Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Waspada Megathrust Samudra Hindia, Ilmuwan Sebut Energi Gempa Besar Menumpuk di Selatan Sumatera dan Jawa

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Kamis, 5 Maret 2026 | 17:35 WIB

Gempa megathrust Samudra Hindia berpotensi terjadi di selatan Sumatera dan Jawa. Ilmuwan sebut energi gempa besar masih tersimpan.(Pinterest)
Gempa megathrust Samudra Hindia berpotensi terjadi di selatan Sumatera dan Jawa. Ilmuwan sebut energi gempa besar masih tersimpan.(Pinterest)

Radar Tulungagung - Isu mengenai potensi gempa megathrust Samudra Hindia kembali mencuat setelah para ahli seismologi dunia mencatat adanya aktivitas tidak biasa di dasar Samudra Hindia.

Sejumlah sensor gempa yang tersebar di beberapa negara mendeteksi adanya pergeseran mikro pada lempeng tektonik yang berada di jalur selatan Sumatera hingga Jawa.

Fenomena tersebut memicu kekhawatiran karena wilayah itu berada di jalur megathrust Samudra Hindia, salah satu zona patahan terbesar di dunia. Para peneliti menyebut ada kemungkinan energi gempa besar yang selama ini tertahan di dalam bumi belum sepenuhnya dilepaskan.

Beberapa ilmuwan dari lembaga penelitian geofisika internasional melaporkan bahwa tekanan pada zona tersebut terus meningkat. Kondisi ini membuat wilayah Indonesia, khususnya pesisir barat Sumatera dan selatan Jawa, kembali menjadi sorotan terkait potensi gempa megathrust Samudra Hindia.

Zona Megathrust yang Menyimpan Energi Besar

Megathrust merupakan patahan raksasa yang terjadi ketika lempeng samudra menekan ke bawah lempeng benua. Proses ini berlangsung sangat lambat, bahkan bisa memakan waktu ratusan tahun sebelum akhirnya melepaskan energi dalam bentuk gempa besar.

Indonesia berada tepat di atas pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Kondisi tersebut membuat wilayah Nusantara termasuk salah satu daerah paling aktif secara seismik di dunia.

Para peneliti mengungkapkan bahwa beberapa segmen di jalur megathrust selatan Sumatera dan Jawa telah lama tidak mengalami pelepasan energi besar. Dalam catatan ilmiah, sebagian wilayah bahkan diperkirakan menyimpan tekanan selama lebih dari 300 tahun.

Situasi ini membuat para ahli terus memantau perkembangan aktivitas di dasar Samudra Hindia. Mereka menggunakan jaringan sensor gempa dan teknologi pemantauan deformasi bumi untuk mendeteksi perubahan kecil yang dapat menjadi indikasi pelepasan energi di masa depan.

Wilayah yang Berpotensi Terdampak

Jika gempa besar terjadi di zona megathrust Samudra Hindia, dampaknya bisa dirasakan oleh sejumlah wilayah di Indonesia. Pesisir barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara disebut berpotensi terkena efek guncangan maupun tsunami.

Beberapa segmen yang sering disebut dalam kajian ilmiah antara lain wilayah Mentawai di Sumatera Barat, segmen selatan Jawa di sekitar Cilacap, serta kawasan Banyuwangi di Jawa Timur.

Simulasi yang pernah dilakukan oleh lembaga riset tsunami di Jepang menunjukkan bahwa jika energi maksimum dilepaskan, tinggi gelombang tsunami di pesisir selatan Jawa dapat mencapai sekitar 15 meter.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa potensi tersebut bukan berarti bencana pasti akan terjadi dalam waktu dekat. Gempa bumi merupakan fenomena alam yang sangat sulit diprediksi secara tepat, baik waktu maupun kekuatannya.

Sains dan Kearifan Lokal

Di tengah pembahasan ilmiah mengenai potensi gempa, sebagian masyarakat juga mengaitkan fenomena alam dengan pandangan spiritual dan kearifan lokal.

Dalam tradisi Jawa, misalnya, gempa sering dipandang bukan sekadar pergerakan lempeng bumi, tetapi juga sebagai tanda alam yang mengingatkan manusia untuk menjaga keseimbangan dengan lingkungan.

Beberapa naskah kuno dan peribahasa Jawa bahkan menyinggung pentingnya memahami tanda-tanda alam. Salah satunya menyebutkan bahwa orang yang memahami pertanda alam memiliki peluang lebih besar untuk selamat dari bencana.

Namun para ahli menekankan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana tetap harus didasarkan pada pengetahuan ilmiah, mitigasi yang baik, serta sistem peringatan dini yang efektif.

Pentingnya Kesiapsiagaan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama berbagai lembaga penelitian terus memperkuat sistem pemantauan gempa di kawasan Samudra Hindia. Jaringan sensor dan alat deteksi dini dipasang untuk memantau aktivitas seismik secara real time.

Meski teknologi semakin canggih, para ahli menilai kesadaran masyarakat tetap menjadi faktor paling penting dalam menghadapi potensi bencana alam.

Edukasi mengenai jalur evakuasi tsunami, latihan tanggap darurat, hingga pemahaman tentang tanda-tanda gempa dinilai sangat penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.

Para pakar juga mengingatkan bahwa bencana alam tidak selalu dapat dicegah. Namun dengan persiapan yang matang, risiko korban jiwa dan kerusakan dapat diminimalkan.

Karena itu, masyarakat di wilayah rawan gempa diimbau untuk tetap waspada, mengikuti informasi resmi dari lembaga terkait, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#bmkg #megathrust #zona gempa bumi