Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Autofagi saat Puasa Ramadan, Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Puasa Disebut Dahsyat bagi Kesehatan Tubuh

Natasha Eka Safrina • Sabtu, 28 Februari 2026 | 17:05 WIB

Manfaat puasa bagi kesehatan tubuh terbukti bantu istirahatkan organ pencernaan dan atur metabolisme lebih seimbang.
Manfaat puasa bagi kesehatan tubuh terbukti bantu istirahatkan organ pencernaan dan atur metabolisme lebih seimbang.

JAKARTA - Autofagi saat puasa Ramadan menjadi salah satu fenomena ilmiah yang kini banyak dibahas dalam dunia kesehatan. Tidak sekadar menahan lapar dan haus, puasa ternyata memicu proses biologis penting yang berdampak besar bagi tubuh.

Banyak orang mengira puasa hanya berdampak pada penurunan berat badan. Padahal, autofagi saat puasa Ramadan menunjukkan bahwa tubuh melakukan “pembersihan” sel secara alami ketika berada dalam kondisi lapar. Proses ini berkaitan langsung dengan penurunan gula darah, tekanan darah, hingga berkurangnya peradangan.

Secara medis, autofagi saat puasa Ramadan terjadi ketika tubuh tidak menerima asupan energi dalam waktu tertentu. Saat itulah tubuh beralih menggunakan cadangan energi sekaligus memperbaiki sel-sel yang rusak.

Baca Juga: Viral Tabel Angsuran KUR BRI 2026 Bisa Tanpa Jaminan hingga Rp100 Juta, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Kenaikan Pensiun

Apa Itu Autofagi?

Autofagi adalah proses ketika sel tubuh “memakan” atau mendaur ulang bagian sel yang rusak. Mekanisme ini penting untuk menjaga kualitas dan fungsi sel tetap optimal. Dalam kondisi kenyang terus-menerus, proses ini cenderung tidak aktif.

Namun ketika seseorang berpuasa, terutama dalam durasi panjang seperti Ramadan, tubuh memasuki fase metabolik yang berbeda. Kadar gula darah turun, produksi insulin menurun, dan tubuh mulai mengaktifkan sistem pertahanan serta perbaikan sel.

Proses inilah yang membuat puasa disebut memiliki dampak dahsyat. Tubuh memproduksi lebih banyak antioksidan, mengurangi peradangan, meningkatkan pembakaran lemak, serta memperkuat sistem imun.

Turunkan Gula Darah dan Tekanan Darah

Selain mengaktifkan autofagi, puasa juga berpengaruh pada stabilitas metabolisme. Ketika tidak ada asupan makanan, tubuh menggunakan glikogen yang tersimpan di hati sebagai sumber energi. Setelah cadangan ini menurun, tubuh mulai membakar lemak.

Kondisi ini berkontribusi pada penurunan kadar gula darah dan tekanan darah. Pembakaran lemak yang meningkat juga membantu mengurangi penumpukan plak di pembuluh darah, sehingga berpotensi menjaga kesehatan jantung.

Tak hanya itu, puasa disebut mampu melindungi fungsi otak dan membantu tubuh lebih tahan terhadap stres. Adaptasi metabolik selama puasa membuat tubuh belajar mengelola energi secara lebih efisien.

Baca Juga: Viral Simulasi Cicilan KUR BRI 2026 Bunga 6 Persen, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Kenaikan Pensiun

Sistem Imun dan “Tentara” dalam Tubuh

Dalam konsep biologis, tubuh memiliki sistem pertahanan alami yang bekerja seperti “tentara”. Ketika terjadi luka, misalnya, sel darah merah, sel darah putih, dan berbagai sel imun langsung bekerja menghentikan perdarahan dan melawan infeksi.

Puasa membantu mengoptimalkan kerja sistem imun tersebut. Dengan berkurangnya peradangan kronis dan meningkatnya antioksidan, daya tahan tubuh menjadi lebih kuat.

Autofagi juga berperan membersihkan patogen, sisa sel lemak, serta komponen sel yang tidak lagi berfungsi. Bahkan, proses ini dikaitkan dengan pembaruan sel usus dan peningkatan elastisitas kulit.

Mengapa Harus Dalam Kondisi Lapar?

Autofagi hanya aktif dalam kondisi tertentu, salah satunya saat tubuh berada dalam keadaan lapar. Ketika seseorang terlalu sering makan atau dalam kondisi kekenyangan, proses ini sulit terpicu.

Baca Juga: Simulasi Cicilan KUR BRI 2026 Bunga 6 Persen Viral di YouTube, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Kenaikan Pensiun

Karena itu, dalam perspektif kesehatan, puasa menjadi momen penting untuk memberi “istirahat” pada tubuh. Tanpa jeda dari aktivitas makan, tubuh tidak memiliki kesempatan optimal untuk melakukan regenerasi sel.

Puasa Ramadan selama kurang lebih 30 hari menjadi pola intermiten alami yang memungkinkan tubuh melakukan proses pembersihan tersebut secara berkala.

Syaratnya: Pola Sahur dan Berbuka Harus Benar

Meski manfaatnya besar, hasil optimal sangat bergantung pada pola makan saat sahur dan berbuka. Jika makanan yang dikonsumsi tinggi lemak jenuh, gula berlebih, dan minyak, maka manfaat metabolik bisa berkurang.

Pola makan seimbang dengan asupan protein cukup, serat, buah, sayur, dan cairan yang memadai akan membantu proses autofagi berjalan lebih baik. Dengan kata lain, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga mengatur pola konsumsi secara bijak.

Secara keseluruhan, autofagi saat puasa Ramadan membuktikan bahwa ibadah ini memiliki dampak kesehatan yang signifikan. Dari penurunan gula darah, pengurangan peradangan, peningkatan imunitas, hingga proses regenerasi sel, semuanya menunjukkan bahwa puasa bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga mekanisme biologis yang luar biasa.

Baca Juga: KUR BRI 2026 Bunga 6 Persen Ramai Diburu, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Kenaikan Pensiun dan Rapel

Editor : Natasha Eka Safrina
#autofagi #kesehatan tubuh #puasa ramadan #manfaat puasa ramadan