BOYOLALI - Program MBG atau Makan Bergizi Gratis mulai memberi dampak ekonomi bagi petani dan pedagang sayur di berbagai daerah. Di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini bahkan meningkatkan permintaan sayuran hingga belasan persen dalam beberapa bulan terakhir.
Kenaikan permintaan tersebut dirasakan langsung oleh para pedagang di Pasar Sayur Cepogo yang berada di lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pasar ini menjadi salah satu pemasok utama bahan makanan bagi dapur penyedia menu program MBG di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
Dalam dua bulan terakhir, pedagang mengaku mengalami peningkatan omzet penjualan sayur hingga sekitar 15 persen dibandingkan sebelumnya. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya kebutuhan sayuran untuk memasok dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG yang memproduksi menu makan bergizi gratis.
Permintaan Sayur Naik Tajam
Para pedagang di Pasar Cepogo menyebut berbagai jenis sayuran kini banyak dibeli oleh pengelola dapur program MBG.
Beberapa komoditas yang paling sering dicari antara lain wortel, selada, timun, tomat, hingga kentang. Sayuran tersebut digunakan sebagai bahan utama dalam menu makan bergizi yang didistribusikan ke sekolah maupun kelompok penerima manfaat lainnya.
Salah satu pedagang mengatakan peningkatan permintaan membuat mereka harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pasokan sayuran segar.
Hal ini karena dapur MBG memiliki standar kualitas tertentu terhadap bahan makanan yang digunakan.
“Barang harus segar dan kualitasnya bagus, karena dipakai untuk menu makan bergizi gratis,” ujar salah satu pedagang di pasar tersebut.
Pasokan Sayur Sering Langka
Lonjakan permintaan dari dapur MBG membuat sejumlah komoditas sayur terkadang menjadi lebih sulit didapat.
Para pedagang mengaku harus mencari pasokan dari berbagai petani di sekitar wilayah Boyolali agar kebutuhan dapur program tetap terpenuhi.
Selain itu, kondisi cuaca yang tidak menentu juga turut mempengaruhi ketersediaan sayuran di pasar.
Kombinasi antara permintaan tinggi dan produksi yang terganggu oleh cuaca buruk menyebabkan harga sayuran mengalami kenaikan.
Meski demikian, pedagang tetap berusaha menjaga pasokan agar distribusi bahan makanan ke dapur MBG tidak terganggu.
Pasar Cepogo Jadi Pusat Pasokan SPPG
Pasar Sayur Cepogo dikenal sebagai salah satu pusat distribusi sayuran di wilayah Solo Raya. Lokasinya yang berada di lereng pegunungan membuat daerah ini memiliki produksi sayuran yang cukup melimpah.
Seiring berjalannya program MBG, pasar ini kini semakin sering didatangi pengelola dapur SPPG dari berbagai daerah.
Beberapa daerah yang mengambil pasokan sayur dari pasar tersebut antara lain Karanganyar, Solo, Klaten, Sragen, hingga Sukoharjo.
Pedagang mengatakan pengelola dapur memilih Pasar Cepogo karena harga sayur relatif lebih murah dibandingkan daerah lain.
Selain itu, kualitas sayur yang dihasilkan para petani di kawasan lereng Merapi-Merbabu juga dinilai lebih segar.
Dampak Ekonomi Bagi Petani
Peningkatan permintaan sayuran akibat program MBG juga dirasakan oleh para petani di kawasan pegunungan Boyolali.
Petani yang sebelumnya hanya menjual hasil panen ke pasar tradisional kini memiliki peluang pasar yang lebih luas melalui pemasok dapur MBG.
Dengan meningkatnya permintaan, sejumlah petani mulai meningkatkan produksi sayuran untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Hal ini menunjukkan bahwa program makan bergizi gratis tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima makanan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi sektor pertanian.
Program MBG memang dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat rantai pasok pangan lokal.
Melalui keterlibatan petani dan pedagang lokal, pemerintah berharap program ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memastikan ketersediaan bahan makanan bergizi bagi masyarakat.
Editor : Divka Vance Yandriana