ke arah advanced technology, robotik, dan sistem perang berbasis otomatisasi.
Indonesia, menurutnya, tidak boleh terjebak pada pola pikir lama. Penguatan skill, pembaruan sistem organisasi, serta reformasi doktrin menjadi agenda yang tak bisa ditunda.
Hybrid warfare, yang menggabungkan serangan militer dan non-militer, menuntut kesiapan lintas sektor.
Serangan tidak selalu berupa bom atau rudal, tetapi bisa berbentuk manipulasi informasi, sabotase ekonomi, hingga gangguan sistem digital nasional.
Dalam situasi seperti itu, politik bebas aktif tetap relevan selama diiringi dengan kesiapan pertahanan yang konkret.
Diplomasi tanpa kekuatan pertahanan akan lemah, sementara kekuatan militer tanpa diplomasi bisa memicu isolasi internasional.
Kesimpulannya, skenario air strike menghancurkan Jakarta bukan untuk menebar ketakutan, melainkan menjadi alarm bahwa Indonesia harus menyesuaikan diri dengan evolusi perang modern.
Penguatan air power, reformasi doktrin, dan diplomasi aktif menjadi tiga pilar utama agar negara tetap berdaulat di tengah ketidakpastian global.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan