Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

SBY Soroti Doktrin Pertahanan Indonesia, Tekankan Air Power dan AI Hadapi Perang Modern yang Bisa Sasar Jakarta hingga Industri Strategis

Muhamad Ahsanul Wildan • Jumat, 27 Februari 2026 | 17:40 WIB

SBY soroti doktrin pertahanan Indonesia, tekankan air power dan AI hadapi perang modern yang bisa sasar Jakarta.
SBY soroti doktrin pertahanan Indonesia, tekankan air power dan AI hadapi perang modern yang bisa sasar Jakarta.

RADAR TULUNGAGUNG - Doktrin pertahanan Indonesia harus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Itulah pesan tegas Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY saat menyampaikan kuliah umum di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).

Dalam paparannya, SBY menekankan bahwa doktrin pertahanan Indonesia tidak lagi bisa bertumpu pada pola lama yang memprioritaskan kekuatan angkatan darat.

Menurutnya, perang modern telah berubah drastis, sehingga kekuatan udara atau air power kini menjadi faktor yang sangat menentukan.

SBY menjelaskan, doktrin pertahanan Indonesia harus mampu membaca pola konflik global dalam beberapa tahun terakhir.

Ia mencontohkan bagaimana serangan udara dalam perang modern kerap langsung menyasar pusat pemerintahan dan objek vital strategis suatu negara.

“Kalau dulu seolah-olah angkatan darat menjadi prioritas utama, sekarang frame air power ini sangat penting.

Perang modern menggunakan teknologi modern dan doktrin yang juga harus modern,” tegasnya.Baca Juga: Sebanyak 117 Gerai KDMP di Tulungagung Dibangun, Ketersediaan Lahan Jadi Kendala Utama

Serangan Udara Bisa Sasar Ibu Kota dan Industri Strategis

Dalam kuliah umum tersebut, SBY menggambarkan skenario terburuk yang harus diantisipasi Indonesia.

Ia menyebut kemungkinan serangan langsung ke ibu kota Jakarta, termasuk pusat pemerintahan dan fasilitas strategis lainnya.

Tak hanya itu, objek vital industri pertahanan seperti PT Pindad di Bandung yang memproduksi alat utama sistem persenjataan (alutsista), serta PT PAL Indonesia di Surabaya yang menyuplai kapal perang, juga dinilai berpotensi menjadi target.

Menurut SBY, dalam doktrin lama, strategi pertahanan lebih menekankan pada upaya menghadang musuh di garis pantai, pulau-pulau besar, hingga melancarkan serangan balasan. Namun dalam konteks perang modern, pendekatan tersebut tidak lagi cukup.

“Jika serangan langsung menghantam Jakarta, Pindad di Bandung, atau PAL di Surabaya, apa yang kita lakukan ? Ini yang harus dijawab dengan kesiapan strategis yang matang,” ujarnya.

SBY mengingatkan bahwa ancaman tidak lagi datang secara konvensional dan bertahap.

Dengan kemajuan teknologi militer, serangan bisa berlangsung cepat, presisi tinggi, dan berdampak besar dalam waktu singkat.

Perang Siber, AI, dan Hybrid Warfare

Selain menekankan pentingnya air power dalam doktrin pertahanan Indonesia, SBY juga menyoroti dimensi baru peperangan, yakni perang siber dan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Ia menyebut era robotik dan AI telah mengubah lanskap konflik global. Negara-negara kini berlomba memperkuat sistem pertahanan berbasis teknologi canggih, termasuk sistem senjata otonom dan pengolahan data intelijen berbasis AI.

“Perang modern itu multidimensi. Darat, laut, udara, siber, dan informasi harus siap secara bersamaan,” jelasnya.

Konsep hybrid warfare atau perang hibrida, lanjut SBY, juga menjadi tantangan serius.

Model perang ini memadukan operasi militer konvensional dengan serangan siber, disinformasi, propaganda, hingga tekanan ekonomi.

Karena itu, ia menilai doktrin pertahanan Indonesia harus diperbarui secara komprehensif.

Tidak cukup hanya memperkuat satu matra, melainkan seluruh komponen pertahanan negara secara terintegrasi.

Adaptasi Doktrin dan SDM Jadi Kunci

SBY menegaskan bahwa modernisasi pertahanan bukan sekadar pembelian alutsista baru.

Lebih dari itu, Indonesia harus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang adaptif terhadap perkembangan teknologi militer.

Menurutnya, kebijakan pertahanan juga harus fleksibel dan mampu merespons dinamika geopolitik global.

Tanpa pembaruan doktrin dan peningkatan kapasitas SDM, Indonesia berisiko tertinggal dalam menghadapi ancaman masa depan.

“Modern technology, modern doctrine, semuanya harus siap,” tandasnya.

Pernyataan SBY ini menjadi pengingat bahwa doktrin pertahanan Indonesia tidak bisa statis.

Di tengah percepatan teknologi dan kompleksitas konflik global, strategi pertahanan harus terus dievaluasi agar mampu menjaga kedaulatan negara.

Kuliah umum di Lemhannas tersebut sekaligus menjadi refleksi penting bagi para pemangku kebijakan, militer, dan akademisi untuk merumuskan arah baru pertahanan nasional.

Dengan ancaman yang semakin kompleks dan tak kasatmata, kesiapan multidimensi menjadi keniscayaan.

Doktrin pertahanan Indonesia, sebagaimana ditegaskan SBY, harus mampu menjawab tantangan zaman dari air power hingga kecerdasan buatan.

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#sby #Air power #artificial intelligence #doktrin pertahanan Indonesia #perang modern