JAKARTA - Keutamaan puasa Ramadan bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menjadi sebab diampuninya dosa serta peluang meraih malam Lailatul Qadar. Hal ini ditegaskan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan tercantum dalam kitab Sahih Bukhari serta Sahih Muslim.
Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala (iman wa ihtisaban), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Keutamaan puasa Ramadan ini menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk menjalankannya dengan penuh kesungguhan.
Keutamaan puasa Ramadan juga mencakup ibadah malam hari. Siapa yang menghidupkan malam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah momentum penghapusan dosa dan peningkatan derajat di sisi Allah.
Syarat: Iman dan Mengharap Pahala
Hadis tersebut menekankan dua syarat utama, yaitu iman dan ihtisab (mengharap pahala). Iman berarti meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang memerintahkan puasa dan memberi ganjaran. Sedangkan ihtisab berarti menjalankan puasa dengan niat tulus hanya mengharap ridha Allah, bukan pujian manusia.
Jika puasa dilakukan dengan dua landasan ini, maka ia menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil yang telah lalu. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadis adalah dosa kecil. Adapun dosa besar tetap memerlukan taubat khusus dengan penyesalan dan komitmen meninggalkan maksiat.
Meski disebut dosa kecil, bukan berarti boleh diremehkan. Dalam ajaran Islam, dosa sekecil apa pun tetap harus diselesaikan. Jika belum diampuni, ia bisa menjadi penghalang masuk surga sebelum disucikan terlebih dahulu.
Menghidupkan Malam Ramadan
Keutamaan puasa Ramadan tidak hanya terbatas pada siang hari. Rasulullah juga menyebut keutamaan bagi mereka yang menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah.
Menghidupkan malam tidak hanya berarti salat tarawih. Ia mencakup berbagai bentuk ibadah seperti membaca Alquran, berzikir, berdoa, dan salat malam lainnya. Intinya, malam Ramadan dipenuhi dengan aktivitas mendekatkan diri kepada Allah.
Bila sebagian besar waktu Ramadan diisi dengan ibadah, bahkan tidur karena kelelahan pun bernilai pahala selama diniatkan untuk memperkuat diri dalam ketaatan. Dengan pola hidup seperti ini, peluang bertemu Lailatul Qadar semakin besar.
Peluang Meraih Lailatul Qadar
Lailatul Qadar disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ini berada di sepuluh hari terakhir Ramadan dan berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil.
Orang yang konsisten beribadah sejak awal hingga akhir Ramadan memiliki peluang besar untuk meraihnya. Sebab, jika hampir seluruh waktunya diisi dengan kebaikan, maka hampir pasti ia akan berjumpa dengan malam penuh kemuliaan tersebut.
Keutamaan puasa Ramadan mencapai puncaknya ketika seseorang memperoleh Lailatul Qadar. Selain pahala yang berlipat ganda, ia juga mendapatkan ampunan dari Allah atas dosa-dosa yang telah lalu.
Jangan Tinggalkan Puasa Tanpa Uzur
Puasa Ramadan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat. Meninggalkannya tanpa uzur syar’i termasuk dosa besar. Uzur yang dibenarkan seperti sakit, safar, atau kondisi tertentu yang diatur dalam fikih.
Karena itu, umat Islam diingatkan agar tidak meremehkan kewajiban ini. Selain pahala besar yang dijanjikan, meninggalkan puasa tanpa alasan yang sah membawa konsekuensi berat di sisi Allah.
Ramadan adalah kesempatan emas setahun sekali. Di dalamnya terdapat pahala berlipat, ampunan dosa, serta peluang menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dengan memahami keutamaan puasa Ramadan sebagaimana dijelaskan dalam hadis sahih, umat Islam diharapkan lebih serius menjalankannya. Puasa tidak boleh sekadar rutinitas, melainkan ibadah yang dilakukan dengan iman, keikhlasan, dan harapan besar akan ampunan serta kemuliaan di dunia dan akhirat.
Editor : Natasha Eka Safrina