Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

5 Mitos Gerhana Bulan Total yang Masih Dipercaya: Dari Batara Kala Memakan Bulan hingga Larangan Wanita Hamil Keluar Rumah

Ingge Nayla Ayu Karina • Kamis, 5 Maret 2026 | 18:45 WIB

5 mitos gerhana bulan total dari berbagai budaya dunia, mulai dari Batara Kala memakan bulan hingga kepercayaan suku Inka tentang jaguar.
5 mitos gerhana bulan total dari berbagai budaya dunia, mulai dari Batara Kala memakan bulan hingga kepercayaan suku Inka tentang jaguar.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena gerhana bulan total sejak dulu tidak hanya dipandang sebagai peristiwa astronomi, tetapi juga memunculkan berbagai cerita mistis dan mitos di berbagai belahan dunia. Dalam banyak budaya, gerhana bulan bahkan sering dikaitkan dengan pertanda buruk, makhluk gaib, hingga kepercayaan turun-temurun yang masih dipercaya sebagian masyarakat hingga saat ini.

Baca Juga: Gerhana 2026 Spektakuler! Langit Indonesia Dihiasi Blood Moon, Ini Waktu Terbaik Melihatnya Tanpa Alat

Gerhana bulan total sendiri merupakan fenomena alam ketika posisi matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus. Kondisi ini membuat bayangan bumi menutupi bulan sehingga tampak berwarna kemerahan atau sering disebut sebagai blood moon atau bulan darah.

 

Namun di balik penjelasan ilmiah tersebut, masyarakat di berbagai negara memiliki kisah dan mitos unik tentang peristiwa gerhana bulan. Berikut lima mitos gerhana bulan total yang paling terkenal dan banyak beredar di berbagai budaya dunia.

 

Batara Kala Memakan Bulan

 

Salah satu mitos gerhana bulan yang cukup populer di Indonesia, khususnya di masyarakat Jawa, adalah kisah tentang raksasa Batara Kala. Dalam kepercayaan tradisional, gerhana bulan dianggap sebagai peristiwa ketika Batara Kala sedang memakan bulan.

 

Untuk mengusir raksasa tersebut, masyarakat dahulu biasanya menabuh lesung atau alat penumbuk padi secara beramai-ramai. Bunyi gaduh itu dipercaya dapat membuat Batara Kala takut dan akhirnya memuntahkan kembali bulan yang telah ditelannya.

 

Tradisi ini bahkan sempat menjadi ritual yang dilakukan masyarakat di beberapa daerah setiap kali terjadi gerhana bulan.

 

Larangan Wanita Hamil Keluar Rumah

 

Mitos lain yang berkembang di masyarakat Jawa adalah larangan bagi wanita hamil untuk keluar rumah saat terjadi gerhana bulan. Kepercayaan ini menyebutkan bahwa jika ibu hamil melihat gerhana bulan, maka bayi yang dilahirkan bisa mengalami kondisi tertentu, seperti kulit kemerahan atau cacat.

 

Dalam tradisi lama, wanita hamil bahkan dianjurkan mengoleskan abu dapur pada perutnya sebagai simbol perlindungan agar bayi yang dikandungnya tidak terkena pengaruh buruk dari gerhana bulan.

 

Meski demikian, kepercayaan ini tidak memiliki dasar ilmiah dan lebih merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

 

Jaguar Memakan Bulan dalam Kepercayaan Suku Inka

 

Mitos serupa juga ditemukan dalam budaya kuno Amerika Selatan. Suku Inka percaya bahwa gerhana bulan darah terjadi karena seekor jaguar raksasa sedang memakan bulan.

 

Menurut catatan sejarah dari penulis Spanyol di masa lampau, masyarakat Inka sangat takut jika jaguar tersebut berhasil menghabiskan bulan. Mereka percaya bahwa setelah memakan bulan, hewan buas itu akan turun ke bumi dan memangsa manusia.

 

Karena itulah, masyarakat biasanya membuat suara keras dan berbagai ritual untuk mengusir jaguar tersebut agar bulan kembali muncul di langit.

 

Bulan Diserang Hewan Peliharaan

 

Cerita unik juga datang dari suku Hupa di wilayah California Utara, Amerika Serikat. Dalam kepercayaan mereka, gerhana bulan dianggap sebagai pertanda bahwa bulan sedang terluka akibat diserang oleh hewan peliharaannya sendiri.

Baca Juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Bisa Disaksikan di Indonesia, Ini Jadwal dan Penjelasan Fenomena Blood Moon

Masyarakat suku Hupa percaya bahwa bulan memiliki banyak istri dan juga memelihara berbagai hewan, seperti ular dan singa. Jika bulan terlambat memberi makan kepada hewan-hewan tersebut, maka hewan peliharaan itu akan menyerangnya hingga menyebabkan bulan tampak berdarah di langit.

 

Fenomena warna merah pada bulan saat gerhana kemudian diartikan sebagai darah dari luka yang dialami bulan.

 

Penampakan Ibu Bulan

 

Kepercayaan lain datang dari masyarakat asli Amerika yang memiliki pandangan lebih spiritual terhadap gerhana bulan. Mereka menganggap gerhana bulan darah sebagai tanda kemunculan sosok Ibu Bulan.

 

Dalam kepercayaan ini, Ibu Bulan diyakini menampakkan diri untuk membawa pencerahan dan membersihkan energi spiritual manusia. Peristiwa tersebut juga dianggap sebagai momen refleksi emosional dan spiritual, terutama bagi para perempuan.

 

Pandangan ini menunjukkan bahwa tidak semua mitos tentang gerhana bulan berkaitan dengan hal negatif. Sebagian masyarakat justru memaknainya sebagai waktu untuk penyucian diri dan pembaruan energi.

 

Fenomena Alam yang Penuh Cerita Budaya

 

Secara ilmiah, gerhana bulan merupakan fenomena alam yang sepenuhnya dapat dijelaskan melalui ilmu astronomi. Namun sepanjang sejarah, manusia sering mengaitkan peristiwa langit dengan berbagai cerita dan simbol budaya.

 

Mitos-mitos tentang gerhana bulan total menjadi bukti bagaimana manusia mencoba memahami fenomena alam melalui cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Meski kini ilmu pengetahuan telah berkembang pesat, kisah-kisah tersebut tetap menjadi bagian menarik dari sejarah budaya dunia yang memperkaya cara manusia memaknai alam semesta.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
#mitos gerhana bulan #fenomena gerhana bulan #bulan darah #gerhana bulan total #batara kala