Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

SBY Soroti Air Power di Era Perang Modern, Doktrin Pertahanan Indonesia Diminta Berubah Total dari Andalkan Angkatan Darat

Muhamad Ahsanul Wildan • Jumat, 27 Februari 2026 | 17:45 WIB

SBY soroti pentingnya air power di era perang modern dan minta doktrin pertahanan Indonesia segera berubah total.
SBY soroti pentingnya air power di era perang modern dan minta doktrin pertahanan Indonesia segera berubah total.

RADAR TULUNGAGUNG - Air power menjadi sorotan utama Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono dalam kuliah umum di Lemhanas RI.

Dalam paparannya, SBY menegaskan bahwa kekuatan udara kini menjadi faktor penentu dalam menghadapi ancaman dan perang modern.

Menurut SBY, paradigma lama pertahanan Indonesia yang cenderung mengutamakan kekuatan angkatan darat harus dievaluasi ulang.

Air power, kata dia, bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan elemen strategis yang menentukan hasil konflik di era persenjataan jarak jauh dan teknologi tinggi.

Pernyataan SBY tentang air power ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap doktrin pertahanan konvensional yang selama ini bertumpu pada pertahanan wilayah darat, pantai, dan konsep perang gerilya.

Doktrin Lama Dinilai Kurang Relevan

Dalam kuliahnya, SBY menjelaskan bahwa sejak dulu Indonesia menempatkan angkatan darat sebagai prioritas utama.

Doktrin pertahanan disusun dengan asumsi bahwa jika terjadi serangan, musuh akan dihadang di sepanjang perjalanan, mulai dari pertahanan pantai, pulau-pulau besar, hingga perang gerilya dan serangan balasan.

Model pertahanan tersebut, lanjut SBY, memang relevan pada masanya. Namun, lanskap peperangan telah berubah drastis.

Perkembangan teknologi militer memungkinkan serangan dilakukan dari jarak jauh tanpa harus mengirim pasukan darat dalam jumlah besar.

“Sekarang begitu ada air strike menghancurkan Jakarta, pindah ke Bandung, lalu ke Surabaya dan kota-kota lain, apa yang kita lakukan ?” kira-kira demikian ilustrasi yang disampaikan SBY untuk menggambarkan ancaman nyata dari serangan udara modern.

Pernyataan itu menegaskan bahwa ancaman bukan lagi datang secara konvensional melalui invasi darat, melainkan melalui serangan udara presisi tinggi yang mampu melumpuhkan pusat pemerintahan, infrastruktur vital, hingga fasilitas pertahanan dalam waktu singkat.

Air Power Jadi Penentu Kemenangan

Dalam konteks perang modern, air power mencakup kemampuan pesawat tempur, sistem pertahanan udara, rudal jarak jauh, hingga teknologi drone dan satelit.

Negara yang unggul dalam kekuatan udara cenderung mampu mengendalikan jalannya konflik.

SBY menilai, jika Indonesia tetap bertumpu pada doktrin lama, maka akan menghadapi kesenjangan serius dalam menghadapi ancaman berbasis teknologi.

Serangan udara yang terkoordinasi bisa langsung menyasar ibu kota, pangkalan militer, pelabuhan, maupun pusat industri strategis tanpa peringatan panjang.

Karena itu, modernisasi alutsista dan penguatan sistem pertahanan udara menjadi kebutuhan mendesak.

Pertahanan tidak lagi cukup hanya dengan membangun kekuatan darat yang besar, melainkan harus diimbangi dengan kemampuan deteksi dini, radar canggih, hingga sistem penangkal rudal.

Tantangan Strategis bagi Indonesia

Pernyataan SBY di Lemhanas RI juga mengandung pesan strategis bagi para pemangku kebijakan.

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki wilayah yang sangat luas dan rentan terhadap berbagai bentuk ancaman.

Jika pusat-pusat strategis seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya bisa menjadi target serangan udara dalam waktu singkat, maka sistem pertahanan nasional harus dirancang untuk mampu merespons secara cepat dan efektif.

SBY tidak secara eksplisit mengkritik kebijakan tertentu, namun penekanannya pada pentingnya air power menunjukkan perlunya penyesuaian doktrin pertahanan nasional.

Pergeseran dari dominasi angkatan darat menuju keseimbangan dengan kekuatan udara menjadi wacana yang tak terhindarkan.

Perubahan Paradigma Pertahanan

Air power bukan berarti meniadakan peran angkatan darat atau laut. Namun, menurut SBY, komposisi dan prioritas harus disesuaikan dengan perkembangan ancaman global.

Perang modern ditandai dengan serangan presisi, kecepatan, dan dominasi teknologi. Tanpa kesiapan menghadapi air strike, negara bisa kehilangan daya tangkal sebelum sempat mengerahkan pasukan darat.

Karena itu, pernyataan SBY ini dapat dibaca sebagai dorongan agar Indonesia mempercepat reformasi sektor pertahanan, baik dari sisi doktrin, pengadaan alutsista, maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Dengan dinamika geopolitik yang terus berubah, kekuatan udara atau air power kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis.

Jika tidak beradaptasi, Indonesia berisiko tertinggal dalam menghadapi pola perang modern yang semakin kompleks dan canggih.

 

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#pertahanan indonesia #sby #Lemhanas RI #Air power #perang modern