Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bongkar Tuntas Fitnah Hamas Syiah, Pakar: Jangan Tertipu Standar Ganda Pemecah Belah Umat!

Divka Vance Yandriana • Senin, 2 Maret 2026 | 19:10 WIB

Benarkah Hamas Syiah? Simak fakta di balik hubungan Hamas dan Iran. Bongkar fitnah standar ganda dan strategi diplomasi mujahidin Gaza di sini!
Benarkah Hamas Syiah? Simak fakta di balik hubungan Hamas dan Iran. Bongkar fitnah standar ganda dan strategi diplomasi mujahidin Gaza di sini!

JAKARTA – Isu mengenai ideologi dan garis perjuangan Hamas kembali menjadi sorotan panas di jagat maya. Berbagai tuduhan miring yang menyebut Hamas sebagai "Syiah yang menyamar" hingga kritik tajam soal kedekatan pemimpin mereka dengan Teheran terus digulirkan oleh pihak-pihak tertentu. Menanggapi fenomena ini, analisis mendalam menyajikan fakta-fakta lapangan yang membantah keras tuduhan tersebut dan membongkar motif di balik hubungan Hamas dan Iran.

Narasi yang menyebut Hamas berakidah Syiah dinilai sebagai fitnah yang tidak berdasar dan "lucu". Secara faktual, jumlah penganut Syiah di Palestina sangatlah sedikit, bahkan jauh lebih kecil dibandingkan populasi Syiah di Arab Saudi. Hamas sendiri lahir dari rahim Ahlussunnah Wal Jamaah dengan mazhab Syafi'i yang dominan, sangat mirip dengan karakteristik keberagamaan umat Islam di Indonesia.

Baca Juga: Perbedaan Islam Sunni dan Syiah: Sejarah, Konsep Imamah, hingga Mazhab yang Membuat Umat Terbelah

Fakta Akidah Hamas dan Kesamaan dengan Indonesia

Penting untuk dipahami bahwa kurikulum pendidikan dan universitas Islam di Gaza berkiblat pada Al-Azhar, Mesir, yang merupakan benteng Sunni dunia. Jika seorang warga Palestina datang ke Indonesia, mereka tidak akan merasa asing dengan tata cara ibadah dan kajian yang ada. Ketertarikan dunia pada hubungan Hamas dan Iran seringkali mengabaikan realitas sosiologis bahwa Hamas adalah pejuang Sunni murni.

"Menuduh Hamas Syiah hanya karena hubungan diplomasi dengan Iran adalah logika yang cacat. Indonesia, Mesir, bahkan Arab Saudi pun memiliki hubungan diplomasi dengan Iran. Apakah kita lantas menyebut negara-negara tersebut Syiah menyamar? Tentu tidak," tegas pakar dalam sebuah kajian yang meluruskan misinformasi tersebut.

Tuduhan ini seringkali datang dari kelompok yang menggunakan standar ganda. Di satu sisi mereka bungkam saat negara Arab menjalin kerja sama perdagangan dengan Zionis atau memuji negara-negara yang menindas Muslim di Kashmir dan Xinjiang, namun di sisi lain mereka menyerang habis-habisan strategi diplomasi yang dilakukan para mujahidin Gaza.

Baca Juga: Ali Khamenei Tewas Diserang AS-Israel, Ini Jejak Kepemimpinan dan Perannya dalam Revolusi Iran

Strategi Diplomasi: Mengapa Harus Iran?

Salah satu poin krusial yang sering disalahpahami adalah bantuan militer. Hamas terpaksa menerima dukungan dari Iran karena negara-negara tetangga dan "saudara kandung" Arab lainnya cenderung meninggalkan Palestina sendirian dalam urusan persenjataan. Saat wilayah Gaza dibombardir, rakyat tidak bisa membela diri hanya dengan bantuan makanan dan minuman.

"Yang harus disalahkan bukan Hamas yang menerima bantuan, melainkan saudara-saudaranya yang tidak menawarkan bantuan militer sama sekali. Ini ibarat orang kelaparan yang ditinggal saudaranya, lalu disalahkan karena menerima sembako dari tetangga yang beda pemahaman," ungkap narasi pembelaan terhadap Hamas.

Dalam sejarah Islam, kerja sama lintas kelompok demi kemerdekaan bukanlah hal baru. Saat Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis, pasukannya juga melibatkan warga dari berbagai latar belakang. Bahkan, Rasulullah SAW pun pernah menjalin koalisi dengan pihak luar demi stabilitas Madinah. Dalam konteks hubungan Hamas dan Iran, hal ini murni merupakan strategi bertahan hidup dan perlawanan.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Melonjak Tajam, Tembus USD 5.200! Sinyal Menuju 10.000 atau Awal Bubble Ekonomi?

Menepis Isu Pemimpin Mewah dan Pengecut

Fitnah lain yang tak kalah keji adalah tuduhan bahwa pemimpin Hamas hidup mewah di hotel luar negeri sementara rakyatnya tewas. Faktanya, Hamas memiliki dua sayap: sayap politik untuk diplomasi internasional dan sayap militer (Brigade Izzuddin Al-Qassam). Tokoh yang berada di luar negeri menjalankan tugas diplomasi serupa dengan peran Haji Agus Salim saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di forum internasional.

Kematian Yahya Sinwar di medan perang, bukan di dalam terowongan, menjadi bukti pamungkas yang membungkam mulut para pengkritik. Ia gugur bersama prajuritnya di garis terdepan, bukan bersembunyi. Deretan pemimpin seperti Syekh Ahmad Yasin, Ismail Haniyeh, hingga pimpinan militer lainnya telah syahid di tanah Palestina, membuktikan bahwa mereka bertaruh nyawa bersama rakyat.

Hamas memang bukan malaikat, namun saat ini mereka adalah garda terdepan yang menjaga harga diri umat Islam di Baitul Maqdis. Menghentikan penyebaran fitnah dan memahami realitas hubungan Hamas dan Iran secara jernih adalah bentuk dukungan nyata bagi perjuangan kemerdekaan Palestina.

Editor : Divka Vance Yandriana
#hamas #syiah #iran