RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena gerhana bulan total kembali menjadi perbincangan masyarakat. Selain keindahan langit yang ditampilkan, banyak orang juga penasaran apakah ada peristiwa tertentu yang sering terjadi setelah gerhana berlangsung.
Baca Juga: Fenomena Gerhana 2026 Bikin Langit Indonesia Memerah! Ini Jadwal Lengkap dan Cara Menyaksikannya
Dalam sebuah pembahasan yang beredar di media sosial, disebutkan bahwa beberapa kejadian alam kerap diamati setelah periode gerhana bulan total. Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa belum ada bukti pasti yang menyatakan gerhana secara langsung menyebabkan bencana atau peristiwa tertentu.
Pembahasan tersebut lebih mengarah pada pengamatan pola alam yang sering disebut sebagai ilmu titen, yakni metode membaca pola kejadian yang berulang dari pengalaman masa lalu.
Pasang Laut Lebih Tinggi Setelah Gerhana
Salah satu fenomena yang sering diamati setelah gerhana bulan total adalah meningkatnya pasang laut. Hal ini terjadi karena posisi bulan, bumi, dan matahari berada hampir sejajar sehingga tarikan gravitasi menjadi lebih kuat.
Akibatnya, permukaan air laut dapat mengalami kenaikan pasang yang lebih tinggi dari biasanya. Kondisi ini biasanya berlangsung sekitar dua hingga empat hari setelah fase bulan purnama atau gerhana.
Para nelayan di sejumlah wilayah pesisir bahkan sudah cukup familiar dengan siklus tersebut. Mereka biasanya memperkirakan arus laut akan lebih kuat sehingga mempengaruhi aktivitas melaut.
Selain itu, beberapa wilayah pesisir juga berpotensi mengalami banjir rob ketika pasang air laut meningkat. Fenomena ini sering kali berdampak pada aktivitas masyarakat di kawasan pantai.
Tekanan Kerak Bumi Bisa Berubah
Selain pasang laut, tarikan gravitasi bulan juga disebut dapat memengaruhi tekanan pada kerak bumi. Dalam kondisi tertentu, kerak bumi bisa mengalami perubahan tekanan yang sangat kecil.
Tarikan gravitasi bulan diketahui dapat membuat kerak bumi naik dan turun beberapa sentimeter. Perubahan ini memang sangat kecil, tetapi dalam beberapa kondisi bisa memengaruhi patahan bumi yang sudah berada dalam kondisi kritis.
Namun para peneliti menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah penyebab utama gempa bumi. Tarikan gravitasi hanya dianggap sebagai salah satu faktor pemicu kecil jika patahan bumi memang sudah berada pada kondisi hampir pecah.
Analogi yang sering digunakan adalah seperti kayu rapuh yang sudah retak. Ketika sedikit ditarik, kayu tersebut bisa patah lebih cepat, meskipun penyebab utamanya tetap kondisi kayu yang sudah lemah.
Perilaku Hewan Bisa Berubah
Perubahan lain yang kadang diamati setelah gerhana bulan total adalah perilaku hewan yang sedikit berbeda dari biasanya. Hal ini biasanya berkaitan dengan perubahan cahaya malam serta kondisi alam yang berubah sementara.
Beberapa hewan seperti burung, serangga, atau hewan pemburu malam dapat menunjukkan aktivitas yang berbeda. Meski demikian, perubahan tersebut biasanya hanya bersifat sementara dan tidak berlangsung lama.
Fenomena ini masih menjadi bahan penelitian bagi para ilmuwan yang mencoba memahami bagaimana perubahan cahaya dan gravitasi memengaruhi ekosistem.
Dugaan Peningkatan Radiasi Kosmik
Ada pula penelitian yang menyebut kemungkinan peningkatan kecil radiasi kosmik saat gerhana bulan terjadi. Dalam salah satu pengamatan, radiasi kosmik disebut meningkat sekitar delapan persen dibandingkan kondisi normal.
Radiasi kosmik sendiri merupakan partikel energi tinggi dari luar angkasa yang terus menghantam atmosfer bumi. Meski demikian, penyebab peningkatan tersebut masih belum dapat dijelaskan secara pasti oleh para ilmuwan.
Baca Juga: Gerhana 2026 Muncul di Langit Indonesia! Bulan Berubah Merah Selama 1 Jam, Ini Jadwal Lengkapnya
Karena itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami apakah fenomena tersebut benar-benar berkaitan dengan gerhana atau hanya kebetulan semata.
Gerhana Sebagai Penanda Alam
Dalam tradisi masyarakat Jawa, fenomena alam seperti gerhana sering dijadikan sebagai penanda waktu atau disebut sebagai bagian dari ilmu titen. Metode ini dilakukan dengan mengamati pola kejadian yang berulang dari masa ke masa.
Beberapa orang percaya bahwa gerhana sering terjadi sebelum peristiwa alam besar, seperti letusan gunung berapi atau gempa bumi. Namun hubungan tersebut lebih bersifat pengamatan historis dan bukan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Contohnya, letusan Gunung Pinatubo pada 1991, gempa dan tsunami Samudra Hindia pada 2004, serta gempa besar Jepang tahun 2011 disebut terjadi dekat dengan fase bulan tertentu dalam siklus gerhana.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa gerhana tidak bisa dijadikan alat prediksi bencana. Fenomena ini tetap harus dipahami sebagai peristiwa astronomi alami yang terjadi karena pergerakan benda langit.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap melihat gerhana sebagai fenomena alam yang menarik sekaligus kesempatan untuk mempelajari ilmu astronomi dan dinamika alam semesta.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina