RADAR TULUNGAGUNG - Pansela Malang atau jalur pantai selatan di Kabupaten Malang hampir sepenuhnya rampung sepanjang 58 kilometer. Infrastruktur ini menjadi harapan baru pemerataan pembangunan di pesisir selatan Jawa Timur. Namun, sambungan jalur menuju Kabupaten Lumajang sepanjang 45 kilometer hingga kini belum terealisasi dan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Di sisi lain, proyek Tol Malang Kepanjen yang digadang-gadang menjadi pengungkit utama konektivitas wilayah selatan juga belum masuk tahap pembebasan lahan. Pemerintah Kabupaten Malang menargetkan pembebasan lahan baru dapat dimulai pada 2027, setelah proses review desain dan studi kelayakan rampung.
Kondisi tersebut membuat percepatan Pansela Malang dan realisasi Tol Malang Kepanjen menjadi dua agenda strategis yang saling berkaitan. Keduanya dinilai krusial untuk membuka isolasi wilayah selatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata serta sektor produktif lainnya.
Sambungan ke Lumajang Masih Terkendala
Bupati Malang HM Sanusi menegaskan bahwa konektivitas antar daerah di kawasan selatan Jawa Timur merupakan kunci pemerataan pembangunan. Saat ini, jalur Pansela di Kabupaten Malang telah terbangun dari Kecamatan Donomulyo hingga perbatasan Blitar.
Artinya, akses ke arah Kabupaten Blitar sudah relatif terkoneksi. Namun, sambungan dari Sumbermanjing Wetan (Sumawe) menuju Kabupaten Lumajang sepanjang sekitar 45 kilometer masih belum tersambung.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Kabupaten Malang, Khairul Isnaidi Kusuma, menjelaskan bahwa jalur yang belum terhubung menuju Lumajang memiliki tantangan geografis yang cukup ekstrem. Kontur wilayah selatan Malang yang berbukit dan bertebing memerlukan kajian teknis matang sebelum konstruksi dilakukan.
Pemkab Malang bersama Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) telah melakukan diskusi intensif terkait kelanjutan proyek tersebut. Bahkan, pihak BBPJN mendorong pemerintah daerah untuk aktif mengusulkan percepatan pembangunan Pansela ke Kementerian PUPR agar mendapat prioritas.
Tiga Prioritas Infrastruktur Malang Selatan
Meski sambungan Pansela menjadi kebutuhan mendesak, Pemkab Malang menetapkan tiga prioritas besar pembangunan infrastruktur di Malang Selatan.
Pertama adalah Tol Malang Kepanjen. Kedua, peningkatan jalan melalui skema Inpres Jalan Daerah dari Kepanjen hingga Pagak yang sudah mendapatkan persetujuan kementerian. Ketiga, percepatan penyambungan jalur Pansela ke Lumajang.
Tol Malang Kepanjen dinilai sebagai proyek dengan dampak ekonomi paling signifikan. Jalan bebas hambatan ini akan memperkuat konektivitas dari wilayah utara ke selatan serta terintegrasi dengan jalur pantai selatan.
Saat ini, proyek Tol Malang Kepanjen masih berada pada tahap review basic design dan review viability study. Dua tahapan ini menjadi fondasi penting sebelum proyek masuk fase pembebasan lahan dan konstruksi fisik.
Pembebasan Lahan Tol Ditargetkan 2027
Pemkab Malang menargetkan pembebasan lahan Tol Malang Kepanjen bisa dimulai pada 2027 mendatang. Pemerintah daerah berharap seluruh proses perencanaan dan koordinasi dengan pemerintah pusat berjalan lancar sehingga target tersebut tidak molor.
Keberadaan Tol Malang Kepanjen memiliki peran strategis dalam memperkuat aksesibilitas kawasan selatan yang terhubung dengan Pansela. Infrastruktur ini juga diharapkan mampu mendorong pengembangan kawasan wisata unggulan di selatan Malang, termasuk Pantai Balekambang dan destinasi pesisir lainnya.
Dengan dukungan tol, distribusi logistik dan mobilitas masyarakat akan semakin efisien. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pariwisata, tetapi juga perdagangan, pertanian, hingga industri kecil menengah di wilayah selatan.
Harapan Pemerataan Pembangunan
Pemkab Malang optimistis, dengan komitmen kuat dan dukungan pemerintah pusat, proyek Pansela Malang dan Tol Malang Kepanjen dapat terealisasi secara bertahap. Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, produktivitas Malang Selatan diyakini akan meningkat signifikan.
Pansela Malang yang telah terbangun 58 kilometer menjadi modal awal penting. Namun tanpa sambungan ke Lumajang, konektivitas lintas daerah belum sepenuhnya optimal.
Sinergi antara pembangunan jalan tol, peningkatan jalan daerah, dan penyambungan jalur Pansela menjadi kunci agar kawasan selatan tak lagi terpinggirkan dari akses infrastruktur utama. Pemerataan pembangunan di pesisir selatan Jawa Timur pun diharapkan bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang dirasakan langsung masyarakat.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina