JAKARTA – Memahami dinamika umat Islam tidak lepas dari catatan sejarah kelam yang menyertai wafatnya para sahabat besar Nabi Muhammad SAW. Ustaz Adi Hidayat dalam sebuah kajian mendalam membongkar bagaimana sejarah Syiah dan Khawarij bermula, yang awalnya merupakan faksi politik namun kemudian bergeser menjadi ideologi yang tajam. Tragedi ini bermula dari "pintu fitnah" yang terbuka lebar pasca wafatnya Umar bin Khattab dan mencapai puncaknya pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan.
Menurut Ustaz Adi Hidayat, Rasulullah SAW sebenarnya telah mempersiapkan Abu Bakar sebagai panutan, disusul oleh Umar yang tegas. Namun, sosok Abdullah bin Saba, seorang tokoh Yahudi yang berpura-pura masuk Islam, menjadi aktor intelektual di balik pecahnya ukhuwah Islamiyah. Strategi adu domba yang ia susun berhasil menciptakan polarisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam tubuh umat Islam.
Baca Juga: Mengapa Iran Menjadi Syiah? Jejak Dinasti Safawi dan Perubahan Mazhab di Persia
Runtuhnya Penjaga Gerbang dan Munculnya Abdullah bin Saba
Dalam narasi sejarah Syiah dan Khawarij, wafatnya Umar bin Khattab digambarkan sebagai pecahnya pintu gerbang keamanan umat. Umar yang tegas membuat setan pun enggan berpapasan dengannya. Namun, setelah ia wafat, kekhalifahan dilanjutkan oleh Utsman bin Affan, sosok yang sangat lembut dan pemalu. Kelembutan Utsman inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Abdullah bin Saba untuk menyebarkan isu nepotisme dan fitnah.
"Abdullah bin Saba mulai menyebarkan isu bahwa Utsman melakukan nepotisme karena memilih gubernur dari kalangan keluarganya sendiri. Ia juga memprovokasi massa dengan narasi bahwa hak Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah telah dirampas," jelas Ustaz Adi Hidayat. Gerakan provokatif ini berhasil menghasut kelompok awam dari luar Madinah hingga berujung pada pengepungan rumah Utsman dan pembunuhan sang khalifah saat sedang membaca Al-Qur'an.
Baca Juga: Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Dunia Soroti Dampaknya bagi Iran
Perang Shiffin dan Lahirnya Kelompok Khawarij
Pasca wafatnya Utsman, Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah dalam situasi yang sangat kacau. Konflik internal semakin meruncing ketika Muawiyah bin Abi Sufyan menunda baiat sebelum pembunuh Utsman ditemukan. Abdullah bin Saba kembali bermain di dua sisi, memanaskan suasana hingga meletuslah Perang Shiffin.
Saat pasukan Ali hampir memenangkan pertempuran, pihak Muawiyah menawarkan damai melalui Tahkim (arbitrase) dengan mengangkat mushaf Al-Qur'an. Di sinilah sejarah Syiah dan Khawarij menemukan titik balik yang paling ekstrem. Sebagian pengikut Ali menolak perdamaian tersebut dan keluar dari barisan. Mereka disebut Khawarij (orang yang keluar).
"Kelompok Khawarij ini merasa paling benar, paling rajin tahajud, dan paling hafal Al-Qur'an, namun tidak memiliki kedalaman ilmu. Mereka dengan mudah mengafirkan Ali, Muawiyah, dan siapa pun yang terlibat dalam Tahkim," tambah Ustaz Adi Hidayat. Kebencian Khawarij memuncak pada rencana pembunuhan terhadap Ali, Muawiyah, dan Amr bin Ash secara bersamaan.
Transformasi Syiah: Dari Politik ke Ideologi
Awalnya, kata Syiah hanyalah istilah politik yang merujuk pada Shi'atu Ali atau pengikut setia Ali bin Abi Thalib. Namun, pengaruh Abdullah bin Saba mengubah kesetiaan politik ini menjadi keyakinan ideologis yang ekstrem. Mereka mulai menolak segala sesuatu yang datang dari Abu Bakar, Umar, dan Utsman, bahkan menganggap para sahabat tersebut sebagai pengkhianat.
Fenomena ini melahirkan kelompok Rafidhah atau para penolak. "Perubahan dari faksi politik ke ideologi inilah yang membuat mereka mulai mencela sahabat dan menciptakan riwayat-riwayat sendiri untuk melegitimasi posisi mereka," tegas Ustaz Adi Hidayat.
Sejarah ini menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam saat ini agar tidak mudah terprovokasi oleh figur-figur yang tampak religius namun menyebarkan kebencian. Memahami sejarah Syiah dan Khawarij secara objektif adalah kunci untuk menghindari fitnah serupa di masa depan dan menjaga persatuan umat berdasarkan ilmu, bukan sekadar fanatisme buta.
Editor : Divka Vance Yandriana