JAKARTA - Pemerintah Singapura dilaporkan akan mulai menerapkan program makan bergizi di sekolah pada 2026. Kebijakan ini menarik perhatian publik karena kerap dibandingkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah lebih dulu dijalankan di Indonesia.
Meski sama-sama bertujuan meningkatkan kualitas gizi siswa, program makan bergizi Singapura memiliki konsep yang berbeda dengan program makan gratis di Indonesia. Salah satu perbedaan utamanya adalah pada sistem penyediaan makanan serta mekanisme pembayarannya.
Jika di Indonesia makanan diberikan secara gratis kepada penerima manfaat, di Singapura siswa tetap harus membayar makanan yang mereka konsumsi. Namun pemerintah tetap mengatur standar gizi serta harga maksimal agar makanan tetap sehat dan terjangkau.
Program ini dikenal dengan nama Central Kitchen Meal Model (CKMM) atau model dapur terpusat yang akan menjadi sistem baru penyediaan makanan bagi sejumlah sekolah di negara tersebut.
Gunakan Sistem Dapur Terpusat
Dalam program makan bergizi di Singapura, seluruh makanan untuk siswa akan diproduksi di satu dapur utama yang terpusat. Sistem ini berbeda dengan model kantin sekolah yang selama ini digunakan.
Melalui konsep Central Kitchen Meal Model, makanan disiapkan secara massal di dapur utama kemudian didistribusikan ke berbagai sekolah.
Langkah ini diambil pemerintah Singapura untuk mengatasi sejumlah kendala yang selama ini dihadapi pihak sekolah, terutama dalam mencari penyewa kantin yang mampu menyediakan makanan sehat secara konsisten.
Selain itu, sistem dapur terpusat dianggap lebih efektif untuk menjaga standar gizi serta kualitas makanan yang dikonsumsi siswa.
Dengan pengawasan yang lebih terpusat, pemerintah dapat memastikan bahwa menu makanan yang disediakan memenuhi standar kesehatan yang telah ditetapkan.
Diterapkan di 13 Sekolah
Program ini akan mulai diterapkan di 13 sekolah pada tahap awal implementasi.
Pemerintah Singapura menggandeng tiga perusahaan katering besar untuk menjalankan operasional dapur terpusat tersebut.
Model ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Sebelumnya pemerintah telah melakukan uji coba program CKMM pada 2022.
Setelah evaluasi terhadap hasil uji coba tersebut, pemerintah akhirnya memutuskan memperluas penerapan sistem dapur terpusat ke lebih banyak sekolah mulai 2026.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penyediaan makanan sekaligus menjamin kualitas gizi yang diterima para siswa.
Siswa Tetap Membayar Makanan
Berbeda dengan program makan bergizi gratis (MBG) di Indonesia, program di Singapura tidak memberikan makanan secara cuma-cuma.
Kementerian Pendidikan Singapura menegaskan bahwa siswa tetap harus membayar makanan yang mereka konsumsi.
Namun pemerintah menetapkan batas harga maksimal untuk menjaga agar makanan tetap terjangkau bagi keluarga siswa.
Harga paket makanan maksimal ditetapkan sekitar Rp34.000 untuk siswa sekolah dasar dan sekitar Rp46.000 untuk siswa sekolah menengah.
Operator dapur juga diwajibkan menyediakan setidaknya satu paket makanan lengkap yang memenuhi standar gizi.
Menu yang disediakan dalam program ini biasanya mencakup berbagai komponen nutrisi penting seperti biji-bijian utuh, sayuran, protein, serta buah-buahan.
Fokus pada Standar Gizi Siswa
Program ini menunjukkan bahwa pemerintah Singapura menaruh perhatian besar pada kualitas gizi siswa selama menjalani kegiatan belajar di sekolah.
Melalui pengaturan menu, harga, serta sistem distribusi makanan yang terpusat, pemerintah berupaya memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi siswa tetap sehat dan seimbang.
Kebijakan ini juga sekaligus menjadi solusi atas masalah operasional kantin sekolah yang selama ini cukup sering terjadi.
Sementara itu, di Indonesia program MBG yang digagas pemerintah bertujuan memberikan akses makanan bergizi secara gratis kepada siswa serta kelompok rentan seperti balita dan ibu hamil.
Meski memiliki pendekatan berbeda, kedua program tersebut menunjukkan bahwa banyak negara mulai menempatkan pemenuhan gizi anak sebagai prioritas dalam kebijakan pendidikan.
Ke depan, berbagai model penyediaan makanan di sekolah ini diperkirakan akan terus berkembang sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing negara.
Editor : Divka Vance Yandriana