RADAR TULUNGAGUNG - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) resmi merilis prakiraan musim kemarau 2026.
Dalam keterangannya, BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan memicu kondisi yang lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Prediksi BMKG tersebut menjadi perhatian serius karena hampir separuh zona musim di Indonesia diperkirakan mengalami pergeseran awal kemarau.
Bahkan, 46,5 persen wilayah diproyeksikan memasuki musim kemarau lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, BMKG juga mengonfirmasi fenomena La Nina telah berakhir pada Februari lalu.
Berakhirnya La Nina menandai perubahan pola curah hujan yang berdampak langsung terhadap dinamika musim kemarau tahun depan.
325 Zona Musim Masuk Kemarau Lebih Awal
Kepala BMKG, Toku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa awal musim kemarau 2026 diprediksi maju di 325 zona musim atau sekitar 46,5 persen dari total zona musim di Indonesia.
“Sebanyak 325 zona musim akan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dibandingkan normalnya,” ujarnya.
Sementara itu, 173 zona musim lainnya diperkirakan mengalami awal musim kemarau yang relatif sama seperti tahun sebelumnya.
Artinya, hampir separuh wilayah Indonesia harus bersiap menghadapi pergeseran musim yang lebih dini.
Secara umum, pola pergerakan musim kemarau akan diawali dari wilayah Nusa Tenggara.
Setelah itu, kemarau akan bergerak ke arah barat dan meluas secara bertahap ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
Pola ini menjadi penting untuk dicermati, terutama bagi sektor pertanian, perkebunan, dan ketahanan pangan yang sangat bergantung pada pola hujan dan musim tanam.
Kemarau Diprediksi Lebih Panjang dan Lebih Kering
Tak hanya datang lebih awal, musim kemarau 2026 juga diprediksi berlangsung lebih panjang.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis di sejumlah daerah.
BMKG menyebut sebagian wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau dengan sifat di bawah normal.
Artinya, curah hujan yang turun selama periode kemarau diperkirakan lebih sedikit dari rata-rata biasanya.
Kondisi lebih kering ini berpotensi memicu berbagai dampak lanjutan, mulai dari berkurangnya debit air di waduk dan sungai, meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga gangguan pada produksi pertanian.
Dengan kemarau yang lebih panjang, masyarakat diimbau mulai melakukan langkah antisipatif.
Pengelolaan sumber daya air menjadi krusial, terutama di wilayah yang selama ini rawan kekeringan.
Dampak Berakhirnya La Nina
BMKG juga mengonfirmasi bahwa fenomena La Nina telah berakhir pada Februari lalu.
Selama periode La Nina, Indonesia cenderung mengalami curah hujan lebih tinggi dari normal.
Berakhirnya La Nina menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proyeksi musim kemarau 2026.
Tanpa adanya anomali pendinginan suhu muka laut di Samudra Pasifik tersebut, pola hujan diperkirakan kembali ke kondisi netral atau bahkan lebih kering.
Perubahan dinamika atmosfer dan laut ini turut berkontribusi pada pergeseran awal musim serta intensitas curah hujan selama kemarau.
Meski demikian, BMKG menegaskan prakiraan ini bersifat dinamis dan dapat diperbarui sesuai perkembangan kondisi iklim global dan regional.
Imbauan untuk Sektor Pertanian dan Pemerintah Daerah
Menghadapi musim kemarau 2026 yang lebih panjang dan lebih kering, BMKG mengingatkan pentingnya koordinasi lintas sektor.
Pemerintah daerah, pelaku pertanian, hingga pengelola sumber daya air diharapkan segera menyusun strategi mitigasi.
Penyesuaian jadwal tanam, penguatan sistem irigasi, serta optimalisasi cadangan air menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan sejak dini.
Selain itu, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan juga harus ditingkatkan, terutama di wilayah yang secara historis rentan saat musim kemarau panjang.
Dengan informasi prakiraan yang telah dirilis BMKG ini, masyarakat diharapkan tidak panik, tetapi lebih siap dan adaptif menghadapi perubahan musim.
Musim kemarau 2026 memang diprediksi lebih menantang.
Namun dengan perencanaan yang matang dan antisipasi sejak awal, dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.***
Editor : Vidya Sajar Fitri