RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena gerhana seringkali memunculkan berbagai kepercayaan di masyarakat. Namun dalam ajaran Islam, gerhana matahari maupun gerhana bulan bukanlah peristiwa mistis, melainkan tanda kebesaran Allah SWT yang dianjurkan untuk disikapi dengan salat gerhana dan memperbanyak doa.
Seorang ustaz dalam ceramah yang beredar di media sosial mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak pada mitos atau tradisi lama yang tidak memiliki dasar ilmu. Ia menegaskan bahwa ketika terjadi gerhana, Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk melaksanakan salat gerhana serta memohon ampun kepada Allah SWT.
Menurutnya, sebagian masyarakat di masa lalu memiliki kebiasaan atau keyakinan tertentu saat gerhana terjadi. Padahal, Islam telah memberikan tuntunan yang jelas tentang bagaimana menyikapi fenomena alam tersebut.
"Kalau ada gerhana bukan kita melakukan sesuatu yang lain. Nabi mengajarkan kalau kita mendapatkan gerhana, kita melaksanakan salat dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala," ujarnya dalam ceramah tersebut.
Mitos Gerhana yang Masih Beredar
Dalam penjelasannya, ustaz tersebut menyebutkan beberapa mitos yang pernah berkembang di masyarakat, khususnya di daerah pedesaan. Salah satunya adalah kebiasaan memukul pohon yang tidak berbuah ketika terjadi gerhana matahari.
Konon, menurut kepercayaan tersebut, memukul batang pohon dipercaya dapat membuat pohon kembali berbuah. Namun, keyakinan ini dinilai tidak memiliki dasar ilmiah maupun ajaran agama.
"Ada orang langsung pergi ke tempat pohon-pohon yang tidak berbuah dipukulin, katanya biar buah ada lagi," katanya.
Selain itu, ada pula mitos yang menyebutkan bahwa perempuan hamil harus bersembunyi di bawah ranjang ketika gerhana terjadi. Kepercayaan ini dipercaya bisa melindungi ibu dan bayi dari hal-hal buruk.
Menurutnya, keyakinan semacam itu tidak boleh dipercaya oleh umat Islam karena tidak memiliki dasar yang jelas. Ia menilai berbagai kepercayaan tersebut hanya berkembang dari cerita yang disebarkan secara turun-temurun.
Gerhana Bukan Fenomena Mistis
Dalam ceramahnya, ustaz tersebut juga menyinggung mitos lain yang cukup populer di sejumlah daerah, yaitu anggapan bahwa gerhana terjadi karena matahari atau bulan dimakan makhluk gaib seperti Buto Ijo.
Padahal secara ilmiah, gerhana merupakan fenomena alam yang terjadi akibat posisi matahari, bulan, dan bumi berada pada satu garis tertentu. Dalam perspektif Islam, fenomena tersebut merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
Ia menegaskan bahwa umat Islam harus memahami fenomena ini dengan ilmu dan keimanan, bukan dengan mitos yang tidak berdasar.
"Gerhana adalah tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa berbagai keyakinan yang beredar di masyarakat sering kali tidak dibangun berdasarkan ilmu pengetahuan. Banyak di antaranya hanya berasal dari cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
"Ada keyakinan di masyarakat, tapi ingat itu semua tidak dibangun atas dasar ilmu. Didengar dari mulut ke mulut lalu diyakini," jelasnya.
Anjuran Memperbanyak Ibadah
Dalam ajaran Islam, gerhana justru menjadi momentum bagi umat untuk meningkatkan ibadah. Selain melaksanakan salat gerhana, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, serta mengingat kebesaran Allah SWT.
Baca Juga: Cerita Misteri Gerhana Bulan yang Jarang Diketahui: Dari Kutukan Raja hingga Simbol Perdamaian
Gerhana juga menjadi pengingat bahwa seluruh alam semesta berada dalam kekuasaan Allah. Matahari, bulan, dan seluruh ciptaan-Nya akan mengalami kehancuran pada waktu yang telah ditentukan.
Ustaz tersebut mengingatkan bahwa suatu saat nanti Allah SWT akan menghancurkan matahari, bulan, dan seluruh alam semesta. Karena itu, manusia harus mempersiapkan diri dengan memperkuat iman dan memperbanyak amal kebaikan.
Fenomena gerhana seharusnya menjadi sarana refleksi bagi manusia untuk mengingat kekuasaan Allah dan kehidupan akhirat.
Dengan pemahaman yang benar, masyarakat diharapkan tidak lagi mempercayai mitos-mitos terkait gerhana. Sebaliknya, mereka dapat menyikapi fenomena alam tersebut dengan ilmu pengetahuan dan tuntunan agama.
Melalui edukasi yang terus disampaikan oleh para ulama dan tokoh agama, berbagai kepercayaan yang tidak berdasar diharapkan perlahan dapat ditinggalkan.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina