Cuaca ekstrem hingga 5 Maret 2026 diprediksi masih akan menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi ini bukan sekadar hujan biasa, melainkan hasil kombinasi beberapa fenomena atmosfer yang saling memperkuat.
Dalam laporan terbarunya, BMKG menjelaskan bahwa cuaca ekstrem hingga 5 Maret 2026 dipengaruhi faktor global, regional, hingga lokal. Kombinasi La Nina lemah, Madden-Julian Oscillation (MJO), serta Monsun Asia menjadi pemicu utama meningkatnya intensitas hujan di berbagai daerah.
Cuaca ekstrem hingga 5 Maret 2026 bahkan telah terasa sejak pertengahan Februari. Data BMKG mencatat curah hujan tinggi terjadi di Bali mencapai 216,9 mm per hari, sementara Sulawesi Selatan mencatat 146,5 mm per hari. Angka tersebut tergolong signifikan dan berpotensi menimbulkan dampak hidrometeorologi.
Baca juga:Tiga Faktor Utama Pemicu Cuaca Ekstrem
BMKG memaparkan setidaknya ada tiga faktor dominan yang memperkuat kondisi atmosfer Indonesia saat ini.
1. La Nina Lemah Masih Aktif
Fenomena La Nina kategori lemah masih terdeteksi di Samudra Pasifik. Meski berstatus lemah, La Nina tetap meningkatkan pembentukan awan hujan, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. Dampaknya terlihat pada peningkatan curah hujan di beberapa provinsi.
La Nina menyebabkan suhu muka laut di wilayah Pasifik tengah dan timur lebih dingin dari normal, yang pada akhirnya memengaruhi pola sirkulasi atmosfer dan meningkatkan suplai uap air ke Indonesia.
2. Aktivitas MJO dan Gelombang Atmosfer
Selain La Nina, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga diprediksi masih aktif memengaruhi atmosfer Indonesia. MJO merupakan gelombang atmosfer tropis yang bergerak dari barat ke timur dan mampu meningkatkan pertumbuhan awan konvektif.
Kombinasi MJO dengan gelombang Rossby Ekuator dan gelombang Kelvin terpantau aktif di Samudra Hindia Barat Daya Lampung hingga selatan Nusa Tenggara Timur, Jawa, Bali, NTB, sebagian Kalimantan, Laut Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga sebagian besar Papua.
Aktivitas gelombang atmosfer ini memperkuat pembentukan awan hujan dalam skala luas dan meningkatkan potensi hujan sedang hingga lebat.
3. Monsun Asia dan Angin Baratan
Faktor ketiga adalah Monsun Asia yang masih aktif. Angin monsun membawa massa udara basah dari Benua Asia menuju wilayah Indonesia bagian selatan. Kondisi ini diperkuat oleh angin baratan dari Samudra Hindia yang meningkatkan suplai uap air.
Kombinasi ketiga faktor tersebut membuat atmosfer Indonesia berada dalam kondisi sangat mendukung pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah selatan Indonesia.
Baca juga:Dampak dan Potensi Bencana Hidrometeorologi
Dengan kondisi atmosfer yang masih aktif, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi. Dampak yang mungkin terjadi antara lain banjir, tanah longsor, genangan air, pohon tumbang, hingga gangguan transportasi.
Wilayah dengan curah hujan tinggi dan topografi perbukitan menjadi area yang perlu meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat diimbau tidak mengabaikan peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan BMKG.
Selain itu, aktivitas luar ruangan sebaiknya direncanakan dengan mempertimbangkan prakiraan cuaca harian. Nelayan, petani, dan pelaku perjalanan darat maupun laut diminta memantau informasi resmi sebelum beraktivitas.
Baca juga:Akses Informasi Resmi BMKG
BMKG menyediakan berbagai kanal resmi yang dapat diakses masyarakat untuk memantau prakiraan cuaca, peringatan dini, serta informasi cuaca ekstrem. Pembaruan informasi dilakukan secara berkala guna memastikan masyarakat mendapatkan data yang akurat dan terkini.
Cuaca ekstrem hingga 5 Maret 2026 diprediksi masih berlanjut seiring dinamika atmosfer yang belum stabil. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tetap waspada namun tidak panik, serta mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan instansi terkait jika terjadi kondisi darurat.
BMKG menegaskan pentingnya kesiapsiagaan bersama guna meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem. Memantau informasi resmi dan meningkatkan kewaspadaan menjadi langkah sederhana namun krusial dalam menghadapi kondisi cuaca yang dinamis ini.
Editor : Ayu Dhea Cheryl