RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena gerhana bulan total sejak dahulu selalu menarik perhatian masyarakat di berbagai belahan dunia. Selain dipahami secara ilmiah sebagai peristiwa astronomi, gerhana bulan juga kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan cerita mistis yang berkembang di sejumlah budaya.
Dalam banyak tradisi, kemunculan gerhana bulan total sering dianggap sebagai pertanda tertentu. Bahkan di beberapa daerah, fenomena ini diyakini memiliki makna spiritual hingga dikaitkan dengan kejadian supranatural. Beragam kepercayaan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan masih sering dibicarakan hingga kini.
Beberapa budaya bahkan mengaitkan gerhana bulan darah dengan makhluk gaib, hewan mitologi, hingga pesan dari alam semesta. Berikut lima mitos gerhana bulan total yang paling terkenal dari berbagai wilayah dunia.
Batara Kala Memakan Bulan
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, gerhana bulan dipercaya terjadi karena bulan sedang dimakan oleh raksasa jahat bernama Batara Kala. Sosok ini digambarkan sebagai makhluk raksasa yang menelan bulan hingga tampak menghilang dari langit.
Untuk mengusir Batara Kala, masyarakat dahulu melakukan ritual menabuh lesung atau alat penumbuk padi secara beramai-ramai. Suara keras dari alat tersebut dipercaya dapat membuat sang raksasa terkejut sehingga memuntahkan kembali bulan yang telah ditelannya.
Tradisi ini menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa yang menggambarkan bagaimana fenomena alam pernah dipahami melalui cerita mitologi.
Larangan Wanita Hamil Keluar Rumah
Masih dalam tradisi Jawa, terdapat kepercayaan bahwa wanita hamil tidak diperbolehkan keluar rumah saat gerhana bulan terjadi. Jika larangan ini dilanggar, diyakini bayi yang lahir akan memiliki kulit kemerahan atau mengalami kelainan.
Selain itu, ada pula kepercayaan yang menyarankan ibu hamil untuk mengoleskan abu sisa pembakaran dapur pada perutnya. Ritual tersebut dipercaya dapat melindungi bayi dari pengaruh buruk Batara Kala.
Walau tidak memiliki dasar ilmiah, mitos ini sempat dipercaya secara luas dalam masyarakat tradisional.
Jaguar Memakan Bulan dalam Kepercayaan Inka
Cerita serupa juga muncul dalam kebudayaan lain. Bangsa Inka kuno di Amerika Selatan percaya bahwa gerhana bulan darah terjadi karena bulan dimakan oleh seekor jaguar.
Menurut catatan sejarah dari penjelajah Spanyol, masyarakat Inka sangat takut ketika gerhana terjadi. Mereka percaya setelah memakan bulan, jaguar tersebut akan turun ke bumi dan memangsa manusia.
Untuk mengusir ancaman tersebut, masyarakat biasanya membuat suara keras dengan berteriak atau memukul benda-benda agar jaguar melepaskan bulan.
Bulan Terluka karena Diserang Hewan
Suku Hupa di wilayah California Utara juga memiliki cerita unik mengenai gerhana bulan. Mereka percaya bahwa bulan sebenarnya memiliki banyak istri dan hewan peliharaan.
Namun ketika bulan terlambat memberi makan hewan-hewan tersebut, makhluk peliharaan itu akan menyerang bulan hingga membuatnya terluka. Luka itulah yang diyakini menyebabkan warna merah saat gerhana bulan terjadi.
Mitos ini menunjukkan bagaimana masyarakat dahulu mencoba menjelaskan perubahan warna bulan melalui cerita simbolis.
Penampakan Ibu Bulan
Dalam kepercayaan sebagian masyarakat asli Amerika, gerhana bulan darah dianggap sebagai tanda kemunculan sosok spiritual yang disebut Ibu Bulan.
Fenomena ini dipercaya membawa energi pembersihan bagi manusia, terutama bagi perempuan. Ibu Bulan diyakini memberikan pencerahan emosional dan spiritual kepada manusia di bumi.
Kepercayaan tersebut membuat gerhana bulan dianggap sebagai momen refleksi dan pembaruan energi.
Penjelasan Ilmiah Gerhana Bulan
Secara ilmiah, gerhana bulan total terjadi ketika posisi matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus. Pada kondisi ini, bayangan bumi menutupi permukaan bulan sehingga membuatnya tampak gelap atau kemerahan.
Warna merah yang sering muncul saat gerhana bulan total disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi. Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai blood moon atau bulan darah.
Meskipun berbagai mitos masih berkembang, para ahli menegaskan bahwa gerhana bulan merupakan fenomena astronomi yang dapat diprediksi secara ilmiah.
Namun demikian, kisah-kisah mitologi yang muncul di berbagai budaya tetap menjadi bagian menarik dari sejarah manusia dalam memahami alam semesta.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina