Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Profil Benjamin Netanyahu: Dari Prajurit Pasukan Elit Israel hingga Perdana Menteri Kontroversial di Tengah Perang Gaza

Edo Trianto • Kamis, 12 Maret 2026 | 21:50 WIB

 

Profil Benjamin Netanyahu: Dari Prajurit Pasukan Elit Israel hingga Perdana Menteri Kontroversial di Tengah Perang Gaza
Profil Benjamin Netanyahu: Dari Prajurit Pasukan Elit Israel hingga Perdana Menteri Kontroversial di Tengah Perang Gaza

RADAR TULUNGAGUNG – Profil Benjamin Netanyahu kembali menjadi perhatian dunia setelah konflik Israel dan Hamas memanas sejak serangan 7 Oktober 2023. Sosok Perdana Menteri Israel tersebut dikenal sebagai pemimpin yang keras terhadap Palestina sekaligus salah satu tokoh paling kontroversial dalam politik global.

Nama Benjamin Netanyahu tidak hanya dikenal sebagai pemimpin Israel yang lama berkuasa, tetapi juga sebagai tokoh dengan latar belakang militer elit dan perjalanan hidup yang penuh drama. Dalam konflik terbaru di Jalur Gaza, ia berada di pusat perhatian internasional karena keputusan militernya yang memicu kritik luas akibat tingginya korban sipil.

Di tengah tekanan global dan kecaman dari berbagai pihak, Benjamin Netanyahu tetap mempertahankan sikap tegas terhadap Hamas. Ia menegaskan bahwa operasi militer Israel dilakukan demi menjaga keamanan negaranya dari ancaman kelompok militan.

Lalu, bagaimana sebenarnya perjalanan hidup Benjamin Netanyahu hingga menjadi salah satu pemimpin paling berpengaruh di Timur Tengah?

Latar Belakang Keluarga dan Masa Muda

Benjamin Netanyahu lahir pada 21 Oktober 1949 di Tel Aviv, Israel. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dalam keluarga yang memiliki latar belakang akademis kuat.

Ayahnya, Benzion Netanyahu, dikenal sebagai sejarawan Yahudi terkemuka sekaligus aktivis Zionis. Karena pekerjaan sang ayah, Netanyahu menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Amerika Serikat, tepatnya di kawasan pinggiran kota Philadelphia.

Di Amerika Serikat, Netanyahu dikenal dengan nama panggilan “Ben”. Ia aktif dalam berbagai kegiatan sekolah seperti klub debat dan catur. Meski tumbuh di Amerika, ia dan kakaknya memiliki keinginan kuat untuk mengabdi kepada Israel.

Bergabung dengan Pasukan Elit Sayeret Matkal

Setelah lulus sekolah menengah pada 1967, Benjamin Netanyahu memutuskan kembali ke Israel untuk bergabung dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Ia kemudian diterima di unit elit Sayeret Matkal, salah satu pasukan khusus paling rahasia dan berbahaya di Israel. Unit ini dikenal menangani operasi militer penting seperti penyergapan, penyelamatan sandera, hingga misi intelijen berisiko tinggi.

Selama bertugas, Netanyahu ikut terlibat dalam berbagai operasi militer berbahaya. Dalam salah satu misi pada akhir 1960-an di kawasan Terusan Suez, ia bahkan hampir kehilangan nyawanya setelah terkena tembakan dan jatuh ke air.

Namun ia berhasil diselamatkan oleh rekannya dari unit tersebut.

Terlibat Operasi Penyelamatan Sandera

Karier militernya semakin dikenal ketika ia ikut dalam Operasi Isotope pada tahun 1972. Operasi ini bertujuan menyelamatkan penumpang pesawat Belgia yang dibajak oleh militan Palestina di Israel.

Misi tersebut berhasil menyelamatkan hampir seluruh sandera dari total 90 penumpang. Namun dalam operasi tersebut Netanyahu kembali mengalami luka.

Di unit yang sama, ia juga bertugas bersama tokoh militer Israel lainnya yang kelak menjadi Perdana Menteri, Ehud Barak.

Tragedi Kematian Kakaknya

Salah satu peristiwa yang paling memengaruhi kehidupan Benjamin Netanyahu adalah kematian kakaknya, Jonathan Netanyahu.

Jonathan merupakan komandan pasukan khusus Israel yang tewas pada 1976 dalam operasi penyelamatan sandera di Entebbe, Uganda. Operasi tersebut berhasil membebaskan lebih dari 100 sandera dari pesawat yang dibajak.

Kematian kakaknya menjadikan Jonathan sebagai pahlawan nasional Israel. Peristiwa tersebut juga memperkuat pandangan Netanyahu tentang pentingnya perang melawan terorisme.

Sebagai bentuk penghormatan, Netanyahu kemudian mendirikan Institut Jonathan yang fokus pada kegiatan internasional terkait penanggulangan terorisme.

Pendidikan dan Awal Karier Politik

Selain berkarier di militer, Netanyahu juga memiliki latar belakang akademis yang kuat. Ia menempuh pendidikan di Amerika Serikat dan meraih gelar master di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Ia juga sempat menempuh pendidikan di Harvard University dalam bidang ilmu politik.

Karier diplomatiknya dimulai pada awal 1980-an ketika ia menjadi wakil kepala misi Israel di Washington. Kemampuan bahasa Inggrisnya yang fasih membuatnya sering tampil di media Amerika untuk membela kebijakan Israel.

Pada 1984, ia diangkat sebagai perwakilan Israel di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Karier politiknya semakin berkembang ketika ia kembali ke Israel dan terpilih sebagai anggota parlemen dari Partai Likud pada 1988.

Baca Juga: Pasar Ramadan Jogokariyan Yogyakarta Resmi Dibuka, Panjang Hampir 2 Km dengan 200 Lebih Lapak dan Ribuan Takjil Gratis

Perdana Menteri Israel yang Kontroversial

Sejak saat itu, karier politik Benjamin Netanyahu terus menanjak. Ia beberapa kali menjabat sebagai Perdana Menteri Israel dan menjadi salah satu pemimpin dengan masa jabatan terlama dalam sejarah negara tersebut.

Namun kepemimpinannya juga penuh kontroversi. Netanyahu sering dikritik karena kebijakan keras terhadap Palestina, termasuk pembangunan permukiman Israel di wilayah Tepi Barat.

Ia juga menghadapi berbagai tuduhan hukum terkait dugaan suap dan penipuan yang sempat memicu perdebatan politik di dalam negeri.

Meski begitu, Netanyahu tetap memiliki basis pendukung kuat di Israel yang menilai dirinya sebagai pemimpin yang mampu menjaga keamanan negara.

Peran Sentral dalam Konflik Gaza

Dalam konflik terbaru yang pecah setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Benjamin Netanyahu kembali berada di garis depan keputusan militer Israel.

Serangan Hamas yang menewaskan lebih dari seribu warga Israel memicu respons militer besar-besaran dari Israel di Jalur Gaza.

Operasi tersebut menimbulkan kritik internasional karena banyaknya korban sipil Palestina. Namun Netanyahu menegaskan bahwa Israel harus mempertahankan diri dari ancaman terorisme.

Di tengah dukungan dan kecaman yang terus berdatangan, sosok Benjamin Netanyahu tetap menjadi figur sentral dalam dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah.

Editor : Edo Trianto
#perdana menteri israel #benjamin netanyahu #Profil Benjamin Netanyahu #Perang Gaza #konflik israel hamas