Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Siswa SMKN 1 Cikalongwetan Bandung Barat Meninggal Usai Konsumsi MBG, Dinkes Tegaskan Kematian BR Bukan Akibat Program MBG

Divka Vance Yandriana • Selasa, 10 Maret 2026 | 20:25 WIB

Siswa SMKN 1 Cikalongwetan meninggal usai konsumsi MBG. Dinkes Bandung Barat menegaskan kematian BR bukan akibat MBG.
Siswa SMKN 1 Cikalongwetan meninggal usai konsumsi MBG. Dinkes Bandung Barat menegaskan kematian BR bukan akibat MBG.

JAKARTA - Kasus meninggalnya seorang siswa di SMKN 1 Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, memicu perhatian publik karena korban diketahui memiliki riwayat mengonsumsi MBG atau program Makan Bergizi Gratis beberapa hari sebelum kejadian.

Korban berinisial BR, siswa kelas 12, dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami gejala yang diduga menyerupai keracunan. Namun pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat menegaskan bahwa kematian tersebut bukan akibat MBG.

Penjelasan ini disampaikan setelah muncul berbagai spekulasi yang mengaitkan meninggalnya BR dengan konsumsi MBG yang ia terima di sekolah beberapa hari sebelumnya.

Baca Juga: Profil Muhammad Fikri Thobari: Bupati Rejang Lebong yang Ditangkap KPK dalam OTT, Latar Belakang Pengusaha hingga Aktivis

Kronologi Siswa Konsumsi MBG hingga Meninggal

Berdasarkan laporan kronologi resmi yang dirilis Dinas Kesehatan Bandung Barat, BR diketahui mengonsumsi dua porsi makanan dari program MBG pada Rabu, 24 September 2025.

Satu porsi merupakan jatah miliknya, sementara satu porsi lainnya berasal dari teman yang tidak ingin memakan menu yang disediakan.

Setelah pulang ke rumah pada hari yang sama, BR sempat mengeluhkan pusing. Namun kondisi tersebut tidak dianggap serius oleh keluarga.

Baca Juga: Kontroversi Anggaran Makan Bergizi Gratis, DPR Bahas Apakah MBG Program Prabowo Subianto Akan Menggerus Dana Pendidikan

Beberapa hari kemudian, tepatnya Senin, 29 September 2025, BR kembali mengalami pusing saat berada di sekolah. Ia kemudian pulang sekitar pukul 13.00 WIB.

Sesampainya di rumah, korban hanya diberi obat sakit kepala yang dibeli dari warung sebelum akhirnya beristirahat di kamar.

Kondisi korban mulai memburuk pada Selasa, 30 September 2025 sekitar pukul 03.00 WIB.

Saat itu BR mengalami mual dan muntah hingga lima kali serta mengeluhkan sesak napas.

Keluarga hanya memberikan air hangat sebelum korban kembali tertidur.

Baca Juga: Keutamaan Lailatul Qadar di 10 Hari Terakhir Ramadan: Pahala Lebih Baik dari 1.000 Bulan, Umat Islam Diminta Maksimalkan Ibadah

Korban Ditemukan Kejang dan Dibawa ke Rumah Sakit

Sekitar pukul 13.00 WIB di hari yang sama, adik korban yang berusia enam tahun menemukan BR dalam kondisi kejang dengan mulut berbusa dan wajah sedikit membengkak.

Adik korban kemudian melapor kepada bibinya yang segera membawa BR ke bidan terdekat untuk mendapatkan pertolongan.

Saat diperiksa, tekanan darah korban tercatat sangat rendah, yakni sekitar 60/50.

Bidan juga melaporkan kondisi korban sudah pucat, mengalami kejang, serta kesulitan bernapas.

Melihat kondisi tersebut, bidan segera meminta ambulans desa untuk membawa korban ke RSUD Cililin.

Korban sempat mendapatkan bantuan oksigen sebanyak 5 liter selama perjalanan menuju rumah sakit.

Namun ketika tiba di RSUD Cililin sekitar pukul 13.30 WIB, dokter di instalasi gawat darurat menyatakan BR telah meninggal dunia di perjalanan.

Dinkes: Kematian Tidak Berkaitan dengan MBG

Setelah melakukan penelusuran berdasarkan kronologi kejadian, Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat Lia Nurliana Sukandar menyimpulkan bahwa kematian BR tidak berkaitan dengan konsumsi MBG.

Menurutnya, jarak waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gejala yang parah dinilai tidak menunjukkan hubungan langsung dengan program tersebut.

Meski demikian, sejumlah ahli menilai penyebab pasti kematian korban masih memerlukan investigasi lebih lanjut.

Ahli: Keracunan Makanan Bisa Muncul dalam Hitungan Jam hingga Hari

Presiden Toksikologi Indonesia Tri Ima Harani menjelaskan bahwa penyebab kematian seseorang akibat dugaan keracunan makanan tidak bisa disimpulkan tanpa pemeriksaan mendalam.

Ia menegaskan bahwa investigasi seperti autopsi dan pemeriksaan laboratorium toksikologi sangat diperlukan untuk memastikan penyebab kematian.

Menurutnya, gejala keracunan makanan tidak selalu muncul secara langsung setelah seseorang mengonsumsi makanan tertentu.

Setiap jenis bakteri atau racun memiliki masa inkubasi berbeda yang dikenal sebagai “golden period”.

Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Candra Yoga Aditama.

Ia merujuk pada data Centers for Disease Control and Prevention yang menyebutkan bahwa gejala keracunan makanan dapat muncul dalam rentang waktu yang berbeda.

Sebagai contoh, bakteri Staphylococcus aureus dapat menimbulkan gejala dalam waktu 30 menit hingga 8 jam.

Sementara infeksi bakteri E. coli biasanya memunculkan gejala setelah tiga hingga empat hari.

Adapun bakteri Salmonella dapat menimbulkan gejala dalam rentang waktu enam jam hingga enam hari setelah konsumsi makanan yang terkontaminasi.

Karena itu, para ahli menekankan pentingnya penyelidikan medis yang komprehensif sebelum menyimpulkan penyebab pasti dari kasus kematian seperti yang dialami BR.

Editor : Divka Vance Yandriana
#Program MBG #MBG #dinkes bandung