RADAR TULUNGAGUNG – Nama Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan dunia internasional. Perdana Menteri Israel tersebut menuai kecaman keras setelah serangan militer Israel ke Jalur Gaza yang menewaskan ribuan warga sipil Palestina.
Serangan tersebut memicu gelombang kritik dari berbagai negara dan organisasi internasional. Banyak pihak menilai keputusan perang yang diambil pemerintahan Israel tidak lepas dari kebijakan tegas Benjamin Netanyahu sebagai pemimpin negara tersebut.
Di tengah tekanan global dan seruan gencatan senjata, Netanyahu justru menegaskan bahwa Israel akan terus melanjutkan operasi militernya. Ia menyatakan perang diperlukan untuk menghancurkan kelompok militan Hamas yang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan Israel.
Lantas, siapa sebenarnya sosok Benjamin Netanyahu, pemimpin Israel yang dikenal keras terhadap Palestina dan menjadi salah satu tokoh paling kontroversial di dunia politik internasional?
Lahir dari Keluarga Intelektual
Benjamin Netanyahu lahir pada 21 Oktober 1949 di Tel Aviv, Israel. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dalam keluarga yang dikenal memiliki latar belakang intelektual kuat.
Ayahnya, Benzion Netanyahu, merupakan profesor sejarah Yahudi dan pernah menjadi editor Encyclopedia Hebraica. Sementara kakeknya, Nathan Mileikowsky, dikenal sebagai rabi Zionis sekaligus penulis Yahudi yang berpengaruh.
Ketika keluarganya pindah ke Amerika Serikat, nama keluarga Mileikowsky diubah menjadi Netanyahu, yang dalam bahasa Ibrani berarti “Tuhan telah memberi”.
Netanyahu menghabiskan masa remajanya di Cheltenham Township, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia bersekolah di Cheltenham High School dan dikenal aktif dalam berbagai kegiatan seperti klub debat, catur, dan olahraga sepak bola.
Prajurit Pasukan Elit Israel
Setelah lulus sekolah menengah pada 1967, Netanyahu kembali ke Israel dan bergabung dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Ia bertugas di unit pasukan elit Sayeret Matkal dan mencapai pangkat kapten. Selama bertugas, Netanyahu terlibat dalam sejumlah operasi militer penting.
Salah satu operasi terkenal adalah penyelamatan sandera pesawat Sabena Flight 571 pada tahun 1972 yang dibajak di Bandara Tel Aviv. Dalam operasi tersebut, Netanyahu mengalami luka tembak di bahunya.
Ia juga terlibat dalam Perang Yom Kippur tahun 1973 yang mempertemukan Israel dengan negara-negara Arab di Timur Tengah.
Pendidikan di Amerika Serikat
Setelah menyelesaikan dinas militer, Netanyahu kembali ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan.
Ia meraih gelar sarjana dan master di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan fokus pada arsitektur dan manajemen. Netanyahu juga sempat mempelajari ilmu politik di Harvard University.
Karier profesionalnya sempat dimulai di Boston Consulting Group sebelum akhirnya kembali ke Israel setelah kakaknya, Yonatan Netanyahu, tewas dalam operasi militer penyelamatan sandera di Uganda pada 1976.
Peristiwa itu menjadi titik penting yang memengaruhi pandangan politik Netanyahu di masa depan.
Karier Politik dan Menjadi Perdana Menteri
Karier politik Netanyahu mulai menanjak ketika ia ditunjuk sebagai Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat pada 1982. Kemampuan bahasa Inggrisnya yang fasih membuatnya sering tampil di media internasional sebagai juru bicara Israel.
Ia kemudian menjabat sebagai Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1984 hingga 1988.
Pada 1996, Netanyahu mencetak sejarah ketika terpilih sebagai Perdana Menteri Israel pada usia 47 tahun. Ia menjadi salah satu pemimpin termuda yang pernah memimpin negara tersebut.
Sepanjang karier politiknya, Netanyahu dikenal dengan sikap keras terhadap isu keamanan Israel serta kritiknya terhadap berbagai upaya perdamaian dengan Palestina.
Kontroversi Politik dan Kasus Hukum
Meski memiliki pengaruh besar dalam politik Israel, perjalanan Netanyahu juga dipenuhi kontroversi.
Pada 2019, ia didakwa dalam beberapa kasus hukum yang meliputi tuduhan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan. Tuduhan tersebut berkaitan dengan dugaan penerimaan hadiah mewah dari pengusaha serta upaya mendapatkan pemberitaan media yang menguntungkan.
Netanyahu membantah seluruh tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai upaya politik untuk menjatuhkannya.
Meski menghadapi proses hukum, ia tetap menjabat sebagai Perdana Menteri Israel dan bahkan kembali memenangkan pemilu pada 2022.
Kritik Dunia atas Perang Gaza
Konflik terbaru antara Israel dan Hamas yang meletus pada Oktober 2023 semakin memperkuat sorotan terhadap kepemimpinan Netanyahu.
Serangan Hamas ke wilayah Israel menewaskan lebih dari seribu orang dan memicu respons militer besar-besaran dari Israel di Jalur Gaza.
Operasi militer tersebut menyebabkan ribuan korban jiwa di pihak Palestina dan memicu kritik tajam dari komunitas internasional.
Di dalam negeri, Netanyahu juga menghadapi tekanan politik. Ribuan warga Israel melakukan demonstrasi menuntutnya mundur dari jabatan, terutama terkait kebijakan perang dan berbagai kontroversi hukum yang menjeratnya.
Meski demikian, Netanyahu tetap mempertahankan sikap kerasnya dan menegaskan bahwa keamanan Israel menjadi prioritas utama pemerintahannya.
Editor : Edo Trianto