JAKARTA - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, kembali memberikan pencerahan mendalam mengenai sejarah Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam sebuah seminar, ulama kharismatik asal Rembang ini membedah asal-usul mengapa umat Islam saat ini terbagi ke dalam berbagai golongan dan pentingnya mengikuti kelompok mayoritas (jam’iyah) seperti NU dan Muhammadiyah untuk menjaga keutuhan beragama.
Gus Baha menjelaskan bahwa istilah Islam mulai populer sejak era Nabi Muhammad SAW. Namun, perpecahan atau munculnya berbagai firqah (golongan) mulai meruncing pasca wafatnya Rasulullah, terutama di era Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. Di sinilah titik balik sejarah Ahlussunnah Wal Jamaah menjadi sangat krusial sebagai penengah di antara faksi-faksi yang bertikai.
Baca Juga: Mengapa Iran Menjadi Syiah? Jejak Dinasti Safawi dan Perubahan Mazhab di Persia
Bahaya Kelompok Sok Suci dan Kemunculan Khawarij
Menurut Gus Baha, salah satu ancaman terbesar dalam sejarah Islam adalah munculnya kelompok yang merasa paling benar atau "sok suci". Kelompok ini dalam sejarah dikenal sebagai Khawarij. Mereka adalah golongan yang saking "khusyuknya" dalam beribadah, justru mudah mengafirkan orang lain.
"Wong sok suci itu paling bahaya dalam sejarah. Kelompok Khawarij itu menganggap semua dosa itu gede karena bentuk pelanggaran kepada Allah. Akhirnya Ali dianggap salah, Muawiyah dianggap salah. Mereka anti pada kelompok atau partai, ngerasa bener dewe," ujar Gus Baha dengan gaya bicaranya yang lugas.
Gus Baha menarik korelasi bahwa kelompok seperti Khawarij ini masih ada hingga saat ini, yang tercermin dalam gerakan terorisme atau bom bunuh diri. Mereka biasanya berangkat dari sikap anti-golongan dan merasa paling orisinal dalam menjalankan perintah Nabi, namun justru terjebak dalam perilaku yang ekstrem karena merasa suci sendiri.
Baca Juga: Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Ini Jejak Kepemimpinan dan Pengaruhnya di Iran
Mengapa Harus NU atau Muhammadiyah?
Dalam narasi sejarah Ahlussunnah Wal Jamaah, Gus Baha menekankan pentingnya konsep as-sawadul a’dham atau mengikuti kelompok mayoritas. Ia secara eksplisit menyebut bahwa di Indonesia, mengikuti organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah adalah pilihan yang paling aman secara akidah.
"Saya sering ditanya, Gus sampeyan tidak berpartai, terus organisasi apa yang diikuti? Saya jawab, asal NU atau Muhammadiyah itu mayoritas, saya ada di antara dua itu," tegasnya.
Alasannya sederhana namun logis. Menurut Gus Baha, kelompok besar memiliki peran nyata dalam "mendandani" umat. Adanya madrasah, langgar, dan pendidikan Islam yang bisa bersaing dengan sekolah non-muslim adalah jasa dari organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah. Hal ini jauh lebih baik daripada orang yang merasa paling sunnah tapi hanya diam di kamar tanpa berkontribusi pada pendidikan umat.
Memahami Tragedi Karbala dan Pecahnya Syiah
Gus Baha juga menyentuh bagian kelam dalam sejarah Islam, yaitu Tragedi Karbala yang menewaskan cucu Nabi, Sayyid Husein. Peristiwa ini menjadi akar dari lahirnya kelompok Syiah secara masif. Kelompok Syiah muncul dari rasa dendam dan trauma atas pembantaian di Karbala, yang kemudian melahirkan gerakan revolusi.
"Sejarah Syiah itu berangkat dari tragedi Husein. Semua penanggalan mereka mengacu pada 10 Muharram. Sementara itu, kelompok Sunni atau Ahlussunnah berusaha tetap dingin dan tidak ingin dendam itu berkelanjutan yang justru bisa merusak Islam dari dalam," jelas Gus Baha.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada penafsiran Islam yang keliru, seperti kelompok yang menganggap zaman sekarang masih "Periode Makiyah"—di mana kemungkaran tidak perlu dilawan—atau sebaliknya yang merasa sudah "Periode Madaniah" sehingga bertindak keras seperti FPI.
Memahami sejarah Ahlussunnah Wal Jamaah berarti memahami moderasi. Gus Baha mengajak umat Islam untuk tetap rendah hati, tidak merasa paling benar secara individu, dan tetap bersandar pada ulama-ulama dalam kerangka jamaah yang besar agar tidak mudah terombang-ambing oleh aliran kecil yang ekstrem.
Editor : Divka Vance Yandriana