Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Viral Pernyataan Menteri Bappenas! Rahmat Pambudi Sebut Program MBG Lebih Mendesak daripada Lapangan Kerja, Ini Penjelasan Lengkapnya

Divka Vance Yandriana • Selasa, 10 Maret 2026 | 20:50 WIB

Rahmat Pambudi sebut program MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja. Ini alasan Bappenas soal pentingnya makan bergizi gratis.
Rahmat Pambudi sebut program MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja. Ini alasan Bappenas soal pentingnya makan bergizi gratis.

JAKARTA - Pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rahmat Pambudi yang menyebut program MBG lebih mendesak dibanding lapangan kerja menjadi perbincangan publik.

Ucapan tersebut disampaikan Rahmat dalam Prasasti Economic Forum 2026 yang digelar di The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place pada Kamis, 29 Januari 2026. Dalam forum tersebut, ia menjelaskan alasan mengapa program MBG atau Makan Bergizi Gratis dianggap sebagai kebutuhan yang mendesak saat ini.

Menurut Rahmat, pernyataannya sempat disalahartikan seolah pemerintah menilai penciptaan lapangan kerja tidak penting. Padahal, ia menegaskan bahwa kedua hal tersebut sama-sama krusial bagi pembangunan nasional.

Baca Juga: Siswa SMKN 1 Cikalongwetan Bandung Barat Meninggal Usai Konsumsi MBG, Dinkes Tegaskan Kematian BR Bukan Akibat Program MBG

“MBG penting, lapangan kerja penting, tetapi saat ini MBG lebih mendesak,” ujar Rahmat dalam forum tersebut.

Program MBG Dinilai Mendesak

Rahmat menjelaskan bahwa program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto bertujuan memastikan masyarakat, terutama anak-anak, mendapatkan akses makanan bergizi.

Menurutnya, persoalan gizi masih menjadi tantangan besar di Indonesia, khususnya di wilayah pelosok.

Ia menilai masih banyak masyarakat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Baca Juga: Siswa SMKN 1 Cikalongwetan Bandung Barat Meninggal Usai Konsumsi MBG, Dinkes Tegaskan Kematian BR Bukan Akibat Program MBG

“Cobalah lihat saudara-saudara kita di ujung pelosok desa. Mereka masih lapar dan mengalami kelaparan,” kata Rahmat.

Karena kondisi tersebut, pemerintah menilai program pemenuhan gizi harus segera diprioritaskan.

Gizi Berkaitan dengan Pendidikan

Rahmat juga menyoroti dampak kekurangan gizi terhadap kualitas pendidikan.

Ia mengungkapkan pengalaman saat mendampingi Presiden Prabowo dalam peresmian program sekolah rakyat di beberapa daerah.

Dalam kunjungan tersebut, ia menemukan sejumlah siswa tingkat SMP dan SMA yang masih belum mampu membaca dan menulis.

Baca Juga: Polemik Anggaran Pendidikan untuk MBG Memanas, Habiburrahman Tantang Adian Napitupulu Debat dengan Said Abdullah

“Kami menemukan anak-anak SMP dan SMA yang belum bisa baca tulis, dan jumlahnya cukup banyak,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari masalah pemenuhan gizi sejak usia dini.

Anak-anak yang mengalami kekurangan gizi berisiko memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah dibandingkan anak yang mendapatkan asupan nutrisi cukup.

Karena itu, pemerintah menilai program MBG menjadi langkah strategis untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia.

Jangkau 55 Juta Penerima Manfaat

Dalam satu tahun pelaksanaannya, program MBG disebut telah menjangkau sekitar 55 juta penerima manfaat.

Kelompok penerima manfaat tersebut meliputi siswa sekolah, anak usia dini, hingga ibu hamil.

Pemerintah menilai angka tersebut menunjukkan perluasan program yang cukup signifikan sejak pertama kali diluncurkan.

Meski demikian, Presiden Prabowo sebelumnya juga mengakui bahwa pelaksanaan program ini masih memiliki berbagai kekurangan.

Beberapa di antaranya berkaitan dengan pengawasan distribusi makanan serta potensi penyimpangan di lapangan.

Tingkat Keberhasilan Capai 99 Persen

Meski menghadapi berbagai tantangan, pemerintah menyebut program MBG secara umum berjalan dengan baik.

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan secara objektif, tingkat keberhasilan program ini disebut mencapai sekitar 99 persen.

Angka tersebut mencerminkan bahwa sebagian besar distribusi makanan bergizi kepada masyarakat berjalan sesuai rencana.

Rahmat menegaskan bahwa pemerintah akan terus melakukan evaluasi agar pelaksanaan program MBG semakin efektif.

Ia juga mengajak masyarakat melihat program ini secara menyeluruh, terutama dari tujuan utamanya yaitu mengatasi masalah kelaparan dan kekurangan gizi di Indonesia.

“Tujuan kita memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan makanan bergizi agar mereka bisa tumbuh sehat dan belajar dengan baik,” katanya.

Dengan berbagai upaya perbaikan yang terus dilakukan, pemerintah berharap program MBG dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia ke depan.

Editor : Divka Vance Yandriana
#Program MBG 2026 #Program MBG