JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto resmi dimulai pada 6 Januari 2025. Program unggulan pemerintah ini bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia melalui penyediaan makanan bergizi di sekolah.
Meski pelaksanaannya masih menghadapi sejumlah catatan dan tantangan, program makan bergizi gratis tetap mendapat perhatian luas dari masyarakat. Program ini bahkan kerap dibandingkan dengan kebijakan serupa di berbagai negara yang sudah lebih dahulu menjalankannya.
Beberapa negara seperti Malaysia, India, hingga Prancis telah lama menerapkan kebijakan makan gratis bagi pelajar. Perbandingan tersebut menarik untuk melihat bagaimana program MBG di Indonesia dijalankan, baik dari sisi anggaran, jumlah penerima manfaat, maupun sistem pelaksanaannya.
Anggaran Program MBG Indonesia Capai Rp71 Triliun
Pemerintah Indonesia mengalokasikan anggaran besar untuk menjalankan program makan bergizi gratis. Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp71 triliun.
Dana tersebut dibagi menjadi dua komponen utama. Sebanyak Rp3,36 triliun digunakan untuk pemenuhan gizi nasional, sedangkan sisanya dialokasikan untuk mendukung operasional program.
Program MBG menargetkan sekitar 3 juta penerima manfaat pada tahap awal pelaksanaannya. Sasaran utama program ini adalah siswa sekolah serta kelompok masyarakat tertentu yang membutuhkan asupan gizi tambahan.
Untuk biaya makanan, pemerintah menetapkan harga Rp10.000 per porsi yang disediakan melalui dapur penyedia makanan yang dikelola secara khusus.
Besarnya anggaran tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia melalui kebijakan jangka panjang.
Malaysia Sudah Jalankan Program Sejak 1971
Jika dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia tergolong relatif baru menerapkan kebijakan makan gratis di sekolah.
Di Malaysia, program serupa sudah berjalan sejak 1971 dengan nama Bantuan Makanan Bermasak.
Program ini menyediakan makanan bagi sekitar 1 juta anak sekolah atau sekitar 13,9 persen dari total jumlah siswa di negara tersebut.
Untuk periode 2021–2022, pemerintah Malaysia mengalokasikan anggaran sekitar 185,3 juta dolar AS atau setara dengan Rp2,96 triliun.
Biaya rata-rata makanan dalam program tersebut mencapai sekitar Rp11.301 per porsi, yang diberikan kepada siswa selama lima hari dalam seminggu.
Program ini menjadi salah satu kebijakan sosial yang cukup lama dijalankan oleh pemerintah Malaysia untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan pelajar.
Program Makan Gratis India Dimulai Sejak 1925
India bahkan memiliki sejarah yang lebih panjang dalam menjalankan program makan gratis di sekolah.
Program makan siang gratis di negara tersebut dikenal dengan nama Pradhan Mantri Poshan Shakti Nirman.
Program ini sebenarnya telah dirintis sejak 1925 dengan tujuan meningkatkan status gizi siswa sekolah dasar.
Sasaran utama program ini adalah siswa kelas 1 hingga kelas 7 di sekolah negeri.
Untuk periode 2023–2024, pemerintah India mengalokasikan anggaran sekitar 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp21,45 triliun.
Pelaksanaan program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, organisasi guru, siswa, hingga lembaga swadaya masyarakat.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Development Economics pada 2019 menunjukkan bahwa siswa yang menerima manfaat program makan siang gratis selama lima tahun memiliki kemampuan membaca dan matematika yang lebih baik dibandingkan siswa yang tidak menerima program tersebut.
Prancis Terapkan Program di Sejumlah Kota
Di Eropa, salah satu negara yang menerapkan kebijakan makan gratis bagi pelajar adalah Prancis.
Namun berbeda dengan Indonesia yang menerapkan program secara nasional, program makan siang gratis di Prancis hanya dijalankan di sekitar 50 kota dari total lebih dari 35.000 kota yang ada di negara tersebut.
Besaran subsidi makanan juga berbeda-beda tergantung kebijakan pemerintah kota masing-masing.
Pada 2017 misalnya, pemerintah Prancis memberikan subsidi makanan sebesar 1 euro atau sekitar Rp16.900 per porsi.
Secara keseluruhan, anggaran yang digelontorkan pemerintah Prancis untuk program ini mencapai sekitar 1,5 miliar euro atau setara Rp25 triliun.
Indonesia Dinilai Relatif Terlambat
Jika melihat sejarah pelaksanaannya di berbagai negara, Indonesia memang terbilang cukup terlambat dalam menerapkan kebijakan makan gratis bagi siswa.
Selain Malaysia, India, dan Prancis, sejumlah negara lain juga telah menjalankan program serupa, seperti Brasil, Finlandia, Swedia, Jepang, China, hingga Britania Raya.
Setiap negara memiliki skema yang berbeda, baik dari segi anggaran, jumlah penerima manfaat, hingga sistem distribusi makanan.
Meski demikian, program makan bergizi gratis di Indonesia diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan gizi anak-anak.
Ke depan, evaluasi pelaksanaan program ini dinilai penting agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.
Dengan perbaikan yang terus dilakukan, program MBG diharapkan mampu menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas.
Editor : Divka Vance Yandriana